Bahagia Itu Memberi

Oleh

1.Ir.H.Taryono,M.Si ( Dosen Fakultas Geografi UMS )

2.Dra.Suyatinah,M.Pd ( Guru Geografi SMAN 1 Banguntapan, Bantul,Yogyakarta )

3.Drs.H.Priyono,M.Si ( Dosen  Fakultas Geografi UMS  dan Kolumnis Koran Radar Solo dan Pasundan Ekspres)

Ada tiga masa kehidupan bagi manusia yang akan dijalani, yaitu hidup di dunia, kemudian kehidupan saat mati dan hidup di akherat setelah dibangkitkan dari kematian atau hidup dalam keabadian. Firman Allah swt tersebut diabadikan dalam al Qur’an Surah Al A’raf ayat 25 yang berbunyi :  (Allah berfirman) berfirman , “ Di sana kamu hidup, di sana kamu mati, dan dari sana  (pula) kamu akan dibangkitkan. “. Kita tentu ingin meraih kebahagiaan pada tiga masa tersebut tanpa kecuali, maka Rosul bersabda bahwa orang yang cerdik adalah orang yang selalu mengingat kematian kemudian mempersiapkannya. Mencari bekal kehidupan di akherat hanyalah ketika di dunia dan setelah mati maka putuslah segala amalannya kecuali tiga hal yaitu amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh. Bumi telah dibentangkan oleh Allah untuk kebutuhan hidup makhluknya, namun Allah juga tahu bahwa banyak dari manusia tidak mensyukuri nikmat tersebut, ini terbukti dengan sindiran Allah yang disampaikan dalam Surah Ar-Rahman yang diulang sampai 31 kali. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ?

Setiap manusia pasti ingin hidup bahagia, tidak hanya bahagia lahir, namun juga bahagia batin, bahkan bahagia dunia- akherat. Itu yang menjadi tujuan hidup yang sebenarnya. Agar dua bentuk kebahagiaan tersebut dapat kita raih bersama, maka hidup kita harus seimbang antara orientasi dunia dan akherat. Kebahagiaan hidup tidak bisa hanya diukur dari kekayaan harta, kedudukan atau jabatan yang tinggi, rumah mewah, dan lain- lain atribut duniawi. Banyak orang yang secara lahiriyah bahagia, namun belum tentu batinnya bahagia. Kita bisa belajar dari pengalaman hidup Kyrzayda Rodriguez seorang perancang busana dan penulis terkenal di dunia, memiliki segalanya : rumah mewah, mobil mahal, jet pribadi, rekening di bank dalam jumlah banyak, ketenaran, namun dalam tulisannya sebelum meninggal dunia akibat penyakit kanker yang dideritanya, menyatakan bahwa semua yang dimilikinya itu tidak bermanfaat. Kehidupan yang sebenarnya adalah tentang bagaimana bisa memberikan manfaat yang banyak bagi orang lain. Kita bisa memahami pernyataannya, karena jika kita bisa memberikan manfaat kepada orang lain, kita akan merasakan bahagia. Kita bisa melihat orang lain yang lepas dari kesedihannya akibat bantuan kita, kita akan merasakan bahagia.

BACA JUGA:  Melawan Faham Radikalisme di Kalangan Mahasiswa

Banyak hal yang dapat membuat kita bisa bermanfaat bagi orang lain, bahkan bermanfaat bagi makhluk selain manusia sekalipun, tergantung siapa kita dan bagaimana besar peran kita dalam masyarakat. Seorang Presiden, Menteri, Gubernur, Bupati, Guru, Ibu Rumah Tangga, dan lain- lain, semuanya memiliki peran dan manfaat masing- masing.  Semakin tinggi pengaruhnya, semakin besar tanggung jawabnya untuk bisa bermanfaat bagi orang lain. Seorang Presiden misalnya, memiliki tanggung jawab yang besar bagi kesejahteraan rakyatnya, bahkan bisa berperan bagi bangsa lain di dunia. Contoh lain :  seorang guru, bisa menyayangi murid- muridnya, mampu mendidik muridnya dengan perilaku yang baik, mampu mentransfer ilmu sehingga siswanya memahami apa yang kita sampaikan, hal- hal seperti itu pastilah membuat seorang guru menemukan sebuah kebahagiaan. Secara duniawi, mereka akan memperoleh gaji yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Jika itu semua diterima dengan rasa syukur, kebahagiaan lahir batin pasti akan diraih. Sosok Ibu Rumah Tangga, manfaatnya sangat luar biasa, mengurus anak- anak dan suaminya bukan pekerjaan yang ringan. Bahkan dari bangun tidur, sampai mau tidur lagi, serasa pekerjaan gak ada habisnya. Meskipun tidak menerima gaji, namun manakala kondisi keluarganya sehat, anaknya nurut- nurut, suaminya setia, keluarganya harmonis menjadikan kebahagian tersendiri bagi seorang ibu. Hal itu menunjukkan terwujudnya nilai kemanfaatan seorang ibu.