Dilema Salat Jamaah saat Pandemi Covid-19

oleh :
1.Hendri Lune, S.Pd (SMAN 2 Gorontalo Utara)
2.Drs.Priyono,MSi (Dosen dan Wakil Dekan I Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta)

Bagi bangsa Indonesia, Ramadhan bukan hanya urusan agama atau syariah, tetapi sudah berubah wujud menjadi urusan tradisi yang sulit dipisahkan dari lifestyle dan mentalitas bangsa.

Tradisi bulan Ramadhan ini sudah sangat melekat sedemikian rupa, sehingga menjadi indikasi betapa lekatnya agama Islam ini terhadap pola hidup dan gaya kehidupan bangsa Indonesia. Keliru besar kalau dikatakan bahwa agama Islam hanya sekedar pendatang baru di nusantara ini. Pengaruh agama Islam boleh dibilang sangat lekat dan tidak pernah bisa digantikan oleh nilai mana pun.

Namun di balik kemeriahan dan gegap gempita tradisi Ramadhan dari bangsa ini, kadang timbul juga kritik yang menelaah sejauhmana tradisi ini masih kuat berpijak pada syariat Islam yang asli sebagaimana disebutkan di dalam Al-Quran Al-Kariem dan As-Sunnah An-Nabawiyah.

Dari sebagian tradisi itu, ada yang memang masih original tanpa mengalami penyimpangan yang berarti, tetapi juga tidak sedikit yang telah mengalami penyimpangan. Dalam hal ini kita bisa membagi hubungan tradisi masyarakat terhadap kemeriahan bulan Ramadhan dibandingkan dengan otentitas syariat Islam menjadi tiga jenis hubungan.

Pertama, tradisi yang masih sejalan dengan syariat Islam secara murni dan paten, dan memang didasari dalil-dalil yang khusus diperintahkan untuk dikerjakan pada bulan Ramadhan.

Kedua, tradisi yang masih sejalan dengan syariat Islam secara umum, namun tidak secara khusus diperintahkan untuk dikerjakan hanya pada bulan Ramadhan.Ketiga, tradisi yang sama sekali tidak memiliki dasar dari syariat Islam, bahkan cenderung justru bertentangan.

Namun kali ini penulis tidak ingin membahas tradisi ramadhan, tapi ada yang menarik untuk Ramadhan kali ini dimana, semua tradisi Ramadhan hilang dan tak terlihat adanya. Ya, Ramadhan tahun ini berbeda dengan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya dikarenakan mewabahnya pandemik di kalangan masyarakat. Wabah ini menghentikan seluruh rangkaian kegiatan yang dilakukan umat islam, bahkan imbasnya sampai kepada sholat jamaah. Saya tertarik untuk mengulas lebih jauh tentang pelarangan salat jamaah dimana harus menutup masjid dan melarang kaum muslimin untuk menegakkan salat berjamaah, misal salat tarawih di masjid pada bulan Ramadhan ini.

Memang sudah banyak himbauan baik dari pemerintah dan ormas islam menyampaikan bahwa salat ditiadakan di masjid akan tetapi dilakukan di rumah masing- masing. Ini adalah himbauan yang menuai banyak kontroversi. Padahal himbauan ini merupakan usaha pemerintah untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 yang terjadi di masjid. Bahkan salah seorang guru besar dari sebuah Universitas ternama mengatakan secara filosofi dan religi bahwa sholat pada umumnya, lebih lebih pada saat pandemic ini ganjarannya atau pahalanya tidaka diukur dari dimana tempat sholat dilaksanakan akan tetapi apakah dalam sholat itu hati kita bisa hadir untuk berkomunikasi dengan Alloh swt dan apakah sholat kita telah berdampak pada perilaku yang baik bagi pelakunya.

Getaran sholat yang akhirnya bisa berdampak pada achlak pelakunya, itu baru sholat menurut tuntunan Al Qur’an.

Bahkan sampai ada yang mengkomparasikan dengan tempat lain misal, pasar, mall, dan tempat umum lainnya. Hal ini jelas sangat bertentangan, karena masjid tidak bisa disandingkan dengan tempat-tempat umum lainnya. Hal ini adalah analogi yang bisa dianggap benar dilihat dari presfektif lain.

