Catatan Harian Dahlan Iskan: Putusan Otak

Catatan Harian Dahlan Iskan (foto: Donald Trump-Instagram, via disway.id)
Catatan Harian Dahlan Iskan (foto: Donald Trump-Instagram, via disway.id)
0 Komentar

Mobil kita sebenarnya sudah punya roda depan. Sudah 20 tahun. Sudah dicoba dijalankan. Gembos satu. Bisa saja yang gembos itu ditambal. Berarti harus dibawa ke tukang tambal ban. Tidak bisa. Roda belakangnya belum ada. Atau baru ada velg-nya.

Di Amerika roda demokrasi dan roda penegakan hukumnya begitu komplet. Muka-belakangnya sama-sama berfungsi.

Dengan dikabulkannya permintaan Trump, maka FBI menahan diri. Biarkan proses pengadilan berjalan dulu. Ini baru pertama terjadi. Barang bukti sebuah tindak pidana dinilai dulu oleh pihak ketiga.

Baca Juga:Mulai Terkendali, Kasus PMK di Jabar Sudah Lebih BaikBernuansa Pantai, Summer Cafe & Resto Subang Tawarkan Promo Diskon untuk Pelajar dan Mahasiswa

Pengadilan pun menunjuk ahli hukum senior untuk menjadi penilai independen itu. Umurnya sudah 78 tahun. Namanya: Raymond Dearie. Ia masih aktif sebagai hakim. Di distrik timur New York. Usia tidak masalah. Dari hakim yang diperlukan kejernihan pikiran dan hatinya.

Trump lega. Sementara. Penetapannya sebagai tersangka tertunda. Apalagi hakim independen itu ia kenal baik. Orang dari Partai Republik. Nama Raymond Daerie diusulkan sendiri oleh Trump. Trump mengajukan dua usulan. Hakim Aileen Cannon menyetujui Daerie

Dearie langsung bekerja. Kemarin ia bikin perintah pertama. Yang harus dijalankan oleh departemen kehakiman sebagai atasan FBI.

Departemen kehakiman harus memberikan semua copy dokumen yang disita ke pengacara Trump. Kecuali yang sangat rahasia.

Ada juga perintah untuk tim pengacara Trump. Mereka harus memasukkan bukti-bukti sebagai dasar tuduhan Trump selama ini: bahwa sebagian dokumen yang disita itu adalah dokumen dari luar yang sengaja ditaruh di rumah Trump oleh FBI.

Perintah itu harus dilaksanakan sebelum akhir bulan ini. Dari perintah ini terlihat Dearie sangat independen. Betapa sulitnya cari bukti tuduhan itu.

Hakim Dearie memang harus menyelesaikan tugas akhir di bulan depan. Untuk itu ia minta dibantu seorang staf. Ia minta anggaran untuk honor staf itu: satu jam USD 500. Sekitar Rp 7,5 juta satu jam. “Saya sendiri tidak perlu dibayar. Saya masih menerima gaji sebagai hakim,” katanya.

Baca Juga:Cegah Peredaran Narkoba hingga Pedesaan, BNN Kabupaten Bandung Barat Bentuk 20 PokjaRidwan Kamil Raih Elektabilitas Nomor 1, Brepotensi Menangkan lagi Pilkada Jabar 2024

Siapa yang harus menanggung biaya itu? Hakim Dearie memutuskan: pihak Trump. Ini karena Trump-lah yang minta penilai independen.

Reputasi hakim independen ini sangat tinggi. Ia juga hakim pada pengadilan yang khusus menangani perkara campur tangannya intelijen asing.

0 Komentar