OPINI  

Kurikulum Merdeka, Belajar Sesuai Kodrat Alam dan Kodrat Zaman

Oleh :Yulia Enshanty, S. Pd

(Guru Geografi SMAN 1 Warung Kiara, Kabupaten Sukabumi. Jawa Barat)

2.Drs.H.Priyono,MSi (Dosen pada Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta)

Pandemi covid-19 yang melanda Indonesia, membawa banyak perubahan dalam dunia pendidikan baik model, metode maupun bentuk interaksi, yang berujung pada kualitas output pembelajaran. Lepas dari kelebihan maupun kelemahan system pembelajaran online, ini harus tetap dilaksanakan untuk mengurangi resiko penularan covid-19 yang telah menelan korban yang banyak.  Kegiatan pembelajaran yang semula dilakukan secara tatap muka di kelas, harus dilaksanakan secara daring melalui pembelajaran jarak jauh. Guru dan peserta didik juga dipaksa untuk dapat mempergunakan teknologi agar kegiatan pembelajaran tetap dapat berlangsung dengan baik. Menyikapi hal tersebut,  pemerintah menyadari perlu adanya perubahan pada sistem pendidikan dengan melibatkan teknologi dan kurikulum yang fleksibel terhadap perubahan zaman. Fleksibel dalam pembelajaran adalah hal menarik bagi guru dibanding  memenuhi standar pembelajaran yang kaku. Terlebih di masa pandemi, dengan segala keterbatasan sarana dan prasarana dan untuk mengurangi learning loss,   digagaslah kurikulum merdeka belajar. Kurikulum Merdeka pada dasarnya sudah dicetuskan oleh Ki Hadjar Dewantara 100 tahun silam.

Kurikulum Merdeka memberikan kebebasan kepada satuan pendidikan, guru, dan peserta didik dalam mengembangkan pembelajaran. Sejatinya peserta didik memiliki kodrat (bakat) alami, guru sebagai pendidik harus merawatnya sesuai dengan kodrat yang dimiliki peserta didik. Ki Hajar Dewantara (KHD) menjelaskan bahwa dasar pendidikan anak berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan “sifat” dan “bentuk” lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan “isi” dan “irama”. KHD mengingatkan pendidik bahwa pendidikan anak sejatinya melihat kodrat diri anak dengan selalu berhubungan dengan kodrat zaman. Apabila melihat dari kodrat zaman saat ini, pendidikan global menekankan pada kemampuan anak untuk memiliki Keterampilan Abad 21. Derasnya arus globalisasi tentunya akan membawa pengaruh juga terhadap perkembangan anak didik. Pengaruh dari luar ini harus dapat disaring dengan tetap mengutamakan kearifan lokal budaya Indonesia. Oleh sebab itu, isi dan irama yang dimaksudkan oleh KHD adalah muatan atau konten pengetahuan yang diadopsi sejatinya tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai Pancasila yang menjadi dasar kehidupan. berbangsa dan bernegara. KHD menegaskan juga bahwa mendidik  anak itu harus dengan cara yang sesuai dengan tuntutan alam dan zamannya sendiri.

Kurikulum Merdeka Belajar memberikan porsi yang besar dalam proses pembelajaran. Nilai yang diberikan kepada peserta didik lebih banyak memperhatikan proses peserta didik dalam menjalankan pembelajaran melalui asesmen diagnostik dan formatif. Konsep ini selaras dengan pemikiran Ki Hadjar mengenai pendidikan yang bermakna menuntun segala kekuatan kodrat pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat. Ini bermakna pendidikan harus dijalankan sesuai keinginan dan potensi yang dimiliki peserta didik, sehingga mereka merasa senang dalam belajar sehingga menghasilkan kebahagiaan. Dengan menjalani proses belajar dengan bahagia maka tentunya akan dapat menunjang tercapainya keberhasilan dalam pembelajaran.

Esensi Kurikulum Merdeka adalah pendidikan berpatokan pada esensi belajar, di mana setiap siswa memiliki bakat dan minatnya masing-masing. Di sekolah SMA tidak akan ada lagi jurusan atau peminatan seperti IPA, IPS, atau Bahasa. Peserta didik dapat memilih mata pelajaran sesuai dengan minat dan bakatnya. Hal ini sesuai dengan ajaran Ki hajar Dewantara yang menyatakan ajarkanlah anak sesuai dengan kodratnya. Sebagai contoh, anak yang mempunyai bakat olah raga renang, dia akan berkembang potensi dan prestasinya jika menemukan guru pembimbing renang yang cakap dan jangan paksa anak ini untuk bisa berpidato, kerena pasti dia tidak akan bisa berkembang dengan baik.

Kelebihan yang paling mencolok dari penerapan kurikulum ini adalah adanya proyek tertentu yang harus dilakukan oleh para peserta didik sehingga dapat membuat mereka menjadi lebih aktif dalam upaya mengeksplorasi diri. Dalam Kurikulum Merdeka, pembelajaran Project Based Learning memberikan ruang kepada guru dan peserta didik untuk dapat melihat masalah dalam keseharian dan mencoba menemukan solusi dari masalah tersebut. Untuk mendukung hal tersebut, sekolah harus memberikan inovasi baru dalam segi fasilitas pembelajaran, kegiatan ektrakurikuler, kegiatan pembelajaran bekerja sama dengan lingkungan/perusahaan, Guru juga harus berinovasi dalam pembelajaran, agar dapat menumbuhkan kreativitas dan inovasi dari peserta didik.

Keunggulan lain dalam kurikulum ini yaitu adanya keleluasan yang diberikan kepada sekolah, hal ini akan sangat menguntungkan, baik untuk peserta didik ataupun guru. Karena menerapkan sistem pembelajaran berbasis proyek, guru tidak lagi diburu oleh target materi pembelajaran yang padat. Dengan demikian, waktu belajar peserta didik juga tidak terlalu padat. Guru juga bisa lebih fokus pada pemberian materi esensial yang berorientasi pada kebutuhan dan penguatan karakter peserta didik. Para guru pun memiliki kesempatan yang cukup untuk dapat mengeksplorasi potensi peserta didik lewat beragam inovasi pembelajaran.

Selain itu, kurikulum ini juga lebih interaktif dan relevan mengikuti perkembangan zaman. Pesatnya perkembangan zaman harus direspons secara cepat dan tepat, tidak terkecuali di sektor pendidikan. Hampir semua sektor di era industry 5.0 ini sudah melakukan digitalisasi yaitu dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi. Di dalam kurikulum merdeka, ini juga menjadi salah satu prioritas penguasaan teknologi harus diberikan kepada peserta didik agar pembelajaran dapat berlangsung lebih menyenangkan dan kelak peserta didik dapat bersaing di era globalisasi.

Kurikulum Merdeka merupakan salah satu ikhtiar dalam membenahi kualitas Pendidikan di Indonesia secara komprehensif. Tujuannya tetap tidak berubah dari kebijakan yang sudah ada sebelumnya, yaitu menciptakan lulusan/SDM yang unggul, kompeten, produktif, berdaya saing tinggi serta berakhlak mulia yang benar-benar mencerminkan nilai-nilai Pancasila. Dengan berbagai keunggulan yang diusung dalam konsep kurikulum ini diharapkan mampu memajukan pendidikan di Indonesia di masa yang akan datang terlepas dari kebijakan Menteri yang selalu dinamis atau sebaliknya artinya ganti Menteri ganti kebijakan di bidang pendidikan.(*)