Kurikulum Industri Membajak Potensi Intelektual

Oleh Adibah NF
Komunitas literasi Islam

Menuntut ilmu itu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Baik laki-laki maupun perempuan. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa, siapa saja yang keluar dalam rangka menuntut ilmu, maka dia berada di jalan Allah Swt. sampai ia kembali. Dalam hadis Ibnu Majah juga disebutkan, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.”

Dikutip dari kompas.com, 27/7/2021, menyatakan bahwa, Presiden Joko Widodo meminta agar perguruan tinggi melibatkan berbagai industri untuk mendidik para mahasiswa. Diperlukan kolaborasi antara perguruan tinggi dengan para praktisi dan pelaku industri di era disrupsi saat ini, sangatlah penting.

Selain itu, Jokowi juga mengajak industri untuk ikut mendidik para mahasiswa sesuai dengan kurikulum industri, bukan kurikulum dosen, supaya para mahasiswa memperoleh pengalaman selain dari dunia akademisnya. Mereka akan diarahkan untuk menjadi industriawan yang mampu membuka lapangan pekerjaan.

Saat ini pemerintah semakin serius memastikan kurikulum kampus adalah kurikulum industri bukan kurikulum berorientasi pada intelektual inovatif. Dengan begitu, pendidikan tinggi dirasa tepat menggunakan kurikulum industri. Pendidikan dan pembelajaran diselenggarakan dalam konteks menggerakkan interaksi kampus dengan dunia kerja. Tak aneh jika orientasi kapitalistiklah yang melekat dalam benak para mahasiswa kemudian menjadi cita-cita setelah lulus nanti.

Tak sedikit para sarjana langsung mencari kerja. Seakan kewajiban mencari nafkah itu baru berlaku jika mereka sudah lulus kuliah. Inilah yang menggeser fungsi pendidikan tinggi. Karena terhenti hanya sekedar bercita-cita mendapat pekerjaan yang sesuai dengan cita-citanya dan dianggap memadai. Tuntutan dari orang tuapun tak kalah dengan sikap matrealistisnya, atas dasar mereka sudah susah menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi agar dapat membantu ekonomi keluarga. Hal ini jelas telah menggeser fungsi pendidikan tinggi itu sendiri.

BACA JUGA:  Alat Palak Kesehatan ala Kapitalisme

Perlu disadari, saat ini yang dijadikan kurikulum industri yang menjadi arahan pemerintah berbasis pada pemahaman sekuler. Oleh karenanya, tak sulit jika distandarkan sesuai dengan arus politik dan kebijakan penguasa. Walaupun keluar dari fungsi perguruan tinggi itu sendiri.

Jelasnya pendidikan tinggi kini sedang dimanipulasi dan disetting oleh agenda Barat dan difungsikan sebagai gerbang imperialisme akademik maupun hegemoni riset dengan dana dari korporasi, serta menjadi lahan subur bagi propaganda ide-ide sekuler dan liberal.
Ditambah lagi adanya settingan yang dibuat terhadap dunia pendidikan hanya untuk mencetak tenaga kerja demi kepentingan industri, karena industri dianggap sebagai lahan kerja paling strategis untuk meraup keuntungan yang menjadi target para pelaku industri demi mengejar profit.

Padahal seharusnya pendidikan tinggi adalah pihak yang mampu menghasilan sumber daya manusia yang kapabel dalam melayani kebutuhan umat. Juga menghasilkan inovasi mutakhir agar umat dapat memperoleh manfaat luas dari para intelektual itu. Bukan mengejar profit saja. Sekali lagi, karena pendidikan tinggi tidak diarahkan kesitu bahkan diputar kearah kemampuan pemenuhan industri pasar semata. Seolah perguruan tinggi mirip dengan instansi penghasil buruh pintar.

Miris memang, ketika dunia pendidikan berada dalam cengkeraman hegemoni korporasi, bahayanya bukan hanya pada para intelektual saat ini, namun lebih besarnya lagi adalah bagi masa depan generasi. Karena akan mengalihkan fokus mahasiswa dari pendalaman ilmu menjadi serba profit. Sehingga dalam melakukan proses belajarpun menjadi sangat dangkal dan egois, bahkan kehilangan ruh.