Bolehkah Kaum Muslimin Merayakan Tahun Baru Masehi?

Oleh : Lilis Iyan Nuryanti, S.Pd

Waktu begitu cepat berlalu, Tahun 2020 telah berakhir dan Tahun 2021 telah hadir. Pergantian tahun baru ini membuat Polres Sumedang, Jawa Barat menutup sejumlah ruas jalan menjelang malam pergantian tahun.

Ruas jalan yang ditutup meliputi, jalan menuju Kampung Cisoka, Kampung Toga, Alun-alun Sumedang, dan jalur Jalan Lingkar Timur Waduk Jatigede.

“Penutupan dilakukan agar pada malam tahun baru nanti tidak terjadi kerumunan,” ujar Kapolres Sumedang AKBP Eko Prasetyo Robbyanto kepada Kompas.com, Kamis (31/12/2020).

Pemkab Sumedang pun menutup sementara seluruh objek wisata di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, selama libur Tahun Baru 2021. Penutupan objek wisata ini berlaku hingga 3 Januari 2020.

Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir mengatakan, selain menutup objek wisata, jam operasional tempat usaha juga akan dibatasi. Tempat usaha yang dibatasi tersebut terdiri dari warung nasi, rumah makan, restoran, supermarket, dan minimarket.

“Untuk tempat wisata tutup total, untuk tempat usaha dibatasi jam operasionalnya hanya sampai pukul 20.00 WIB,” ujar Dony kepada Kompas.com di Gedung Negara, Sumedang, Selasa (29/12/2020).

Dony menuturkan, penutupan objek wisata dan pembatasan operasional tempat usaha ini menindaklanjuti terus bertambahnya kasus Covid-19 di seluruh wilayah Kabupaten Sumedang.

Di mana, saat ini, angka kasus Covid-19 di Kabupaten Sumedang mencapai 924 orang, dengan kasus pasien aktif sebanyak 98 orang.

Perayaan tahun baru masehi adalah kebiasaan dari banyak orang di berbagai belahan dunia. Tidak terkecuali di Indonesia. Penanggalan masehi menjadi patokan waktu bergantinya hari dan bulan.

Perayaan tahun baru Masehi bukan hari raya umat Islam, melainkan hari raya kaum kafir, khususnya kaum Nashrani. Penetapan 1 Januari sebagai tahun baru yang awalnya diresmikan Kaisar Romawi Julius Caesar (tahun 46 SM), diresmikan ulang oleh pemimpin tertinggi Katolik, yaitu Paus Gregorius XII tahun 1582. Penetapan ini kemudian diadopsi oleh hampir seluruh negara Eropa Barat yang Kristen sebelum mereka mengadopsi kalender Gregorian tahun 1752. (www.en.wikipedia.org; www.history.com)

Bentuk perayaannya di Barat bermacam-macam, baik berupa ibadah seperti layanan ibadah di gereja (church servives), maupun aktivitas non-ibadah, seperti parade/karnaval, menikmati berbagai hiburan, berolahraga, menikmati makanan tradisional, berkumpul dengan keluarga (family time), dan lain-lain. (www.en.wikipedia.org)

Namun hari ini, penanggalan secara umum tidak hanya dari kalender masehi. Ada penanggalan hijriah yang berasal dari islam dan juga memberikan sumbangsih tersendiri dalam metode penetapan waktu, hari, bulan, dsb. Tentu saja akhirnya ada juga yang dinamakan Tahun Baru Hijriah atau Tahun Baru Islam yang ditandai saat Rasul Hijrah dari Mekkah ke Madinah.

Persoalan kemudian bukan hanya pada aspek adanya penanggalan ini saja, melainkan juga pada budaya dan kebiasaan. Penanggalan masehi pada sebagian orang islam dianggap tidak sesuai dengan islam. Namun, dilemanya pada banyak orang di belahan dunia manapun menggunakan penanggalan ini sebagai patokannya. Begitupun perusahaan, dalam berbisnis, proses evaluasi dan tutup buku. Selalu berdasarkan pada penanggalan Masehi.

Lantas bagaimanakah jika tahun baru masehi ini menjadi patokan umat islam dalam keseharian. Dan bagaimanakah hukum merayakan tahun baru masehi dalam islam? Untuk menjawab lebih jelas mengenai masalah tersebut, tentu diperlukan pendekatan yang lebih integral melalui ayat-hadist dan dasar-dasar hukum islam yang lainnya.

