Klimaks Drama Subang Sejahtera

ADA klimaks. Ada antiklimaks. Begitu biasanya plot sebuah alur cerita atau drama. Saat klimaks penonton akan merasakan sensasi seru, gembira, menantang atau sedih. Suasana dramatis.

Saat antiklimaks kita merasakan sensi cooling down, mengecewakan, happy ending atau bahkan sengaja ceritanya ‘digantung’. Bisa juga pemirsalah yang menyimpulkan. Seperti akhir diskusi ILC.

Tergantung bagaimana sutradara. Tergantung penulis naskah. Tergantung inginnya produser. Tergantung yang lagi laris ‘cerita’ bagaimana.

Ibarat sebuah drama. Plot kompetisi open bidding direksi BUMD Subang Sejahtera (SS) juga terasa seru. Klimaksnya saat pemberhentian tiga direksi SS. Hingga proses seleksi. Pemirsa saling menebak, siapa yang akan menduduki jabatan direksi SS selanjutnya. Banyak nama beredar. Banyak prediksi diumbar di jagat medsos.

Baru di tahun ini ‘drama’ BUMD ini seru. Biasanya hanya seru di ruang dewan yang tertutup. Mengapa? Karena isunya dibuka. Karena pemerintahnya berani membuka. Karena media berani memberitakannya. Karena masyarakatnya menyikapinya.

Polanya sekarang: pemerintah-media-publik. Dulu seringnya begini: pemerintah-media-DPRD. Pola yang pertama akan jadi seru. Apalagi sekarang publik menggunakan medsos. Pola kedua sudah jadul, elitis dan terlalu banyak kepentingan. Bukankah DPRD juga mewakili publik? Iya, tapi mereka sering memfilter kepentingan publik.

Akhirnya permasalahan SS tersebar luas. Isunya beragam: bangkrut, rugi, dikorupsi, direksi tidak kompeten, tidak punya bisnis utama, modal habis, dan sederet isu lainnya beredar.

Jelas ini menantang banyak orang untuk memahaminya. Akhirnya banyak orang yang ingin tahu, cari informasi sana-sini. Apalagi di puncak klimaksnya bupati memberhentikan para direksi yang baru satu tahun menjabat. Sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh bupati sebelumnya.

Dalam sebuah diskusi saya menyampaikan pendapat: BUMD jadi ramai karena sekarang diurus oleh Pemda. Tidak dibiarkan ‘asal ada’. Dulu sepi karena dianggap tidak penting. Yang penting ada. Yang penting jalan.

Akhirnya masuk fase open bidding. Respon publik bagus. Yang daftar 31 orang. Bersaing untuk tiga jabatan direksi. Yang daftar ada dari Bandung, Purwakarta, Karawang juga Jakarta.

Panitia seleksi (Pansel) bersemangat. Dilihat profilnya banyak yang bagus-bagus. Saya sempat baca profil para pendaftar. Tapi kebanyakan memang pekerja. Bukan perintis usaha. Tapi ada satu dua yang punya pengalaman panjang.

Pansel pun merumuskan soal untuk seleksi. Juga menantang para peserta. Soal yang harus dijawab cuma satu. Menjelaskan masalah di internal BUMD SS lalu apa solusinya? Bahkan hasil audit keungan pun menjadi bagian dari masalah itu.

Wah seru! Hanya yang mengerti manajemen perusahaan yang bisa menjawabnya. Keseruan bertambah. Peserta harus menjawab secara tertulis. Bukan diketik. Dijawab saat tes tulis. Saat itu juga. Seperti ujian mahasiswa.

Lalu dalam sesi tes wawancara, mereka harus menjelaskan gagasan apa yang ditulis. Fokus menyampaikan solusi untuk mengatasi masalah SS.

Menurut saya, Pansel-nya juga bagus. Lima orang dari beragam latar belakang: akademisi cum pengusaha, rektor, mantan direktur BUMD besar, dua orang mewakili Pemda Subang.

“Saya puas. Pertanyaan Pansel-nya juga bagus. Simpel tapi kita harus jawab mendalam. Kami peserta benar-benar tertantang. Terimakasih,” kata seorang peserta yang saya tanya usai tes wawancara di Lembah Gunung Kujang.

Suasana tes tertulis para kandidat direksi BUMD SS di Lembah Gunung Kujang.

Akhirnya Pansel berhasil menyeleksi 9 peserta. Disodorkan ke bupati untuk dites langsung oleh bupati bupati selaku pemegang saham. Tugas Pansel selesai. Tinggal tugas pembantu Pansel yang menyiapkan administrasi.

Bupati benar-benar bersemangat. Satu persatu peserta diwawancara. Ditanya visi dan pengetahuannya untuk membesarkan SS. Dari mulai pukul 11 siang. Istirahat. Lalu selesai sekitar pukul 15.00.

Wawancara dengan bupati tidak kalah seru. Sebab, bupati pun seorang pengusaha. Ia mengeluarkan pengetahuan dan pengalamannya. Wawancara itu ibarat seorang CEO yang mencari direksi yang handal.

Ada dua hal yang diuji bupati. Mental dan gagasan. Dari sisi mental, bupati menguji ketulusan dan motivasinya memimpin SS. Dari sisi gagasan, mana gagasan realistis yang bisa membesarkan SS. Tanpa modal besar tapi menjalankan bisnis yang profitable serta realistis. Beberapa orang terlihat santai. Beberapa peserta juga terlihat kebingungan menjawab pertanyaan CEO itu.

