Memaknai Sila Kedua “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab” Bagian Ke Tujuh “Pengungsi”

Seri Belajar Filsafat Pancasila ke 32

Lahir dan dibesarkan di kampung, bergaul dengan sanak saudara, tetangga, teman dan kerabat. Adalah kehidupan yang memberikan guratan dalam pembentukan karakter, sikap dan budaya. Namun tiba-tiba, kenangan yang terpatri tersebut, membuncah, pecah berkeping, karena sematan identitas yang tak lagi sama dengan sanak saudara, teman dan kerabat sekampung.

Ketika perbedaan keyakinan menjadi tembok baja tebal diantara sesama. Garis keturunan terputus dan kesamaan budaya terhenti. Seolah, manabalkan, inilah keyakinan yang benar dan yang lain salah. Ditambah dengan prasangka dan fanatisme kelompok serta individu. Menghancurkan ikatan-ikatan keluarga, kenangan bersama semasa kecil, kesamaan budaya bahkan kemanusiaan.Yang tak sama harus terusir! Enyah! Minggat! Dan tak pantas hidup berdampingan. Itulah perasaan pengungsi Syiah di Transita Sidoarjo yang telah terusir sejak 2012, dari tanah kelahirannya.

Tak beda dengan pengungsi Syiah di Transito Sidoarjo atau pengungsi Ahmadiyah di Lombok Utara, yang terusir dari tanah kelahiran. 723 ribu warga etnis Rohingnya terusir dari tanah tumpah darahnya di Myanmar. Terkatung-katung, terlantar di negeri orang. Hanya karena beda etnis dan agama. Padahal mereka adalah ras asli di Burma.

Orang Skotlandia, Francis Buchanan, mungkin diutus oleh pemerintah kolonial Inggris menuliskan laporan “Asiatic Research 5” yang terbit tahun 1799. Laporan Buchanan menyebutkan bahwa kaum Muhammedan -merujuk pengikut Nabi Muhammad atau Muslim, telah lama menetap di Arakan. Mereka menyebut diri sebagai Rooinga yang berarti masyarakat pribumi asli Arakan. Entah karena laporan Buchanan, Inggris melakukan kolonialisasi Burma 25 tahun kemudian, yaitu sejak tahun 1824 -1948.

Dua tahun setelah melakukan kolonisasi Burma (Myanmar), dan mungkin karena iseng atau dorongan hobby meneliti antropologi atau kepentingan kolonial, Inggris melakukan sensus di Burma tahun 1826, 1872, 1911 dan 1941. Hasil sensusnya menemukan bahwa, masyarakat Rohingya yang diidentifikasi sebagai Muslim Arakan adalah salah satu Ras Asli di Burma. Ya Rohingnya adalah identitas etno-linguistik yang berhulu ke Bangsa Indo-Arya di India dan Bangladesh. Bahasa Rohingya Myanmar pun masuk dalam rumpun dialek Indo-Arya, terdaftar dengan kode “rhg” dalam tabel ISO 639-3. Kode tersebut terdokumentasi di SIL (Summer Institute of Linguistics) Internasional -lembaga yang mempelajari, mengembangkan dan mendokumentasikan bahasa-bahasa di dunia.

BACA JUGA:  Memaknai Sila Pertama KETUHANAN YANG MAHA ESA Nurhadi dan Sofyan Tsauri Bagian Ketiga Belas

Rohingya Ras Asli Myanmar, namun berlawanan dengan mayoritas rakyat Myanmar yang Sino-Tibet. Tapi tetap saja, karena tak sama agama,warna kulit, budaya, dan identitas, Rohingnya ditolak, dianggap bukan Bangsa Myanmar.

Beda warna kulit, agama, paham, keyakinan dan pilihan politik bisa menjadi alat untuk menistakan, menyesatkan, mengusir, merusak, menjarah, membakar bahkan memperkosa nilai kemanusiaan. Dipersekusi, didiskriminasi, bahkan jika perlu dilenyapkan. Hingga tak ada etnis yang berbeda di muka bumi ini, selain identitas yang sama dengannya.

