Kapitalisme Memaksa Rakyat Berjuang Sendiri

Oleh: Iis Nur

Aktivis Dakwah dan Ibu Rumah Tangga

Setiap hari banyak media massa yang memberitakan tingginya angka kematian akibat Covid-19  namun masih banyak warga yang tidak peduli dengan bahaya wabah virus ini, termasuk ketidakpedulian masyarakat sekitar ketika ada warga yang isoman.

Kondisi tersebut seperti yang dialami oleh Krismanto dan keluarganya, dia telah mengungkapkannya kepada media ayobandung.com, Selasa 6 Juli 2021 bahwa dia dan keluarganya dinyatakan positif Covid-19, kemudian mereka melakukan isoman tapi tidak ada perhatian warga sekitar padahal sebelumnya Krismanto telah lapor kepada RT, RW setempat.

Hidup dalam sistem kapitalisme yang segala sesuatu dilihat dari manfaat dan untung rugi telah menghilangkan rasa empati dan tanggung jawab penuh penguasa. Hingga pada saat ada rakyat terpapar virus Covid-19, lalu isoman di rumah, seharusnya mereka mendapatkan perhatian dan pelayanan konkret pemerintah, justru mereka terpaksa keluar menjadi penyintas Covid-19.

Pasien isoman semestinya tetap di rumah dan menjauhi interaksi, maka diperlukan perhatian khusus dari tetangga, kerabat, instansi terkait, dan pemerintah untuk mensuplai kebutuhannya. Jika perhatian dan bantuan ini tidak ada, warga isoman akan keluar mencari kebutuhannya sendiri. Tentu keadaan tersebut akan membahayakan masyarakat sekitarnya. Kondisi ini telah membuktikan bahwa sistem kapitalisme yang diadopsi negara telah gagal memberikan perlindungan dan kesejahteraan rakyatnya, gagap menghentikan laju penyebaran virus, abai terhadap nyawa masyarakat, tapi fokus menggenjot ekonomi.

Lonjakan yang terjadi pada saat PPKM diberlakukan banyak kasus serupa sebagaimana dialami oleh Krismanto dan keluarga. Bahkan di daerah lain ada kasus sekeluarga yang meninggal dalam masa isomannya, atau ada anak harus isoman seorang diri karena orang tuanya telah meninggal karena Covid-19.

BACA JUGA:  Menguapnya Politik Kewarganegaraan

Kegagalan kapitalisme dalam menangani lonjakan virus Covid-19 telah memaksa rakyat  berjuang sendiri melawan virus dan memenuhi kebutuhannya dengan fasilitas yang bisa dikatakan sangat kurang dan terbatas. Sementara pejabat yang diberi amanah mengurus rakyat hingga hari ini tidak kunjung menunjukkan tanggung jawab maksimal karena pemerintah pusatnya pun tidak bersinergi dengan daerah. Dalam masa pandemi saat ini yang sakit dan terpapar Covid-19 setiap harinya semakin melonjak, pemerintah sebagai penguasa yang diamanahi untuk mengurusi rakyat sangat penting peranannya bagi rakyat. Bukan hanya membuat peraturan parsial dan tak solutif semisal  menetapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dari level satu sampai level empat.

PPKM seakan menjadi jalan lain menuju kematian. Rakyat yang sudah mengalami kesulitan hidup karena untuk mencari nafkah dihalangi sementara untuk kebutuhan sehari-hari tak ada yang mencukupi, termasuk pemerintah tak peduli. Banyak rumah sakit yang colaps sampai ada kasus kehabisan oksigen namun penimbunan dibiarkan.

Berbeda dengan masa kepemimpinan khalifah yang secara total menerapkan syariah Islam, khalifah takut dengan tanggung jawab yang menjadi amanahnya untuk mengurusi umatnya. Sehingga akhirnya sangat memperhatikan segala kebutuhan rakyatnya, mulai dari sandang, pangan dan papan serta kebutuhan untuk ibadahnya pun akan diperhatikan.

Sebagaimana sabda Rasulullah Saw.