Budaya Petty Corruption dan Perilaku Anti Korupsi Masyarakat Indonesia

Budaya Petty Corruption dan Perilaku Anti Korupsi Masyarakat Indonesia
0 Komentar

Solusi Mereduksi

Pencegahan utama mengatasi Petty Corruption harus dari dalam diri pribadi, karena sejatinya Petty Coruption muncul dari perilaku pribadi seseorang atau attitude. Sehingga faktor sosial, edukasi dan agama sangat penting untuk mereduksi perilaku Petty Corruption. Masyarakat juga harus mampu menyikapi secara proporsional tentang budaya ketimuran yang dimiliki, tidak boleh ada celah untuk bersikap permisif terhadap perilaku korupsi, katakan dan posisikan sesuatu pada tempatnya, serta hilangkan kebiasaan umum yang sesungguhnya hal tersebut salah.

Di sisi lain, Pemerintah harus mampu menyikapi hasil Survei SPAK yang telah dirilis oleh BPS di atas. Dari hasil rilis tersebut banyak hal yang dapat dijadikan sumber informasi atau pegangan bagi Pemerintah dalam melakukan langkah nyata untuk mengedukasi masyarakat supaya berprilaku anti korupsi. Pemerintah juga harus melakukan langkah-langkah efektif dan komprehensif untuk mengatasi perilaku korupsi khususnya pada ranah dimensi Petty Corruption, karena korupsi besar pasti bermula dari korupsi kecil. Ibarat pohon, korupsi kecil ini adalah akarnya, maka Pemerintah harus mampu menebang ‘Pohon Korupsi’ ini sampai ke akar-akarnya.

Perlu aksi nyata dari Pemerintah untuk dapat meminimalisir potensi peluang terjadi tindakan korupsi di ranah birokrasi, salah satunya adalah Pemerintah harus mampu meningkatkan transparansi dalam hal penyediaan pelayanan publik yang bersih dan tidak ribet. Sebagai contoh adalah meminimalisir pelayanan dengan tatap muka dan memaksimalkan pelayanan secara online. Serta tidak kalah penting adalah Pemerintah harus mampu tetap netral dan menindak tegas siapa pun yang melakukan tindakan korupsi, tanpa pandang bulu. (*)

Laman:

1 2 3
0 Komentar