Padahal Tuhan menciptakan manusia dalam berbagai macam suku, budaya, bangsa dan agama. Agar mereka saling mengenal -berkolaborasi, bekerjasama, dan menghargai, bukan untuk saling meniadakan.

“Setiap orang pasti rindu kampung halamannya. Rindu atas kemerdekaan dan hidup secara merdeka. Kalau disini, kami seperti dipenjarakan sebetulnya. Cuma kami mau bagaimana lagi, kami harus bersabar karena ini bagian dari ujian” ungkap Tajul salah satu pengungsi Syiah di Transito Sidoarjo.

Gumaman lirih “tak merdeka” Tajul di atas, juga pada pengungsi Ahmadiyah di Lombok Utara dan mungkin juga pengungsi Rohingnya. Dan tentu para pengungsi di seluruh dunia, yang terusir dari tanah kelahirannya. Tak merdeka di negeri sendiri. Seperti juga Aung San Suu Kyi yang direbut kemerdekaannya oleh Junta. Seolah karma, yang tak memerdekakan Rohingnya ketika dirinya merdeka.

Agama hadir untuk memuliakan manusia dan menghargai kemanusiaan. Bukan dijadikan alat untuk menistakan kemanusiaan atas nama beda keyakinan, agama, warna kulit, dan seabrek identitas lainnya, yang disematkan oleh para “juru da’wah” tak tulus.

“Penindasan serta kesewenang-wenangan
Banyak lagi, teramat banyak untuk disebutkan
Hoi hentikan, hentikan jangan ditersukan
Kami muak dengan ketidakpastian dan keserakahan”P

asti pembaca kenal lirik lagu Virgiawan Listanto tersebut. Teramat banyak untuk disebutkan tragedi kemanusiaan yang terjadi. Hentikan! Jangan diteruskan! Jangan keserakahan, klaim kebenaran dan kepentingan-kepentingan lainnya membutakan mata hati.U

BACA JUGA:  Memaknai Sila Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa Bagian Kedelapan Belas

ndang-Undang Dasar (UUD) 1945 Pasal 29 menyebutkan negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaanya.“

Tapi aturan itu akan selalu kalah disepanjang sejarah Indonesia kepada kekuatan massa” kata Tajul. Erangan dari korban kemanusiaan yang telak menembus ulu hati penguasa.S

ila Ke dua “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab” seharusnya menjaga nilai kemanusiaan dan hak kemanusiaan orang-orang yang ada di pengungsian Transito Sidoarjo dan Lombok Utara atau korban kemanusiaan lainnya. Dan tak kalah oleh sekelompok massa.

Mereka terusir dari tanah kelahirannya karena beda keyakinan dan “dianggap” sesat. Terserah lah soal “sesat” atau “tidak sesat” atau penghakiman lainnya. Tapi Sila Ke dua dan pasal 29 UUD 1945 harusnya menjaga manusia-manusia Indonesia bisa bersikap adil dan beradab. Tidak menistakan manusia dan kemanusiaan! Hanya karena beda paham, dianggap sesat. Itu tak adil dan tak beradab!“

“Selamat datang malam”“

Titip berjuta rindu untuk mereka di kampung halaman”

“Aku disini, biarkan membeku karena duka”
“Sebab hari, terus beranjak menoreh luka”

Puisi Agus Suryadi berjudul “Puisi Berjuta Sepi” seolah mewakili kerinduan sekaligus duka dan luka, para pengungsi Syiah, Ahmadiyah, Rohingnya dan para pengungsi di seluruh dunia akan kampung halaman. Gumaman para pengungsi menyampaikan pesan kepada kita: keyakinan kita memang beda, tapi pandang dan hargai kami sebagai manusia. Kami bukan borok, luka bernanah, belatung atau hewan najis yang pantas untuk diusir atau dilenyapkan. Tuhan yang sama kita sembah pun masih menyayangi kami. Adakah secelah kasih sayang di hatimu? Mari kita renungkan. Salam Kang Marbawi