Kandahar Taliban

BERAPA umur Taliban? 25 tahun, jika dihitung dari tahun 1996. Umurnya 27 tahun jika dihitung dari tahun 1994. Pada umumnya Taliban disebut berdiri di antara tahun itu. Sebab tidak ada seremonial deklarasi Taliban.

Hanya tercatat Taliban dilahirkan oleh pemikiran Mohammad Omar di sebuah pesantren. Omar sudah wafat. Adik iparnya Mullah Abdul Ghani Baradar kemudian yang membawa Taliban terkenal. Jika tidak ada persaingan internal, kemungkinan besar Mullah Baradar yang akan jadi pemimpin tertinggi Afghanistan yang diusung Taliban.

Berapa umur Afghanistan? Tergantung dari mana menghitungnya. Saya akan menyebut umurnya sekitar 274 tahun. Dihitung sejak nama Afghanistan mulai disebut-sebut sejak tahun 1720-an. Di masa Kekaisaran Hotaki. Itulah tonggak kejayaan suku Pasthun. Suku dominan di Afghanistan. Pusatnya di Kandahar.

Dulu, di masa peradaban kuno, sebelum bangsa Arab datang ke tanah Afghanistan, tanah itu didiami oleh bangsa-bangsa percampuran Indo-Eropa. Mereka pewaris bangsa Arya. Berkulit agak pucat, hidung mancung, bermata biru. Di negara dengan garis keturunan ras Arya banyak ditemukan gadis cantik di atas rata-rata. Jika lelaki, lebih tampan. Itulah ras ‘murni’ manusia di dunia, menurut Hitler.

Maka leluhur mereka menyebut Afghanistan sebagai tanah bangsa Arya: Ariana. Kata kuno inilah diabadikan menjadi nama maskapai penerbangan ‘Ariana Afghan Airline’. Melayani penerbangan domestik dan internasional tujuan Moskow, Dubai, India dan Turki.

Afghanistan kuno juga pernah dikuasai Alexander Agung pada 3.000 SM, masih terlihat jejaknya pula di Kandahar. Benteng kuno berusia ribuan tahun. Kemudian bangsa Mongol di bawah komando Jenghis Khan juga pernah menginjak tanah Afghanistan.

Tak heran, jika kemudian, dari Kota Kandahar pula banyak lahir para tokoh disegani. Hingga Kandahar populer disebut sebagai ‘ibu kota’ Taliban. Mereka menggunakan berbahasa pasthun. Mayoritas perempuannya menggunakan Burqa.

BACA JUGA:  Memaknai Sila Pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” Kata Bertuah Bagian Ke Empat Belas

Di Kandahar, kita akan menemukan masjid-masjid megah peninggalan Kekaisaran Hotaki yang berusia ratusan tahun. Sekaligus kota yang terlihat lebih tua dibanding kota-kota lain di Afghanistan. Maklum, ini kota kelahiran Taliban. Dikuasai Taliban.

Kandahar hampir tidak tersentuh pembangunan fisik di masa pemerintahan modern. Berbeda jauh dengan Kota Kabul, ibu kota Afghanistan. Lebih modern dan maju. Kabul saat ini pun, mirip Jakarta tahun 1980-an.

Ada satu pasar tua di Kandahar yang bangunannya mirip arsitektur tahun 1800-an. Terbuat dari bata dan lapisan lumpur tanah, bukan semen. Tapi masih berdiri kokoh. Banyak pula warganya yang hidup sangat miskin. Itu yang saya saksikan melalui channel Youtuber Drew Binsky.

Tapi dari wilayah daratan Kandahar pula tumbuh buah delima terbaik di dunia. Rasanya manis luar biasa. Ukurannya lebih besar. Di sana terdapat sekitar 17 varian delima terbaik dunia. Perang termasuk yang mengancam kelangsungan panen delima. Sebab parit-parit saluran air digunakan untuk perang.

Perang memang sudah jadi bagian dari nadi kehidupan keturunan suku pasthun. Mungkin itu pula keahlian mereka. Pada umumnya, bangsa-bangsa di pegunungan dan gurun identik seperti itu.

Berawal dari tradisi berebut sumber daya alam untuk hidup. Hingga kemudian di era modern mereka berebut kekuasaan. Mereka memang punya keberanian dan jiwa ‘bonek’ di atas rata-rata. Sejak tahun 1900-an, sudah 11 raja atau penguasa yang digulingkan di Afghanistan. Baik secara damai maupun brutal.

Lanskap pemandangan Kota Kandahar, Afghanistan yang sering disebut ‘ibu kota’ Taliban. Salahsatu kota tertua di Afghanistan.

Apakah Afghanistan pernah damai dan tentram? Kabarnya, negeri Afghanistan yang dihuni sekitar 32 juta penduduk itu pernah berada dalam kondisi damai antara tahun 1933-1973. Di masa kepemimpinan Raja Zahir Shah. Setelah itu, perang lagi, berebut kekuasaan lagi. Hingga sekarang.

