Dampak Covid-19, Petani Sayuran Lembang Sulit Jual Hasil Panen

MELIMPAH: Petani asal Lembang, Tihar memperlihatkan hasil panen cabai yang melimpah. Ditengah wabah virus korona, harga cabai menurun drastis. EKO SETIONO/PASUNDAN EKSPRES

LEMBANG-Sejumlah petani di Lembang Kabupaten Bandung Barat (KBB) sangat merasakan dampak pembatasan aktivitas masyarakat di luar rumah guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Walaupun hasil panen melimpah, para petani kesulitan menjual hasil sayuran yang baru saja di panen seperti tomat dan cabai ke pasar. Padahal, jika tidak segera dijual, sayuran cepat membusuk.

“Kondisi saat ini sedang sulit, kios di pasar hanya buka setengah hari akibat korona. Karena tak bisa dijual, otomatis sayuran lebih lama tersimpan di gudang,” kata salah satu petani di Lembang, Tihar, Senin (27/4).

Dia menyatakan, kondisi sekarang bisa dikatakan lebih parah dibandingkan gagal panen, karena gagal panen biasanya hanya terjadi di beberapa daerah saja. Ditambah, distribusi barang sedikit terhambat akibat kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diberlakukan pemerintah daerah. “Korona menghantam semua petani di daerah. Tidak ada yang untung akibat pandemi ini, semuanya kena,” ujarnya.

Kendati hasil panen melimpah, Menurut Tihar, di tengah pandemi ini harga jual tomat dan cabai tidak sesuai harapan. Cabai kriting dijual Rp7.000 perkilo sedangkan normalnya Rp30 ribu perkilo, sementara tomat Rp4.000 perkilo. “Tomat dan cabai harus dipanen sekarang, enggak bisa tunggu harga stabil. Kalau enggak lekas dipanen, bisa busuk di pohon, tambah rugi lagi kita,” tuturnya.

Bahkan, lanjut dia, beberapa waktu lalu harga tomat pernah anjlok hingga Rp800 perkilo, sehingga para petani membiarkan tanamannya membusuk. “Bayangkan untuk biaya pekerja sehari harus mengeluarkan ongkos Rp100 ribu perorang, enggak sebanding dengan harga jual ke pasar,” jelasnya.

Dirinya berharap wabah Covid-19 segera berakhir agar roda perekonomian, khususnya pertanian bisa kembali stabil. Pasalnya, tak sedikit petani tradisional yang menanggung kerugian cukup besar hingga ada yang terpaksa berhenti menanam sambil menunggu kondisi normal.

“Biasanya pada momen seperti bulan puasa dan lebaran menjadi ladang kita mencari untung. Kalau sekarang, mau untung dari mana, pasar-pasar tutup, pengiriman barang juga dibatasi. Mudah-mudahan situasi sulit ini segera berakhir,” tambahnya.(eko/sep)