Asma’ul-Husna

Oleh: Kang Maman Imanulhaq
Dewan Syuro DPP PKB

Seorang Kiai paling tidak harus memiliki empat komponen: intelektual, spiritual, genealogis (baik biologis, intelektual, maupun spiritual), dan moralitas. Kekuatan spiritual datang dari tingkat riyadhah dan akhlak al-karimah.

Riyadhah adalah disiplin spiritual yang dikerjakan para salik (penempuh jalan ketuhanan) dengan mengamalkan wirid tertentu dan cara yang berlainan. Ada yang khusus riyadhoh dengan berpuasa (baik puasa mutih, ngrowot, adem, dll), dalam hitungan hari tertentu: 3 hari, 7 hari, 11 hari, 21 hari, 40 hari, 100 hari dan seterusnya. Sementara auradnya bisa bacaan Al Quran shalawat, hizib, dalail al-khairat dan asma’ul-husna (nama-nama Allah yang mulia). Awal jamiyyah Nahdlatul Ulama (NU) didirikan, erat dengan pesan Mbah Kholil Bangkalan yang menyuruh santrinya, K.H. As’ad Samsul Arifin (1897-1990) untuk memberikan tasbih kepada Mbah Hasyim Asyari, yang disertai beberapa frase asma’ul husna: Ya Jabbar, Ya Qahhar.

Kang Maman pun laris diminta ijazah doa. Sayang ada seorang ibu yang minta amalan asma’ul-husna, justru marah-marah pada kiai kita ini. Pasalnya, saat ia konsultasi tentang suaminya yang jarang pulang ke rumah, Kang Maman memberi amalan Ya Latif 33 kali selama seminggu. Eh, pas beres satu minggu, suaminya malah kawin lagi. Dengan demonstratif, ia membaca dengan keras amalan itu, “Ya Latifu… Yâ Latifu… Ya Latifu… Ya Kethifu… Ya Kethifu!”

TIP 16: ASMA’UL HUSNA
• Berdoalah dengan asma-asma Allah.
• Coba amati telapak tangan kita. Ada guratan angka Arab 81 di tangan kiri, 18 di tangan kanan. Jumlah 99, sejumlah asmaul-husna.
• “Takhallaqê bi akhlaqillah. Berprilakulah seperti prilaku Allah.” (Hadis)

IBRAH
Seorang petani yang sedang beristirahat di bawah pohon beringin berpikir, “Alangkah tidak adilnya Allah, pohon beringin yang besar berbuah kecil, sedang pohon labu yang merambat berbuah besar.” Saat tertidur pulas, tiba- tiba terbangun sambil mengucapkan istighfar, “Ya Allah, maafkan hamba Engkau Yang Maha Adil, andai buah beringin sebesar labu, mampuslah hamba.” Sambil memegang kepalanya yang tertimpa buah beringin, ia meneruskan isti’dzar-nya, “Engkau Al-Ghaffar, masa baru berpikir sudah marah?”(*)