Islam Atasi Pandemi Hingga ke Akar

Oleh : Arini Faaiza
Pegiat Literasi, Member AMK

Hingga hari ini pandemi masih setia membersamai negeri ini. Dari hari ke hari grafik penularannya kian meningkat, hampir seluruh rumah sakit rujukan di sejumlah daerah tak lagi mampu menampung pasien positif Corona. Hal tersebut mengharuskan pemerintah pusat maupun daerah melakukan inovasi dalam rangka percepatan penanganan pandemi Covid-19.

Di Provinsi Jawa barat, pemerintah setempat telah melakukan berbagai upaya demi menekan laju penyebaran virus Corona. Setelah pemberlakuan PPKM (Pembatasan Kegiatan Masyarakat), kini diluncurkan program Puskesmas Terpadu dan Juara (Puspa). Program ini diharapkan dapat memperkuat peran Puskesmas dalam menangani Corona sehingga dapat mengurangi penumpukan pasien di rumah sakit. Dalam rangka menyukseskan Puspa, Pemprov Jawa Barat menyiapkan 100 Puskesmas yang tersebar di 12 Kabupaten dan Kota.

Puspa merupakan tindak lanjut rekomendasi WHO untuk memperkuat sistem dan SDM di Puskesmas. Nantinya akan ada penambahan tiga SDM baru yang berkompeten dalam bidang kesehatan bersama dua staf Puskesmas setempat yang akan menjadi tenaga kesehatan berbasis tim untuk memperkuat pelaksanaan 3T (tracing, testing, dan treatment). (JawaPos.com, 27/01/2021)

Apapun upaya dan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah dalam rangka menyelesaikan pandemi Covid-19 layak mendapatkan apresiasi dan dukungan dari segenap lapisan masyarakat. Ketegasan aturan pemerintah dan kepatuhan masyarakat seharusnya dapat menjadi kunci penyelesaian pandemi, sehingga wabah ini segera berakhir. Namun apa hendak dikata, kebijakan penguasa yang tidak konsisten serta penggunaan istilah-istilah baru yang terkadang membingungkan akhirnya berdampak pada kurangnya kesadaran masyarakat dalam mematuhi setiap aturan yang telah digulirkan pemerintah.

Pasca pemberlakuan new normal hingga kini, laju penambahan kasus positif Corona kian tak terkendali. Dibukanya tempat wisata, mall, hingga bioskop dengan alasan mengembalikan geliat ekonomi telah menyumbang ribuan kasus baru, hal ini terbukti dengan diterapkannya PPKM di Jawa dan Bali usai libur akhir Tahun 2020. Masyarakat tak sepenuhnya dapat disalahkan, karena kelonggaran aturan pemerintahlah yang menyebabkan masyarakat berbondong-bondong memadati tempat wisata dan pusat perbelanjaan.

BACA JUGA:  (Mimpi) Subang Juara

Selama setahun Corona mewabah, kebijakan penguasa hanya sebatas menekan laju penyebaran virus, tak sampai pada tataran menyelesaikan hingga ke akar masalah. Akibatnya dampak pandemi semakin meluas di seluruh sektor kehidupan tanpa bisa dibendung lagi. Rumah sakit mulai kewalahan, ruang isolasi pun terbatas. Banyak OTG hanya diminta untuk isolasi mandiri tanpa melihat apakah ia memiliki tempat yang memadai untuk isolasi atau tidak.

Penjagaan kesehatan dan keselamatan pada akhirnya dikembalikan pada ranah individu masyarakat, salah satunya mematuhi protokol kesehatan dengan menjalankan 3M. Meskipun vaksinasi telah mulai dilakukan, tanpa memisahkan antara yang sehat dan yang sakit, maka tak ada jaminan wabah akan segera berakhir. Negara yang seharusnya bertindak sebagai pelindung dan pengayom tak mampu berbuat banyak, sehingga rakyat harus berusaha lebih keras demi bertahan hidup di tengah pandemi.

Demikianlah yang terjadi ketika kapitalisme yang menjadi sandaran kehidupan bangsa. Kebijakan penguasa lebih berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dan mengabaikan keselamatan rakyat. Padahal pertumbuhan ekonomi tak akan tercapai jika daya beli terus menurun. Pun dalam hal pemberian bantuan bagi warga, cenderung memilah dan memilih sehingga hanya sebagian kecil yang dapat menikmatinya.

Sangat berbeda dengan Islam. Wabah penyakit pada suatu daerah merupakan salah satu ujian dari Allah Swt. agar manusia senantiasa bersabar dan berserah diri atas segala ketetapan-Nya. Sekaligus melakukan ikhtiar terbaik dalam menyelesaikannya.

Sejatinya solusi penanganan wabah telah ada semenjak masa Rasulullah dan para sahabat Beliau. Syariat Islam mewajibkan penguasa untuk mengambil kebijakan karantina wilayah atau lock down, memisahkan antara yang warga sehat dengan yang sakit, dan mengisolasi daerah yang terkena wabah. Bagi yang sakit diberikan pengobatan secara gratis dan segala kebutuhannya dipenuhi oleh negara, sehingga tak perlu khawatir meskipun tak bekerja.

BACA JUGA:  Pesan Kedamaian Nagasaki

Sementara bagi warga yang sehat dan wilayah yang tak terkena wabah, mereka dapat menjalankan kehidupannya seperti biasa, baik aktivitas ekonomi, sosial, pendidikan, dan lain sebagainya. Sehingga dampak pandemi tak sampai melumpuhkan perekonomian negara dan kehidupan rakyat seperti yang terjadi saat ini.

Selama sistem kapitalis masih dipeluk, Puspa atau pun program-program penanganan wabah lainnya hanyalah solusi tambal sulam yang hanya menekan laju penularan wabah. Sedangkan yang dibutuhkan saat ini adalah solusi tuntas yang mampu mencabut seluruh akar permasalahan agar pandemi segera berakhir. Dan Solusi tersebut ada dalam Islam, tinggal mau atau tidak untuk menerapkannya.

Wallahu a’lam bi ash shawab.