Potret Sektor Informal di Perkotaan

Studi kasus pengemis di kota Salatiga
Oleh
1.Drs.H.Umrotun,M.Si ( Dosen MK Geografi Kota pada Fakultas Geografi UMS )
2.Drs.H.Priyono,M.Si ( Dosen MK Geografi Penduduk pada Fakultas Geografi UMS )
3.DR.Choirul Amin,S.Si.MM (Dosen MK Geografi Ekonomi pada Fakultas Geografi UMS)

Belum pernah terbayangkan bahwa perkembangan ekonomi, dinamika kota telah menimbulkan banyak fenomena sosial, ekonomi di jalanan terutama di jalan protokol dan di lingkungan lampu lalu lintas memasuki daerah perkotaan yang nota bene sebagai pusat kegiatan penduduk sekaligus tempat untuk mengais nafkah. Kini bisa dinikmati di perempatan atau pertigaan lampu lalu lintas menuju dan memasuki wilayah perkotaan sebagai lokasi untuk mencari kehidupan bagi penduduk marginal sehingga menjadi tempat mendapatkan nafkah bagi sektor informal.

Kami sebagai pelaku mobilitas ulang alik yang menikmati pemandangan pengemis bercampur dengan penjual jasa lainnya mencari nafkah di area yang tidak layak sebagai tempat berjualan. Lebih menyedihkan lagi mereka ada yang terdiri dari anak seusai sekolah dan bahkan ada yang mengajak bayinya sebagai strategi agar pengguna jalan mengasihaninya. Pemandangan ini hampir pasti bisa dilihat dia lampu lalu lintas sebelum memasuki perkotaan dan di dalam kota , tidak terkecuali di kotaSalatiga.

Kota Salatiga adalah sebuah kota yang dikategorikan sebagai kota kecil namun letaknya cukup strategis karena berada pada jalur transportasi yang menghubungkan kota Solo-Boyolali dan ibukota provinsi Jawa Tengah Semarang, dengan ketinggian wilayah 750-850 m dpal dan terletak di lereng gunung Merbabu sehingga hawanya cukup sejuk dan indah pemandangannya dengan suhu rata rata 26 derajat celcius. Di kota ini terdapat Universitas yang pernah jaya pada jamannya yaitu Universitas Satya Wacana sehingga banyak tinggal mahasiswa yang berasal dari pelbagai pelosok Indonesia. Wilayahnya tidak terlalu luas sekitar 56,781 km persegi tapi disekitarnya banyak tempat wisata baik alami maupun kuktural, yang menjadikan kota ini menjadi tempat tinggal sementara bagi wisatawan baik dalam maupun luar negeri.

BACA JUGA:  Rapuhnya Hubungan Keluarga dalam Sistem Sekuler Liberalisme

Melihat kondisi kota dengan fisiografi yang bervariasi mulai dari datar sampai pegunungan maka menjadi daya tarik penduduk luar kota untuk mengaiz rejeki di kota penghasil kopi di Jawa Tengah ini termasuk para pengemis juga datanga ke kota ini. Pengemis adalah orang yang pekerjaannya meminta minta baik di rumah tangga maupun di fasilitas umum seperti pasar, toko,tempat ibadah , maupun di disekitar lampu lalu lintas dan tempat keramaian lainnya. Bertingkah laku untuk mendapatkan belas kasihan,berpura pura sakit, cacat, merintih, kadang kadang mendoakan dan bahkan membawa bayi untuk menimbulkan rasa iba pada pemberinya. Biasanya memiliki tempat tinggal tertentu akan tetapi ada yang tidak memiliki tempat tinggal tetap atau gelandangan. Mereka harus melakukan gerakan atau mobilitas horizontal dari satu tempat asal ke tempat tujuan untuk mempertahankan hidup.
Mobilitas penduduk bermakna mencari keseimbangan antar wilayah.

Wilayah yang kelebihan tenaga kerja akan mengalir ke wilayah yang menyediakan kesempatan kerja yang biasanya daerah perkotaan. Mobilitas dalam kajian teoritis termasuk upaya untuk meningkatkan kesejahteraan pelakunya dan sekaligus mereka adalah orang yang dapat merespon pasar. Namun berdasarkan teori mobilitas Ravenstein yang dikenal dengan dengan law of migration bahwa orang yang melaukan migrasi itu sangat selektif dan memilih jarak yang relative dekat.

Arango ( 2000 ) menyatakan bahwa terjadinya mobilitas karena adanya tekanan di daerah asal baik tekanan alam, ekonomi maupun sosial. Demikian pula arus mobilitas ke kota sering mendatangkan berbagai masalah di perkotaan termasuk pengemis. Keberadaan pengemis merupakan fenomena yang umum terdapat di perkotaan termasuk kota Salatiga . Hal ini bisa terjadi karena rendahnya tingkat pendidikan, ketrampilan tidak bisa mengaksek sektor formal maka masuklah ke sektor yang paling mudah menyerap tenaga kerja tanpa syarat yaitu sektor informal. Pada tahun 2005, jumlah pengemis di kota Salatiag ada 87 orang dan 10 tahun berlipat menjadi 235, sebuah perkembangan penduduk miskin yang cepat dan yang menyedihkan bahwa dari jumlah tersebut yang terlayani oleh Pemerintah kota hanya kurang dari 10 persen.

BACA JUGA:  Prostitusi Online di Kota Santri, Bukti Kuatnya Liberalisasi