Bolong-bolong ‘Tol Langit’ Jelang Industrialisasi di Subang

Bolong-bolong 'Tol Langit' Jelang Industrialisasi di Subang
Tampak Atas Pelabuhan yang Akan Menjadi Ikon Kemajuan Industri di Kabupaten Subang
0 Komentar

Menurut Kepala Diskominfo Jabar, Hening Widiatmoko seperti dilansir detik.com, biaya yang besar belum tentu menentukan kesuksesan daerah membangun smart city. “Sebab, sambung dia, smart city tidak hanya bergantung terhadap infrastruktur tetapi juga sumber daya manusia (SDM) yang memadai,” katanya.

Isu kebutuhan SDM melek IT sempat mengemuka dalam diskusi terbatas di rumah dinas bupati awal Oktober lalu. Kepala Badan Pendapatan Daerah Ahmad Sobari mengakui masih terbatasnya SDM mumpuni di setiap dinas di Pemkab Subang. “Contohnya, kita minta ada staf yang digeser dari Kominfo ke dinas kami, itu pun tidak bisa. Karena memang terbatas. Ini tentu menjadi kendala di saat pemerintahan sudah memasuki era digital 4.0,” kata Ahmad.

Dalam diskusi itu “disepakati” pelayanan pemerintah berbasis digital merupakan suatu keniscayaan. Maka pembangunan “jalan tol langit” mendesak pula untuk dibangun. Sebagaimana Pemkab Subang kini tengah gencar membangun jalan lingkar dan jalan-jalan baru. Di Pantura dan di wilayah selatan.
Bupati Ruhimat pun gencar membuka jalan baru 30 Km Serangpanjang-Kalijati, jalan baru 42 Km Blanakan-Patimban dan jalan baru Darmaga-Lembang Bandung Barat. Kang Jimat ingin dengan pembangunan jalan itu bisa meningkatkan ekonomi masyarakat. Kini di era digital tantangan bertambah, Kang Jimat pun harus berani menganggarkan membangun jalan langit. Sama-sama berkontribusi membangun ekonomi digital.

Baca Juga:Ketua Fatayat NU: Wanita Harus Punya Daya Saing Tapi Jangan Lupa KodratnyaKader PKB Deklarasikan Subang Kita Hijau (SKH), Kang Maman: Ayo Hijaukan Subang!

“Jalan internet juga amat penting. Mendorong bisnis digital. Sekarang penjualan online berkembang, orang tidak perlu menyewa kios. Memang tantangan pemerintah terus berkembang saat ini,” jelas Mas Indra.

Berdasarkan data hasil analisa Ernst & Young, pertumbuhan nilai penjualan bisnis online di tanah air setiap tahun meningkat 40 persen. Apalagi ada sekitar 93,4 juta pengguna internet dan 71 juta pengguna perangkat telepon pintar di Indonesia. Dari sisi ekonomi digital, pemerintah menargetkan dapat menciptakan 1.000 technopreneurs baru pada tahun 2020 dengan valuasi bisnis USD 10 miliar.
Diperkuat dengan laporan dari Temasek, Google, dan Bain & Company yang menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi digital Indonesia pada akhir tahun 2019 menjadi yang terbesar di Asia Tenggara dengan menyentuh angka USD 40 miliar atau mencapai Rp566,28 triliun.

0 Komentar