BACA JUGA:  Memaknai Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa Arogansi Beragama Bagian Ke Lima Belas

Hingga di fase Afghanistan menjadi sorotan dunia. Sekaligus rebutan dunia. Saat manusia dilanda mabuk ideologi. Antara komunis dan kapitalis. Juga Afghanistan menjadi rebutan kepentingan dua ideologi besar itu.

Afghanistan pernah dikuasai Uni Soviet, maka suku pasthun pula yang bergerak memanggul senjata melawan. Dibantu kubu pengusung ideologi kapitalisme yaitu Amerika. Mereka dilatih, dipersenjati Amerika.

Para pejuang Afghanistan pun mengundang siapa pun yang ingin membantu. Dengan bahasa ‘jihad’ maka sudah cukup memantik api jiwa korsa sesama muslim di seluruh dunia. Medio 1986-1990 ribuan mujahid berdatangan membantu para pejuang Afghanistan. Pusat pelatihan dibuka di Peshawar, Pakistan.

Di antara ribuan mujahid itu ada Abu Wildan yang hari ini sudah menetap di Subang. Ia datang bersama ratusan mujahid lainnya dari berbagai negara Asia. Abu Wildan tiba di Peshawar, Pakistan pada musim dingin tahun 1986. Di pusat pembelajaran para generasi muda calon pejuang dan mereka yang ingin berjuang di medan tempur Afghanistan.

“Semacam pusat belajar. Di situ banyak anak-anak mujahid yang lagi berperang di Afghanistan. Bapaknya perang, anaknya belajar. Kalau sudah besar, mereka yang akan menggantikan bapaknya berperang,” kata Abu Wildan kepada CLUE.

“Apa yang dipelajari di sana?” kata saya.

“Ya belajar ilmu agama. Juga ada wajib militer. Karena dipersiapkan untuk maju ke front peperangan di Afghanistan,” katanya.

“Teknik militer apa yang dipelajari?”

“Semua kan harus bisa. Menggunakan senjata. Membangun (jembatan), menghancurkan. Kebanyak menghancurkan. Infantri dan lainnya”.

“Berapa lama latihan untuk bisa ditugaskan di front?”

“Itu tidak pasti. Kan dipilih. Saya ini disebut oleh komandan perang, bukan untuk Syahid di Afghanistan. Katanya begitu, ya sudah, bagaimana lagi. Paling saya yang mengantar mujahid ke sana (front),” kata Abu Wildan.

BACA JUGA:  Seri belajar Filsafat Pancasila 8

Menurut Abu Wildan, saat itu belum terdengar nama Taliban. Menurutnya kata Taliban ya sebutan-sebutan biasa saja. Tidak menyeramkan. Itu sebutan untuk anak-anak yang belajar. Dalam bahasa Arab.

“Anak-anak mujahid yang belajar inilah kemudian setelah besar yang masuk ke Taliban,” katanya.

Abu Wildan kemudian pulang ke Indonesia setelah 6 tahun berada di perbatasan Afghanistan. Tidak lama kemudian Taliban berkuasa. Hanya sekitar 5 tahun. Lalu di tahun 2001 diserang oleh Amerika. Kekuatan besar yang dulu pernah membantu Afghanistan melawan Uni Soviet.

Kini Abu Wildan mengaku gembira Taliban bisa menguasai Afghanistan. Taliban ya bagian dari bangsa Afghanistan itu sendiri. Ia berharap Taliban bisa memimpin Afghanistan lebih baik. “Dulu memang setelah menang wawasan memenej negara kelihatannya masih kurang. Sekarang kan sudah pintar-pintar. Saya yakin Taliban bisa memimpin Afghanistan lebih baik,” katanya.

Baca juga: Taliban is Back!

Sementara menurut Ulil Absar Abdalla, Taliban bukan pula kelompok ekstremis. Mereka bagian dari rakyat Afghanistan yang tidak ingin Afghanistan dikuasai negara lain.

“Taliban tidak punya idiologi seperti ISIS. Ya mereka menganut nasionalis. Ingin negara mereka bebas dan mereka yang memimpin. Sama seperti dulu kita berjuang ingin Indonesia merdeka,” kata Ulil saat diwawancara tv nasional.

Abu Wildan berharap pemerintah Indonesia menguasai kepempinan Taliban di Afghanistan. Sedangkan Ulil meminta para pihak tidak berlebihan menyikapi kemenangan Taliban. Sebab kelompok ekstremis sudah kehilangan momentum global. ISIS sudah bubar.

Samentara saya ingin mencicipi buah delima Kandahar yang manis itu. Juga street food khas Afghanistan: Bolani. Semacam perkedel kentang ukuran lebar, gepeng, ditabur daging dan aneka bawang. Disajikan oleh gadis pasthun keturunan Arya.(*)