Blended Learning sebagai Metode Pembelajaran di Era New Normal

Oleh : Yulia Enshanty

(Guru Geografi SMAN 1 Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat)

Penyebaran virus covid-19 yang semakin meluas membuat pemerintah memberlakukan sejumlah kebijakan untuk menekan laju penyebaran virus ini. Dunia pendidikanpun turut mersakanan kebijakan yang diberlakukan pemerintah. Dengan adanya larangan mengumpulkan massa, secara otomatis membuat sejumlah sekolah di sebagian besar wilayah, terutama di zona merah covid-19, tidak diperkenankan untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran secara tatap muka di sekolah.

Pembelajaran tatap muka terpaksa dialihkan menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan berbasis daring. Peserta didik belajar di rumah masing-masing dengan menggunakan smartphone ataupun komputer yang terkoneksi dengan internet. Peserta didik dan guru hanya dapat bertatap muka secara virtual melalui aplikasi.

Kebijakan PJJ ini mulai diterapkan pada akhir maret 2020, hingga awal tahun ajaran 2020/2021 sampai sekarang masih diberlakukan. Rentang waktu pembelajaran dari rumah ini sudah cukup lama. Meskipun pembelajaran secara daring menunjukkan adanya dampak positif, seperti meningkatnya literasi digital baik pada guru maupun peserta didik. Akan tetapi, terlalu lama tidak melakukan pembelajaran tatap muka juga akan berdampak negatif bagi anak didik. Sejatinya anak didik tetap membutuhkan kehadiran guru secara nyata, bukan hanya melalui dunia maya. Anak-anak juga membutuhkan interaksi dengan lingkungan sosialnya sebagai bagian dari proses pendewasaan. Terlebih penggunaan smartphone dalam durasi yang cukup lama setiap hari juga akan berdampak buruk pada kesehatan anak didik.

Dengan berbagai pertimbangan mengenai serba-serbi PJJ, akhirnya pada akhir november 2020, pemerintah mengumumkan kebijakan mengenai akan dibukanya kembali sekolah untuk pembelajaran tatap muka. Kebijakan pembelajaran tatap muka ini merupakan keputusan bersama dari 4 menteri, yaitu Menteri Kesehatan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, serta Menteri Dalam Negeri. Pembelajaran tatap muka ini akan mulai dilakukan pada bulan januari, sebagai awal pembelajaran semester genap tahun ajaran 2020/2021.

Menteri pendidikan mengatakan bahwa pemerintah daerah telah diberikan kewenangan untuk memberikan izin pembelajaran tatap muka di sekolah-sekolah yang berada di daerahnya masing-masing. Pemerintah daerah dan sekolah yang ingin melakukan pembelajaran tatap muka harus meningkatkan kesiapan sarana dan prasarana untuk mendukung pembelajaran dengan memperhatikan protokol kesehatan yang ketat. Akan tetapi, meskipun sekolah atau daerahnya telah memutuskan untuk membuka kembali kegiatan belajar secara tatap muka, setiap orang tua memilik hak untuk menentukan apakah anaknya diperbolehkan untuk ikut masuk sekolah atau tidak. Jika tidak memberikan ijin, maka pembelajaran anaknya tetap dilanjutkan dengan belajar dari rumah.

Pembelajaran tatap muka yang akan mulai kembali dilakukan di satuan pendidikan ini tidak seperti pembelajaran normal yang semestinya, karena masih di masa pandemi, jadi tetap mengacu pada protokol kesehatan. Untuk mengurangi terjadinya kerumunan massa, dan mengurangi resiko penyebaran virus covid-19, dilakukan pembatasan terhadap jumlah peserta didik yang mengikuti pembelajaran tatap muka di sekolah. Jumlah peserta didik yang hadir di sekolah yang diperkenankan adalah setengah dari jumlah peserta didik di satuan pendidikan tersebut. Dengan demikian, ketika setengah dari peserta didik hadir untuk mengikuti pembelajaran tatap muka di sekolah, setengah lainnya tetap melakukan pembelajaran dari rumah.

Menyikapi pembelajaran yang akan diterapkan di era new normal, penggunaan metode blended learning adalah salah satu pilihan yang dapat diterapkan. Secara ketatabahasaan, blended learning terdiri dari dua kata yaitu, blended dan learning. Blended berarti “campuran, bersama untuk meningkatkan kualitas agar bertambah baik”. Sementara itu learning berasal dari learn yang artinya “belajar”.

Jika digabungkan, blended learning dapat diartikan sebagai campuran atau kombinasi dari pola pembelajaran satu dengan yang lainnya. Blended learning secara sederhana dapat diartikan pembelajaran yang mengkombinasi strategi penyampaikan pembelajaran menggunakan kegiatan tatap muka, pembelajaran berbasis komputer (offline), dan komputer secara online (berbasis internet). Dalam blended learning, pembelajaran tradisonal tatap muka diintegrasikan dengan pembelajaran jarak jauh yang menggunakan sumber belajar online dan beragam pilihan komunikasi yang dapat digunakan oleh guru dan peserta didik.

Dalam pembelajaran di era new normal, blended learning ini dapat memperkuat penyampaian materi melalui pengembangan teknologi pendidikan dan penguatan oleh guru secara langsung di dalam kelas. Guru melakukan pembelajaran tatap muka dengan melibatkan kegiatan peserta didik yang memanfaatkan bahan-bahan dan materi yang tersedia di internet misalnya video, film, animasi, game dan sebagainya. Kegiatan peserta didik dan guru melakukan akses internet dilakukan misalnya ketika berdiskusi, peserta didik dapat mencari bahan-bahan di internet kemudian mempresentasikannya di kelas.

Karena waktu pembelajaran di era new normal juga tidak seperti pada waktu pembelajaran normal, maka emberian tugas dapat dilakukan dengan memanfaatkan internet, ketika dilakukan pembelajaran tatap muka, hanya tinggal berdiskusi kemudian memberikan umpan balik terhadap tugas yang dikerjakan siswa.

Peserta didik didorong untuk dapat memahami materi dengan lebih baik dan lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran, baik itu ketika pembelajaran berlangsung online maupun ketika tatap muka di kelas. Dalam blended learning, peserta didik juga dididik untuk mampu belajar mandiri dan tidak bergantung pada guru. Guru hanya berperan sebagai fasilitator, peserta didik dibimbing untuk memanfaatkan sumber belajar online yang banyak terdapat di internet. Adanya kegiatan tatap muka disamping pembelajaran online akan menciptakan terjalinnya komunikasi dua arah yang sempurna, sehingga penerimaan materi dalam bentuk digital akan menjadi lebih efektif.

Dengan penerapan blended learning, pembelajaran di era new normal akan lebih efektif dan tentunya akan mengurangi kejenuhan peserta didik yang telah lebih dari enam bulan berjibaku dengan PJJ. Kelas tatap muka dapat digunakan untuk melibatkan peserta didik dalam pengalaman interaktif. Sedangkan kelas online memberikan pembelajaran bagi peserta didik dengan konten multimedia yang kaya akan pengetahuan yang dapat diakses setiap saat, dan di mana saja selama memiliki akses internet. Peserta didik baik itu yang melakukan pembelajaran tatap muka di sekolah ataupun yang belajar dari rumah akan tetap sama-sama memperoleh pengalaman belajar yang sama. (*)