Islam Mewujudkan Keharmonisan Keluarga Ditengah Krisis

Oleh: Aisyah Ummu Naya

Harta yang paling berharga adalah keluarga
Istana yang paling indah adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga
Mutiara tiada tara adalah keluarga

Sepenggal lirik diatas mungkin menjadi dambaan sebuah keluarga, apalagi dimasa pandemi saat ini. Dimana keharmonisan keluarga mulai luntur bahkan hilang.
Hilangnya keharmonisan bahkan rapuhnya keluarga saat ini ditandai dengan tren perceraian di Indonesia semakin meningkat setiap tahunnya. Seperti yang dikutip Sumedangekspres.com Wakil Ketua Pengadilan Agama Kabupaten Sumedang Drs H Ayip MH mengatakan, pandemi Covid 19 yang berkepanjangan, berdampak kepada meningkatnya jumlah kasus perceraian. Akhir Tahun 2020 saja, katagori jumlah perkara Nasional Kabupaten Sumedang mencapai 5000 an perkara.

“Untuk bulan Agustus 2021 sekarang saja, tercatat 435 cerai gugat dengan 34 permohonan di Pengadilan Agama Sumedang,” tandasnya.

“Menurunnya taraf kehidupan, menjadi salah satu alasan meningkatnya permohonan perkara,” ujarnya kepada Sumeks, Rabu (8/9).

Sangat beralasan, lanjut Ayip. Betapa tidak, lantaran suami kehilangan pekerjaan, sehingga bisa mempengaruhi keadaan ekonomi rumah tangga, terutama masalah pemenuhan nafkah yang tidak bisa terpenuhi.

Kemiskinan memang kerap menjadi biang ketidakharmonisan keluarga. Kemiskinan yang mendera sebagian rakyat negeri ini bukan karena negeri ini miskin. Sebaliknya negeri ini kaya raya. Pangkal penyebab kemiskinan tidak lain adalah penerapan sistem ekonomi kapitalisme-liberal yang diterapkan di negeri ini. Dalam sistem ekonomi ini, siapa yang kuat dialah yang menang. Dimana sistem kapitalisme ini telah memproduksi kemiskinan dan badai PHK di mana mana, serta pajak yang semakin melangit dan harga kebutuhan sehari-hari yang semakin jauh dari jangkauan. Sehingga menyebabkan beban ekonomi keluarga semakin berat dan memicu terjadinya percekcokan suami istri karena masalah ekonomi. Terlebih saat pandemi covid-19, jumlah kemiskinan dan angka pengangguran meningkat. Diperkirakan adanya pandemi covid-19 menyebabkan bertambahnya jutaan pengangguran dan penduduk miskin.

BACA JUGA:  Merindu Pemimpin yang Kredibel, Berintegritas dan Bertakwa

Akibat dari sistem kapitalisme, kekayaan terkonsentrasi pada sebagian kecil orang. Pertumbuhan ekonomi pun hanya menyentuh masyarakat menengah dan atas. Ditambah lagi pengurusan rakyat dan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat yang tidak dipenuhi secara sempurna oleh negara.

Perceraian meski dibolehkan dalam Islam, namun merupakan hal yang dibenci oleh Allah SWT. Perbuatan ini justru disenangi iblis. Perceraian memberikan dampak buruk yang besar bagi kehidupan manusia. Betapa banyak anak yang terlantar, tidak merasakan pendidikan yang layak, gara-gara broken home, maraknya kenakalan remaja, pergaulan bebas, dan narkoba dan kemudharatan lainnya.

Setiap keluarga muslim tentu mendambakan keluarga yang harmonis, sakinah, mawadah Warahmah. Untuk mewujudkan ketahanan keluarga dan suasana yang harmonis membutuhkan kerja sama dari setiap anggota keluarga, masyarakat, bahkan negara. Agama menjadi fondasi penting untuk mewujudkan ketahanan keluarga. Islam sebagai agama yang sempurna memiliki solusi atas berbagai problematik hidup manusia termasuk persoalan rumah tangga.

Dengan syariat Islam, setiap persoalan yang dihadapi keluarga hendaknya dapat menjadikannya semakin kuat dan tangguh hingga dapat melahirkan generasi Rabbani.
Peran penting negara yaitu berkewajiban memastikan setiap individu, keluarga, dan masyarakat bisa sejahtera. Negara harus memastikan terpenuhinya kewajiban setiap kepala keluarga (suami) atau para wali untuk mencari nafkah dengan menyediakan lapangan kerja bagi laki-laki agar dapat memberi nafkah pada keluarga mereka, memberikan pendidikan dan pelatihan kerja, bahkan jika dibutuhkan akan memberikan bantuan modal. Sehingga problem ekonomi yang acap kali muncul sebagai problem utama rumah tangga dapat diselesaikan. Semua itu hanya bisa dijalankan dalam negara yang menerapkan sistem Islam. Tak ada masalah tanpa solusi tuntas Islam. Termasuk masalah kasus perceraian yang marak.

Sejatinya sebagai muslim, hendaknya kita mengembalikan segala urusan hidup kepada Sang Khalik, Yang Maha Pencipta lagi Maha Pengatur. Allah Swt. berfirman :
“Dan jika kalian berselisih pendapat tentang satu masalah maka kembalikanlah kepada Allah dan kepada RasulNya jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu adalah lebih baik dan akibatnya pun juga lebih baik.” (QS. An-Nisa[4]: 59)

BACA JUGA:  Agar Sekolah Daring Tak Membuat “Darting"

Insya Allah dengan penerapan sistem Islam, angka perceraian mampu ditekan dan diminimalisir. Yang ada adalah tatanan keluarga dan masyarakat yang hidup penuh keharmonisan dan ketenangan.

Wallahu a’lam bishawwab.