Banjir Bukan Takdir

Oleh: Fauzan Muhammad Rafi & Arif Jauhari
Mahasiswa dan Dosen F. Geografi UMS, Anggota KMPA Giri Bahama

Beberapa hal yang selalu mengelitik dan menjadi pertanyaan penulis salah satunya adalah “apa yang tidak dapat dikurangi sedikitpun dari bumi ini? Air, ya… air!
Air adalah benda yang sama sekali tidak dapat dikurangi sedikitpun dari bumi ini, bagaimanapun usaha kita untuk mengurangi air, baik menguapkan, membekukan, bahkan meminumnya air akan selalu kembali menjadi, air hanya akan berubah wujud kebendaannya.

Air laut atau tubuh air yang ada di bumi akan mengalami evaporasi atau penguapan dan air yang ada pada tumbuh-tumbuhan akan mengalami transpirasi, uap air akan mengalami kondensasi kemudian menjadi awan, awan akan mengalami presipitasi yang lebih sering kita kenal dengan sebutan hujan, selanjutnya air-air ini ada yang meresap ke dalam tanah, tertahan pada tumbuhan atau tanah, terkumpul di sungai atau danau, atau mengalir ke laut, proses ini akan terulang secara terus-menerus. Begitulah siklus air, dapat kita ibaratkan sebagai satu lingkaran sempurna yang tidak akan bisa diputuskan.

“Sama seperti tanah, angin, maupun api, air yang cukup akan menjadi teman dan air yang terlampau banyak akan mengancam”.

Berkaitan dengan siklus air dibumi, atau biasa kita sebut dengan siklus hidrologi, banjir merupakan salah satu ancaman nyata dari air yang terlalu banyak jumlahnya. Bencana banjir yang tercatat oleh BNPB dalam kurun waktu 1 Januari – 30 Agustus 2020 saja ada 726 bencana banjir. Banjir seperti sudah menjadi langganan tiap tahun masyarakat di banyak titik di Indonesia. Paling anyar ialah bencana banjir yang terjadi di daerah Kabupaten Pati dan Kabupaten Kudus, banjir yang terjadi disana sangat merugikan para petani, sekitar 5000 hektar lahan garapan petani dengan nilai produksi sekitar 40.000 ton gabah dan kerugian biaya produksi diperkirakan mencapai 45 miliyar rupiah tergenang akibat banjir terebut.

Jumlah kerugian itu mungkin ternilai sedikit dimata para pejabat-pejabat ataupun pengusaha-pengusaha negeri ini, tapi itu sudah merupakan jumlah yang teramat besar untuk mereka, untuk pahlawan pangan: untuk petani.

Maraknya alih fungsi lahan, ditengarai oleh masyarakat sekitar sebagai pemercepat terjadinya banjir, salah satunya adalah pertambangan di bagian atas atau daerah hulu. Kearifan lokal masyarakat, dalam bersikap terhadap penggunaan lahan terutama masyarakat Kendeng Utara akhirnya menjadikan suatu aksi keprihatin. Banyak seruan aksi warga di wilayah pegunungan Kendeng Utara yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK):

“banjir bukan takdir”,
“jangan salahkan curah hujan tinggi”
“batalkan rencana pembangunan pabrik semen di pegunungan kendeng”

Masyarakat menyuarakan bahwa banjir bukan serta-merta karena takdir maupun akibat dari curah hujan yang tinggi, namun karena ulah manusia yang tidak menjaga keseimbangan maupun kelestarian alam, bumi ini.

Oknum-oknum itu ialah manusia yang tidak pernah memperhitungkan rezeki generasi-generasi selanjutnya, mereka terlampau rakus, pikirannya hanya bagaimana caranya bisa mengisi perut-perut lapar mereka, dompet-dompet pribadi, atau untuk mengusahakan kehidupan mewah dan megah mereka. Gunung-gunung diratakan untuk pertambangan, hutan-hutan dialih gunakan untuk perkebunan, serta pembangunan-pembangunan yang tidak terlalu perlu dengan mengatas namakan rakyat.

Tinjauan dari sisi ilmu manajemen bencana tentang seruan keprihatinan masyarakat kendang utara sangat menarik untuk dikaji. Keberadaan air di bumi ini, siklus hidrologi merupakan suatu suatu kepastian. Air akan menjadi kawan atau lawan berupa ancaman bahaya kiranya dapat dimitigasikan. Kesungguhan untuk memajemen risiko bencana dengan cara mengelola kerentanan dan peningkatan kapasitas pemerintahan dan komunitas.

Menurut organisasi Forest Watch Indonesia pada tanggal 17 Agustus 2020 lalu, tepat 75 tahun negara ini merdeka, Indonesia telah kehilangan hutan (deforestasi) seluas lebih dari 23 juta hektar hutan atau setara dengan tujuh puluh lima kali luas priovinsi Yogyakarta.

Deforestasi disini dapat terjadi karena berbagai penyebab, seperti kebakaran hutan (pembakaran juga bisa), pembukaan lahan untuk perkebunan, pemukiman, atau pertambangan. Padahal hutan merupakan aset negara yang sangat penting untuk keberlangsungan kehidupan generasi mendatang, Indonesia sendiri dikenal dengan hutannya yang sangat luas hingga mendapat julukan salah satu negara sebagai paru-paru dunia, selain menghasilkan oksigen hutan juga berperan penting sebagai penahan air hujan agar tidak mengenai tanah secara langsung, dengan demikian erosi yang ditimbulkan oleh air hujan dapat dikurangi serta menjadi penampung air sementara agar air hujan tidak langsung menuju hilir dengan cepat.

