Cara Hilangkan Trauma pada Anak Korban Bencana

Oleh : War Yati
(Warga Sumedang)

Bencana longsor yang terjadi di Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat pada Sabtu 9 Januari 2021 lalu, menyisakan duka mendalam bagi anak-anak korban bencana.

Selain kehilangan tempat tinggal, anak-anak itu pun kehilangan orang tua. Tak ada bahu tempat bersandar tuk mengadu segala keluh kesah yang mereka rasakan. Tak ada pula orang yang selalu mereka pintai uang tuk sekadar jajan di warung. Duka itu bertambah pekat tatkala membayangkan kehidupan ke depan tanpa didampingi orang yang mereka sayangi.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Bencana longsor di Cihanjuang menyisakan derita pilu bagi sanak saudara yang ditinggalkan. Selain banyak menelan korban jiwa, puluhan rumah rusak parah akibat longsoran tanah dan menimbun rumah-rumah penduduk.

Setiap terjadi bencana seringkali menimbulkan dampak negatif bagi anak-anak. Biasanya akan muncul perasaan gelisah, takut, tiba-tiba menangis, ingin selalu memeluk orang terdekat, dan masih banyak lagi. Gejala ini timbul akibat memori yang mendorong pikiran mereka mengingat kejadian buruk yang dialami. Tak sedikit anak korban bencana mengalami trauma berkepanjangan apabila tidak segera ditangani dengan baik.

Dalam rangka memulihkan trauma yang dialami anak-anak korban longsor Cimanggung, Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang berencana melakukan trauma healing di lokasi longsor. Trauma healing ini bertujuan tuk mengurangi gangguan psikologis yang sedang dialami anak-anak pasca bencana.

Pendekatan yang ditempuh dalam trauma healing bisa dilakukan dengan metode penyuluhan, terapi bermain (play therapy) atau self motivation yang sarat akan muatan edukasi.

Adapun penyembuhan trauma terhadap anak pasca bencana, diperlukan proses yang berkesinambungan. Guna mengalihkan perhatian mereka dari kejadian yang menoreh luka di hati anak. Agar anak dapat benar-benar melupakan kejadian yang dialami. Juga harus ada kerja sama antara orang tua dan masyarakat setempat dengan dinas terkait agar bisa memantau perkembangan anak pasca diberikannya trauma healing.

Yang tak kalah penting, pahamkan juga kepada anak bahwa kejadian yang mereka alami merupakan qadha dari Allah. Mengaitkan setiap musibah dengan kekuasaan Pencipta adalah suatu keharusan. Agar tumbuh pada hati anak keikhlasan dan keridhaan menerima apa pun yang menimpa mereka.

Dengan adanya trauma healing, semoga anak-anak dapat melanjutkan hidupnya tanpa bayang-bayang musibah tersebut. Pasca trauma healing diharapkan anak bisa ceria kembali dan menjalani hidup seperti kebanyakan anak-anak lain. Mereka pun mampu menatap masa depan dengan penuh optimisme.

Wallahua’lam bishshawwab