HOKI 5: Ngantuk

SUATU malam, Kang Maman menghadiri pengajian di kampung yang sepanjang siang diguyur hujan. Kebetulan musim tanam, penduduk kampung tersebut, yang mayoritas petani, seharian tandur padi. Maka yang terlihat adalah pemandangan jamaah yang kelelahan dari mengantuk.

Apalagi di beberapa daerah ada kebiasaan, memulai pengajian pada larut malam. Ambil misal, di wilayah Cirebon: Kecamatan Panguragan, dekat makam tokoh sakti, Nyi Mas Gandasari; Kecamatan Jagapura yang ada petilasan, konon, Baridin, tokoh miskin—yang berhasil menaklukan putri orang kaya dengan jimat goyang jaran-nya—dalam dongeng rakyat Cirebon, Kecamatan Lemah Abang, sekitar makam tokoh pendiri Buntet Pesantren, Mbah Muqoyyim.

Begitu pula di wilayah Indramayu, seperti di Tambi Sliyeg—di sana ada Masjid Al Karamah, tempat transit terkenal untuk rombongan ziarah dari Jawa Timur yang hendak melanjutkan ke Banten dari makam Gunung Djati—di tempat ini Kang Maman berkali-kali memulai ceramah pukul 00.00 WIB. Ada lagi yang ‘ajib (aneh), di Sumedang—kota yang terkenal dengan julukan Kota Tahu—ada pengajian yang dikelola Majlis Taklim Asy Syifa, dengan kiai muda penuh misteri K.H. Muhyiddin sebagai mentornya, selalu memulai pengajian justru menjelang adzan Subuh.

Melihat gelagat yang kurang menguntungkan, panitia memohon maaf kepada sang Kiai muda ini. Kang Maman menjawab lembut, karena sama-sama ngantuk, “Jangan khawatir, ini tradisi pengajian. Karena pengajian sarana taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah, sehingga setan menempatkan bala tentaranya di kelopak mata jamaah pengajian.”
Maka dengarlah resep sang kiai kepada jamaahnya supaya tidak ngantuk. “Agar setannya lari dari mata kita, bacalah syahadat, lalu isap jempol tangan dan usapkanlah ke mata. Bila masih ngantuk, isap kembali pakai dahak sedikit. Bila masih ngantuk juga, tolong minta diludahi mata kita oleh orang lain.”

TIP 4: PENGONDISIAN
• Khâtibun-nâs bi gadri uqûlihim, berbicaralah dengan audiens sesuai kemampuan mereka.
• Ciptakan suasana hangat dengan shalawat sambil berdiri, intonasi yang berirama serta humor yang cerdas.
• Bicara singkat, padat dan cepat turun!

IBRAH
Seorang Kuwu (Kepala Desa), dengan semangat 45, berpidato sangat panjang, lebih dari satu jam. Semua menggerutu dan gelisah. Tak terkecuali kiai yang akan menyampaikan mauizhah hasanah (nasihat yang baik). Akhirnya si Kuwu turun juga, walau dengan terpaksa karena pengeras suara mendadak mati (ternyata tukang sound system iseng mematikannya, bete juga kali ya…).

Tapi ketika sang kiai mau naik, tiba-tiba si Kuwu mendahului naik kembali ke podium dan berbicara: “Hadirin, saya di matur ke kiai tentang pidato saya tadi, Beliau bilang hebat. Cuma Beliau bilang … ada yang kurang, yakni masalah PBB (Pajak Bumi dan Bangunan). Jadi, bla, bla… DST.” Jamaah bubar, kiai hanya baca doa.