Memaknai Sila Kedua “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab” Bagian Ke Enam “Tiwikrama”

Seri Belajar Filsafat Pancasila ke 31

Cerita tiwikrama ternyata tidak hanya dimiliki oleh epos Mahabarata. Hollywood pun punya epos tiwikrama dengan simanusia Hijau, Hulk-nya. Bedanya, tiwikrama Kresna dalam epos Mahabarata dipicu oleh kesaktian, namun Si Manusia Hijau Hulk yang diperankan bergantian oleh Eric Banna, Edward Norton dan lainnya, bertiwirama karena paparan sinar Gamma. Namun kesamaannya, pemicu tiwikrama adalah emosi yang hampir tak terkendali, membuncah keluar menggerakkan sel-sel di tubuhnya bermetamorfosis menjadi sesuatu yang lain, mengerikan. Hulk, berbadan kekar, besar dan kaku. Siap merusak. Bisa jadi Marvell terinspirasi tiwikramanya Sri Kresna. Namun dibuat ilmiah dan tidak mitos.

Tiwikrama juga sering kali terjadi dalam kehidupan nyata.

Sebut saja M, tak bermaksud untuk menghina ritual apalagi teologi agama jemaah agama lain. M hanya protes terhadap pelantang yang membuatnya merasa terganggu. Nada protesnya pun disampaikan dengan cara yang pelan dan disampaikan kepada kenalannya, bukan kepada pengurus tempat ibadah. Namun kemudian, berita “protes” M tersebut berkembang menjadi liar melebihi bentuk aslinya. Percis seperti “tiwikramanya” Sri Kresna atau Hulk. Menjadi hoaxs yang menggurita, menghancurkan, mengiris nilai kemanusiaan bahkan rumah Tuhan pun dirusak. Tak terkendali.

Di media sosial pun, hampir setiap saat, terjadi “tiwikrama”. Dorongan ingin menjadi selebriti media sosial, mendorong orang untuk selalu mengupdate status. Entah sedang makan, jalan-jalan, ngobrol ngalor-ngidul, tak terlewat untuk di update di status media sosialnya. Hingga ketika terjunggal di selokan pun menjadi status menarik. Tentu dengan menyertakan foto-foto narsis dan objek yang ada di hadapannya. Untuk diviralkan dan menjadi komoditas yang bernilai jual.

Kemalasan, ketaksabaran dan dorongan narsis di media sosial alias update status, -orang menyebutnya syindrom nomophobia -asyik dengan handphone saat dengan orang lain dan fear of missing out (FOMO) yaitu takut ketinggalan informasi di media sosial. Syindrom tersebut menumpulkan daya kritis untuk mencari benar dari broad cast yang diterima.
Ketumpulan daya kritis ini menyebabkan banyak broad cast tak sahih di media sosial memicu ketumpulan kolektif. Dan melahirkan “tiwikrama”aksi kebrutalan yang tak manusiawi. Orang tak salah pun jadi korban. Belum kerusakan harta dan benda. Tiwikrama mewujud amock, kata Pramoedya AnantaToer.
Dan terjadinya “tiwikrama”kerusuhan sosial sering kali dipicu oleh kapitalisasi politik identitas berbasis sosial-politik dan agama. Dengan bumbu kepentingan dan keserakahan menjadi sedap tiwikrama amock dahsyat.

Kejadian yang menimpa M, menyebabkan “tiwikrama” pengrusakan beberapa tempat ibadah. Kejadian Ciketing beberapa waktu lalu, menyebabkan “tiwikrama”pengrusakan rumah dan pengusiran. Juga banyak terjadi di daerah lain. Orang perorang bertiwikrama dengan kelompok yang mudah mengusung isu agama dan identitas dan kepentingan tertentu mendorong menjadi “raksasa” kebrutalan tanpa rasa kemanusiaan.

Bahkan kesaktian Sri Kresna dalam bertiwikrama tak ada arti, dibanding tiwikrama hoaxs, dan pemanfaatan politk identitas, agama, sosial yang menjadi raksasa kebrutalan massa tanpa pri kemanusiaan.
Dunia pewayangan memang memberikan makna, walau lakonnya ditata sesuai alur cerita ki dalang. Dalam dunia pewayangan, lakon tiwikrama selalu terjadi. Bedanya, dalam lakon wayang, tiwikrama muncul setelah kesabaran dan kebijaksanaan habis, lalu murka, lalu begitu saja berubah menjadi berbagai bentuk yang menyeramkan dan ganas. Pembaca boleh berimaginasi sendiri, macam tiwikramanya Hulk, Allien atau Ghozilla di film-film fiksi.

Politik Identitas bertiwikrama menjadi benteng baja paling tebal yang menabalkan kemanusiaan dan keadilan. Menabalkan kepekaan kemanusiaan dan keadaban individu maupun publik. Politik identitas yang berbasis agama, sosial, ekonomi, tak mengenal peri kemanusiaan. Sebab yang ada adalah kepentingan dan keserakahan semata. Dengan memanfaatkan sentimen kecil saja, politik identitas menghasilkan manusia-manusia yang berperilaku seperti “Butho”.

“Bila mereka sudah melawati titik terdalam dari ketakutan dan kecurgaannya,-satu golongan mana di bawah matari Tuhan ini, yang tidak bisa berpikir rasionil – dia akan melakukan dalam ledakan membabi buta yang dinamai amock,” begitu kata Pram dalam novel Anak Semua Bangsa, 247.

Menariknya lagi, kepentingan pribadi sering kali bertiwikrama menjadi keserakahan yang menghabiskan semua hal di muka bumi. Hingga batu,tanah, air, api dan nyawa manusia pun disantapnya. Keserakahan yang menghalau rasa kemanusiaan, merakuskan diri dalam memangsa keadaban tanpa rasa malu dan bersalah.

Sila ke dua menghadapi tantangan twikrama politik identitas yang melahirkan amock tanpa rasa kemanusiaan dan keadaban. Seharusnya Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab bertiwikrama menjadi keadilan penguasa yang menghamba kepada kemaslahatan rakyat. Bertiwikrama menjadi keadaban individu, keadaban penguasa dan keadaban publik yang menghargai kemanusiaan dan menjunjung keadilan. Tiwikrama yang masih jauh. Yang muncul adalah tiwikrama Bhuto keserakahan dan kebengisan atas dasar kerakusan. Mari kita renungkan.