Pegunungan kapur atau yang dapat disebut kawasan karst seperti yang ada di Pegunungan Kendeng Utara merupakan salah satu “tandon raksasa air bawah tanah”. Uniknya, Kawasan karst ini kelihatan kering dipermukaan, tetapi sebenarnya merupakan daerah yang sangat potensial dalam fungsinya untuk menahan air hujan dan secara alami mengeluarkannya sebagai mataair ataupun sungai dari dalam gua. Artinya, kawasan karst memegang peran yang sangat tinggi untuk tata kelola air alami suatu kawasan. Fungsi kawasan karst yang vital ini dapat hilang akibat pertambangan batugamping yang merusak permukaan karst sebagai daerah tangkapan hujan dan berganti menjadi agen pemercepat air permukaan menuju kawasan hilir, dan ini berarti meningkatkan potensi banjir.

Pengelolaan tata ruang berbasis mitigasi bencana saat ini merupakan suatu keharusan seperti yang diamanatkan dalam undang-undang No 26 tahun 2007 Tentang Pengelolaan Ruang. Alih fungsi lahan dan peruntukan lahan yang tidak sesuai merupakan salah satu investasi bencana, padahal mestinya kita berinvestasi untuk pengurangan risiko bencana. Hulu misalnya di Pegunungan Kendeng dan Gunung Muria, kegiatan penambangan dan penggundulan hutan masih marak terjadi. Ketika hujan terjadi, tidak ada penahan sementara berupa hutan maupun kawasan karst yang akan menahan air dan meloloskannya ke dalam tanah sehingga sebagian besar air akan terakumulasi ke sungai, dan sungai mempunyai kapasitas tampungan masing-masing dan apabila kapasitas terlampaui, terjadilah banjir.

Selain alih guna lahan yang tidak sesuai, ada hal yang sangat perlu diulas lebih dalam, ialah “hutang terhadap air”. Sudah disebutkan sebelumnya, bahwa siklus hidrologi adalah seperti lingkaran sempurna yang berlangsung terus-menerus dan tidak bisa diputuskan.

Air harus menguap, baik air yang ada di laut, danau, sungai maupun yang ada di tanaman, uap-uap air harus mengalami kondensasi dan menjadi awan, awan harus mengalami presipitasi (hujan), air yang jatuh ke bumi sebagian akan mengalami infiltrasi (meresap ke dalam tanah) sebagian lagi akan mengalir mencari tempat yang lebih rendah yaitu kembali ke laut, ini merupakan suatu keharusan, sunnatullah.

Namun manusia sering tidak memperhatikan suatu keharusan ini dengan tidak memberikan ruang untuk air agar dapat meresap ke dalam tanah. Rumah-rumah, gedung-gedung, dan bangunan-bangunan lainnya milik manusia hampir seluruhnya hanya membuatkan jalan air untuk mengalir ke selokan, selokan ke sungai, sungai ke laut. Padahal kondisi ini pastinya akan memendekkan waktu air mengalir dan memperbesar beban daerah bawahnya menampung volume air. Membangun suatu bangunan, artinya manusia mempunyai hutang pada air untuk masuk dan meresap ke dalam tanah. Hal yang terlihat sepele seperti inilah yang sering manusia lupakan, bahwasanya ada hak air yang meresap ke dalam tanah dan nantinya secara alami dan perlahan keluar menjadi mataair atau mengisi akifer di dalam tanah.

Sumur resapan dan biopori adalah salah satu rekayasa teknik konservasi air dengan cara membuat lubang menyerupai sumur dengan kedalaman tertentu untuk menampung air hujan yang jatuh dari atas atap maupun daerah kedap air di sekitarnya dan meresapkannya ke dalam tanah. Bila satu dua bangunan menerapkannya mungkin tidak akan berdampak, namun bila seluruh bangunan baik rumah, kantor, sekolah, jalan ataupun semua bangunan yang telah menutupi tanah untuk air meresap membuat sumur resapan atau biopori mungkin volume air ketika banjir terjadi dapat dikurangi.

Melakukan satu pencegahan seperti sumur resapan tidaklah cukup untuk mengatasi banjir sepenuhnya, harus ada langkah-langkah konservatif lainnya yang perlu dilakukan, seperti merawat hulu dan menjaga hilir, melakukan reboisasi di lahan yang kosong, mengurangi penumpukan sampah dengan menggunakan barang yang tidak sekali pakai serta menerapkan prinsip 3R (Reuse, Recycle, Reduce), melakukan perencanaan yang berkaitan dengan penggunaan lahan dengan lebih bijak, menjaga kelestarian bukit-bukit kapur di kawasan karst, menjaga kestabilan iklim, menjaga hutan. Inti dari seluruh upaya dalam mencegah terjadinya banjir akan terpusat pada satu tujuan jelas: Melestarikan alam, melakukan segala sesuatu hal dengan lebih bijaksana, hati-hati dan pertimbangan keilmuan yang holistik dan akhirnya hidup dengan harmoni alam untuk pembangunan berkelanjutan dan demi keberlangsungan generasi selanjutnya kiranya patut diterapkan.
Salam Lestari!