Di luar sana, publik masih menerka, siapa yang dipilih bupati memimpin SS.

Tibalah antiklimaks. Pemda mengumumkan tiga nama direksi. Direktur Utama Aziz Muslih, Direktur Operasional Haerul Anwar yang biasa disapa Mas Bobi, Direktur Keuangan Deden Insan Nugraha.

Dua orang pertama saya mengenal kemampuan dan reputasinya. Pak Aziz saya kenal sejak sekitar tahun 2011 lalu. Saat di awal dia mendirikan perusahaan ritel Madani Home. Saya sempat meliput usahanya. Sedikit tahu juga latar belakangnya. Saya pun mengikuti perkembangan usaha miliknya. Banyak berdiri cabangnya di berbagai tempat di Subang.

Pak Aziz punya pengalaman panjang di ritel bahan bangunan dan perabotan rumah. Maklum beliau pernah menjadi Manager Area perusahaan rite lasing Ace Hardware. Tentu kalangan menengah ke atas mengenal brand ternama itu.

Pernah memimpin ribuan karyawan dan tentu memiliki kemampuan memenej tim dan mengejar target perusahaan. Apalagi di perusahaan ritel, target penjualan menjadi ukuran kinerja. Itulah nyawa perusahaan.

Setidaknya ilmu itu yang diterapkan di perusahaan Madani Home yang ia dirikan. Tentu beda target pasar. Beda pula produknya. Perusahaan ritel miliknya ditujukan untuk menjangkau masyarakat menengah ke bawah.

Bukan perkara mudah mendirikan Madani Home. Aziz keluar dari Ace Hardware di puncak karir. Meninggalkan gaji sekitar Rp100 juta/bulan. Keputusannya ditangisi keluarga. Menyangsikan dan meragukan keputusannya.

Tapi jiwa usaha Aziz benar-benar sudah matang. Keputusannya bulat lalu memilih mendirikan usaha sendiri. Akhirnya berhasil. Pendapatannya lebih dari gaji yang didapatkan. Malah kini merambah usaha properti dengan mendirikan perumahan. Lalu mendirikan sekolah SD-SMP. “Karena kuliah saya di IKIP (keguruan). Ya sudah saya mendirikan sekolah,” katanya.

Ko sekarang mau jadi dirut BUMD?

Tidak mudah bagi Aziz untuk memutuskan dirinya mendafar ikut open bidding. Semula bahkan orang tuanya melarang. Khawatir masuk dalam lingkaran yang membahayakan.

Tapi akhirnya Aziz memutuskan untuk mencoba terjun ke BUMD. Ia berharap ilmunya bisa bermanfaat untuk memperbaiki BUMD. “Di perusahaan sendiri sudah ada yang handle. Sudah bisa ditinggal. Di perusahaan sendiri memang bermanfaat juga untuk orang banyak, tapi di BUMD mungkin kita bisa bantu memberikan PAD. Bermanfaat untuk masyarakat yang lebih luas,” katanya mantap.

Apa yang akan dikerjakan di BUMD? “Saya minta izin ke bupati untuk mengelola pasar. Tanpa modal besar, bisa berjalan. Ke supplier hanya minta waktu penjualan saja,” katanya.

Lalu di posisi Direktur Operasional ada Mas Bobi. Saya pun sudah lama mengenal politisi muda PAN ini. Saat menjadi anggota DPRD Subang. Saat sama-sama dalam kegiatan Pertamina ONWJ.

Ia orang pantura tulen. Konstituennya kebanyakan petani dan nelayan. Selalu vokal dalam forum hearing DPRD. Saya pun sering diskusi panjang. Ia menghargai profesi jurnalis dan suka diskusi dengan mahasiswa. “Dulu saya yang mengkritisi BUMD SS di forum dewan. Sekarang saya ingin memperbaikinya,” kata Mas Bobi dalam sesi wawancara direksi.

Belakangan ia tidak lagi mencalonkan diri menjadi dewan. Fokus menjadi pengusaha udang. Pelaku budidaya tambak udang vanamei. Isu yang selalu ia perjuangkan di dewan.

Belakangan, dia pun menjadi ambassador e-fishery. Perusahaan penjualan pakan ikan berbasis elektronik. Mertua saya sendiri memakai produk itu. Akhirnya saya dan Mas Bobi sering diskusi tentang pakan ikan. Bagaimana agar petani ikan tidak kesulitan mendapat pakan.

Bagaimana jika nanti business plan jadi Dirops BUMD SS? Idenya sederhana: Kerjasama dengan BUMN untuk penjualan pakan ikan. Tanpa modal. Pasar sudah tersedia.

Bagaimana dengan Dirkeu Deden Insan Nugraha? Saya belum mengenalnya. Tapi  melihat di riwayat pekerjaannya memang beliau lama di Bank BJB. Bekerja di Bank BJB sejak tahun 1982. Pendidikannya pun S2 manajemen keuangan. Kelihatannya sangat mumpuni di bidang manajemen keuangan.

Akhirnya antiklimaks. Happy ending. Kita tinggal menyaksikan tiga orang terbaik Subang ini menjalankan BUMD SS. Mereka punya pengalaman panjang. Saatnya mengabdi untuk kemajuan Subang.

Kita tidak berharap kehebohan yang berlebihan kecuali heboh BUMD mendapatkan PAD miliaran. Heboh BUMD Subang ekspansi kerjasama. Heboh direksi BUMD Subang -suatu saat- naik level ke BUMN karena prestasi yang membanggakan. Semoga.(*)