Apalagi jika di dalamnya terdapat unsur unsur hedonisme, hura-hura atau berfoya-foya. Perayaan tahun baru ini ada dasarnya adalah bukan hari raya umat islam melainkan perayaan dari para orang-orang non muslim khususnya kaum nasrani.

Dalil keharamannya ada 2 (dua); Pertama, dalil umum yang mengharamkan kaum Muslimin menyerupai kaum kafir (tasyabbuh bi al kuffaar). Kedua, dalil khusus yang mengharamkan kaum Muslimin merayakan hari raya kaum kafir (tasyabbuh bi al kuffaar fi a’yaadihim).

Dalil umum yang mengharamkan menyerupai kaum kafir antara lain firman Allah SWT yang artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad) ‘Raa’ina’ tetapi katakanlah ‘Unzhurna’ dan ‘dengarlah’. Dan bagi orang-orang kafir siksaan yang pedih.” (QS Al Baqarah : 104).

Ayat ini ditafsirkan oleh Imam Ibnu Katsir bahwa Allah melarang orang-orang yang beriman untuk menyerupai orang-orang kafir dalam ucapan maupun perbuatan. Orang yahudi sering menggunakan kata ru’uunah yang memiliki arti bodoh sekali sebagai ejekan kepada Rasulullah SAW. Padahal maksudnya adalah raa’ina yang artinya perhatikanlah kami. Penafsiran ini berasal dari Tafsir Ibnu Katsir.

Selain itu, terdapat juga dalam ayat lain yang menerangkan hal serupa, yaitu:

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu” (QS Al Baqarah : 120)

Hal ini menjelaskan bahwa orang-orang Yahudi akan berbuat apapun hingga umat islam mau mengikuti mereka. Sedangkan, mereka selalu dalam keadaan sesat dan memberikan ejekan bagi umat islam. Jika umat islam mengikutinya dan berbuat hal yang sama seperti mereka, tentu Allah sangat membencinya.

Di dalam hadist, Rasulullah juga memberikan peringatan kepada umat islam. Hal ini diantaranya adalah dari hadist berikut, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR Ahmad dan Abu Daud). Hal ini dijelaskan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani bahwa hadist ini tergolong pada hadist hasan.

Larangan merayakan tahun baru dan dalilnya, menjadi penerang kembali bahwa umat islam dilarang untuk mengikuti dan melakukan hal-hal yang sebagaimana tradisi kaum kafir. Apalagi jika aktivitas atau tradisi tersebut mengandung unsur ibadah dan pemujaan, atau mensakralkan aspek tertentu pada agama mereka. Maka hal ini yang membuat ulama melarang untuk umat islam melakukan perayaan tahun baru masehi yang bukan merupakan hari raya atau tahun baru dari ajaran islam.

Larangan merayakan tahun baru masehi juga para ulama mendasarkannya pada hadist yang ada berikut. ”Rasulullah SAW datang ke kota Madinah, sedang mereka (umat Islam) mempunyai dua hari yang mereka gunakan untuk bermain-main. Rasulullah SAW bertanya,’Apakah dua hari ini?’ Mereka menjawab,’Dahulu kami bermain-main pada dua hari itu pada masa Jahiliyyah.’ Rasulullah SAW bersabda,’Sesungguhnya Allah telah mengganti dua hari itu dengan yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR Abu Dawud)

Hadist ini jelas bagi ulama adalah pelarangan umat islam untuk merayakan hari raya orang kafir termasuk tahun baru masehi yang bukan berasal dari tradisi islam. Untuk itu termasuk aktivitas di dalamnya yang menyerupai kaum kafir, seperti meniup terompet, menyalakan kembang api, melakukan pesta, hiburan, dsb adalah haram karena termasuk pada yang menyerupai kaum kafir.

Bagaimanapun tahun baru islam tetaplah tahun baru hijriah. Hal ini ditandai dengan hijrahnya Rasulullah dari Mekkah ke Madinah. Peristiwa ini mengandung sejarah dan makna terdalam untuk itu, hikmah dan evaluasi ini adalah lebih baik dibanding hanya sekedar tahun baru masehi yang umat islam pun tidak dapat menghayati bagaimana sejarahnya.

Semoga hal ini menjadikan kita semakin menjauhi kemusyrikan dan tetap menjalankan perbuatan yang Allah SWT ridhoi. Wallaahu a’lam bish-shawabi.