Blended Learning Pada Pembelajaran Geografi Fisik di Era Milenial: Sebuah Tantangan Bagi Guru

Blended Learning Pada Pembelajaran Geografi Fisik di Era Milenial: Sebuah Tantangan Bagi Guru
0 Komentar

Blended learning adalah pembelajaran yang mengombinasikan strategi penyampaikan pembelajaran menggunakan kegiatan tatap muka, pembelajaran berbasis komputer (offline), dan komputer secara online (internet dan mobile learning). Pembelajaran dengan model blended learning dipandang efektif karena perpaduan antara tatap muka tradisional dan penggunaan teknologi akan saling bersinergi sehingga dapat mengurangi kelemahan masing-masing. Proses pembelajaran tatap muka dikelas akan mampu menjaga nilai dari human interaction, sedangkan e-learning akan memberikan akses pada keragaman sumber belajar yang sangat kaya dari internet. Banyak pakar meyakini bahwa pembelajaran menggunakan blended learning akan semakin diminati dan semakin berkembang di abad 21.

Geografi fisik meliputi obyek material geografi yaitu ; lithosfer, hidrosfer,atmosfer, pedosfer dan biosfer.  Materi geografi fisik ini akan sangat menarik jika  dibelajarkan melalui kaidah blended  learning.  Pembelajaran blended learning materi fisik geografi bisa diajarkan melalui online maupun ofline. Pada pembelajaran online siswa bisa  mengambil materi materi fisik geografi  yang didapatkan dari internet.  Materi fisik juga sangat bagus diajarkan menggunakan flashplayer  animasi, siswa akan mendapatkan gambaran secara nyata tentang materi  dan fenomena litosfer, atmosfer, pedosfer, hidrosfer dan biosfer.  Pembelajaran ofline materi fisik geografi  (litosfer, atmosfer,hidrosfer,pedosfer dan biosfer), siswa bisa langsung mengamati fenomena geografi fisik yang terjadi di muka bumi. Siswa bisa memadukan pembelajaran secara online maupun ofline.

Dengan pembelajaran blended learning  pada materi fisik geografi , pembelajaran akan lebih menarik. Nilai geografi siswa menjadi meningkat, ketika terjadi fenomena geografi di kehidupan sehari – hari siswa langsung bisa mengaplikasikan pada kehidupan sehari – hari.

Baca Juga:Menjelang Ijab Qabul, Lesti Kejora Dapat KejutanKiat Tingkatkan Kesejahteraan Petani di Masa Pandemi

Salah satu contoh pembelajaran bleded learning yang diterapkan di sekolah bisa melalui  pembelajaran tentang konservasi air.  Siswa mempelajari proses siklus hidrologi secara nyata atau online  maupun ofline. Siswa belajar dari bagaimana cara memperkaya sumber daya air di sekolah  dengan cara ; (1) memperluas  ruang terbuka hijau di sekolah tidak boleh ada alas an lahan sekolah yang sempit, (2) memperbanyak biopori di sekitar sekolah, (3) memperbanyak sumur resapan yang ada di sekolah,  (4) lahan yang ada dan jauh dari bangunan diberikan jenis tanaman pioner. Contoh pembelajaran bleded learning di sekolah dengan menangkarkan air hujan di sekolah. Sarana prasarana yang disediakan di sekolah adalah  Instalasi Pengolahan Air Hujan (IPAH) yang dielektrolisa menjadi dua jenis air ; (1) bersifat basa, (2) bersifat asam. Air yang bersifat basa  (dengan PH 7,8) bisa dimanfaatkan untuk air minum seluruh warga sekolah, sedangkan air yang bersifat asam dimanfaatkan untuk pupuk tanaman atau sarana hidup ikan . Konsep yang dipakai adalah (rain water harvesting for drink  dan rain water harvesting  for  living things) (*)

Laman:

1 2 3
0 Komentar