“Kenapa hanya masjid yang ditutup dan pasar dibiarkan terbuka?” ini adalah salah satu dari sekian banyak celoteh masyarakat terhadap himbauan ini. Pertanyaan ini gampang saja di jawab oleh yang berwenang yang mengeluarkan fatwa dan himbauan tersebut.

Perlu kita ketahui bahwa hukum yang diberlakukan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI)ini adalah berdasarkan anjuran pemerintah untuk tetap berdiam diri di rumah atau “Stay At Home”. Namun kita tidak sadar bahwa anjuran untuk menegakkan salat jamaah ini adalah anjuran Allah Subahanahu Wa Taala yang wajib dilaksanakan. Pertentangan ini merupakan dilema bagi kami, apakah harus tetap melaksanakn salat jamaah di masjid atau di rumah masing- masing. Himbauan ini disama ratakan oleh seluruh elemen masyarakat, mulai yang berpikir kritis sampai dengan yang apatis. Saya berfikir fatwa dari MUI juga demikian, makanya seluruh elemen masyarakat pemikirannya sama. Ini bukan berbicara tentang takut Allah tapi tidak takut corona.

Saya mencoba mengulas prespektif lain dari himbauan ini. Saya termasuk orang yang paling taat terhadap pemerintah. Tapi bisa juga saya menjadi orang yang pertama kali menentang hal tersebut jika berlawanan dengan akidah saya. Sama kejadiannya dengan hal yang terjadi saat ini.

Menurut saya fatwa MUI tidak bisa sepenuhnya dilaksankan. Misalnya didaerah yang penyebaran covid-19 belum mewabah, bukan berarti nanti jika telah banyak yang terinfeksi baru berikhtiar. Tapi himbauan untuk menegakkan salat jamaah dirumah masing- masing ini belum bisa terealisasi dengan baik. Kenapa? Karena tidak semua kaum muslimin paham dan tau cara menjalankan salat dengan benar.

Apalagi ditengah penyebaran pandemik ini. Kasus yang sangat miris dan saya liat langsung kejadian dilapangan akibat dari himbauan ini adalah dimana orang- orang awam yang biasa melaksanakan jamaah dimasjid dan sekarang diminta untuk tegakkan salat di rumah padahal mereka hanya orang- orang yang ikut salat berjamaah saja. Mereka melakukan suatu ibadah yang bisa dibilang hal ini merupakan sesuatu yang baru dalam agama. Apa itu? Ya bisa kita katakan bid’ah. Mereka melaksankan salat terawih berjamaah dirumah dengan dipimpin seorang imam dari masjid dengan cara menyambungkan pengeras suara ke rumah- rumah mereka.

Disisi lain ada yang mengerjakan salat berjamaah di rumah salah satu orang katakanlah mereka adalah imam atau pemimpin di kampung tersebut. Kenapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya seperti yang telah saya ulas di atas. Banyak petunjuk untuk agar tetap bisa salat jamaah di rumah, misal dengan membaca surah- surah hafalan yang telah dihafal semampu kita. Menurut saya ini hanya berlaku bagi orang- orang yang sudah memiliki hafalan, lantas bagaiamana dengan yang belum ada hafalan sama sekali? Atau misal yang tidak hafal Al-fatihah? Atau belum tau gerakan salat? yang biasanya salat hanya ikut- ikutan pada salat jamaah? Bukankah hal ini sangat disayangkan?

Tolong, mereka hanyalah norang- orang yang ingin menambah amalan mereka di bulan yang penuh berkah ini dengan ikut salat berjamaah. Tapi, jika salat jamaah ditiadakan di masjid, lantas mereka mau salat dimana? Apakah kita mau saudara- saudara kita meninggalkan salat? Kita tidak berhak atas hidup mereka, seandainya mereka yang tidak punya hafalan tersebut berdiam di rumah dan qodorullah, terinfeksi wabah ditambah dengan tidak shalat.

Lantas siapa yang menanggung dosa mereka? Apakah pemimpin dan para ulama? Sudah selayaknya ketika kita mengambil sebuah keputusan yang krusial, lebih lebih terkait ibadah, hendaklah selalu berpegang pada hal yang tekstual,kontekstual , konten dan ada upaya maksimal yang sudah dilakukan dengan melaksanakan protokoler sesuai dengan azas kesehatan. (*)