Jejak Khilafah yang Abadi

Oleh : Yanyan Supiyanti, A.Md
Pendidik Generasi Khoiru Ummah, Member AMK

Banyak pihak menganggap khilafah itu utopis, ahistoris, hanya nostalgia, dan lain sebagainya. Sehingga tak perlu diperjuangkan. Benarkah?

Sejatinya, banyak jejak kekhilafahan di Nusantara (nama sebelum Indonesia). Di antaranya, pada masa kerajaan Sriwijaya.

Penguasa Kerajaan Sriwijaya yang saat itu berpusat di Pulau Sumatera, Maharaja Sri Indravarman, pernah menulis surat yang ditujukan kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz di Damaskus.

Surat tersebut dinukil oleh Ibn ‘Abd Rabbih dalam al-‘Iqd al-Farid berdasarkan riwayat dari Nu’aym bin Hammad :

“Raja Hind (Sriwijaya) mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz :

Dari Raja Diraja—yang adalah keturunan seribu raja; yang istrinya juga adalah anak cucu seribu raja; yang dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah; yang wilayahnya terdapat dua sungai (Musi dan Batanghari) yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wewangiannya sampai menjangkau jarak 12 mil.

Kepada Raja Arab (Umar bin Abdul Aziz), yang tidak menyekutukan Allah dengan segala sesuatu. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan.

Saya ingin Anda mengirimi saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya, dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya…”

Pada perkembangan selanjutnya, hubungan khilafah dan Nusantara inilah yang menjadi faktor yang mengonversi banyak kerajaan Hindu/Budha menjadi kesultanan Yogyakarta yang merupakan penerus kesultanan Mataram Islam. Fakta ini diakui secara langsung oleh Sri Sultan Hamengkubuwono x pada Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-6 di Yogyakarta. Saat itu ia menjelaskan hubungan yang erat Keraton Yogyakarta dengan kekhilafahan Utsmani di Turki. (Republik.co.id, 12/2/2015)

Dengan demikian, eratnya hubungan Khilafah dan Nusantara merupakan fakta sejarah. Wajar jika kalangan muslim di Nusantara menunjukkan kepedulian luar biasa saat khilafah Utsmani diruntuhkan tahun 1924. Mereka pun terlibat dalam upaya internasional untuk mengembalikan khilafah.

Keterlibatan kaum muslim di Nusantara dalam perjuangan mengembalikan Khilafah, antara lain diwakili oleh Sarekat Islam, Muhammadiyah dan para kiai dari pesantren. Mereka membentuk ‘Komite Khilafat’ pada 4 Oktober 1924 di Surabaya. Komite Khilafat ini diketuai Wondosoedirdjo (juga dikenal sebagai Wondoamiamiseno) dengan Wakil Ketua K.H.A. Wahab Hasbullah (yang kemudian menjadi salah satu pendiri NU pada tahun 1926). Tujuan pembentukan Komite Khilafat ini adalah untuk ikut menuntut pengembalian Khilafah Utsmaniyah. (Azyumardi Azra, “Khilafah”, Republika.co.id, 24/7/2017).

Bukti yang jelas bahwa Khilafah berhubungan erat dengan Nusantara, dengan meninggalkan jejak yang abadi.

Wallahu a’lam bishshawab.