Memaknai Sila Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa Bagian Kedelapan Belas

Seri Belajar Filsafat Pancasila ke 25

Manunggal

Oleh: Kang Marbawi

Salam sejahtera, untuk saudaraku sebangsa setanah air! Mari kita cintai Indonesia, dengan menguatkan kepekaan terhadap sesama.

Ketika Ibrahim mencari konsepsi ketuhanan, dia mencoba mengenal Tuhan dengan memperhatikan fenomena alam. Hingga Bapak para nabi ini menemukan Tuhan sejatinya. Penemuan Tuhan sejati yang melahirkan agama-agama Samawi, merujuk kepada sumber wahyu dari langit melalui perantara Jibril.

Begitupun Sang Budha, di bawah pohon Bodhi yang dikenal sebagai Ficus Religiosa, Banya, Pipal, Bo-gaha atau pohon Dewa, sang Budha menemukan pencerahan. Di sinilah mula ajaran kebajikan Sang Budha. Maka tak heran, umat Budha memberikan penghormatan yang lebih dan menjadi ritus utama dengan mengelilingi Pohon Bodhi dalam ritual ibadahnya.

Entah terinspirasi oleh Sang Budha, Soekarno pun mendapatkan pencerahan setelah melakukan perenungan di bawah Pohon Sukun, ketika diasingkan di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur tahun 1934-1935. Pohon Sukun yang buahnya banyak menjadi kudapan yang menghidupi tukang gorengan di pinggir jalan tersebut tak seberuntung Pohon Banya, yang disakralkan. Namun karena merenung di bawah Pohon Sukun, Sokarno menemukan intisari dari Pancasila. Bisa jadi kita pun akan mendapatkan pencerahan jika sering merenung di bawah pohon, sambil “ngadem”.

Dari perenungannya di bawah Pohon Sukun, Soekarno menjelaskan penemuan konsepsi Ketuhanan dalam Pancasila berasal dari sejarah agama-agama awal nenek moyang Bangsa Indonesia. Soekarno menggali dan terus menggali sampai ke sumsum budaya Bangsa Indonesia untuk menemukan konsepsi ketuhanan nenek moyang Bangsa Indonesia hingga kedatangan agama-agama samawi dan agama Ardhi. Dan lahirnya konsepsi “Ketuhanan” yang ditawarkannya sebagai dasar negara dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) 1Juni 1945. Ketuhanan yang menyejarah terkait keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Keyakinan agama kita yang tercakup dalam Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Keyakinan akan konsepsi Tuhan yang menyejarah. Artinya setiap keyakinan agama melakukan proses pencarian yang tidak pernah selesai. Tidak hanya itu, proses pencarian itu dilakukan dengan proses dialogis antara dirinya dengan teks-teks kitab suci dan sublimasi (perubahan kadar keyakinan/keimanan) dari proses intelektualisasi yang dilakukan kita. Proses pemahaman terkait ketuhanan tersebut tidak pernah memastikan konsep tunggal soal Tuhan. Terbukti bahwa konsep ketuhanan masing-masing keyakinan/agama berbeda. Dan inilah yang harus dihormati sebagai proses dialogis-teologis.

Konsepsi yang menyejarah tersebut, melahirkan sila pertama berbunyi “Ketuhanan” bukan “Tuhan Yang Maha Esa”, tapi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Seperti pidato Soekarno terkait tawaran dasar negara harus berdasarkan “Ketuhanan” yang berkebudayaan.
Kenapa “Ketuhanan” bukan “Tuhan” Yang Maha Esa?

Secara antropologi manusia memiliki keterhubungan dengan Tuhan. Karena keterhubungannya tersebut, maka manusia, secara teologi membutuhkan Tuhan. Seperti yang disabdakan para sufi “siapa yang mengetahui dirinya, maka dia mengetahui tuhannya”. Karena konsep ketuhanan sangat beragam. Pendekatan kepada Tuhan juga memiliki banyak jalan dan cara. Pengikuti Tasawuf melakukan tarekat untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Antropologi mencari tuhan dengan memelajari sejarah agama-agama. Filsuf dengan cara perenungan akan eksistensi Tuhan hingga melahirkan nihilisme eksistensi tuhan atau atheis, karena kelelahan pikirannya yang tidak sampai kepada konsepsi Tuhan.

Maka kitab suci yang dimiliki agama menjadi katalisator atau tempat kembali sekaligus menjadi koridor untuk berdamai antara logika dan keimanan. Agamalah yang dapat “menekuk”-istilah yang saya pinjam dari diskusi dengan seorang teman, keliaran logika pikiran. Agama dengan kitab sucinya memiliki daya “tekuk” agar pikiran memiliki kode etik dalam mencari tuhan. Kode etik tersebut adalah “iman” itu sendiri. Kesalahan kita adalah pikiran kita sudah “menekuk” lebih dahulu sebelum melakukan pencarian, karena rasa takut salah dan dicap sesat. Ketakutan tersebut menyebabkan kejumudan berpikir.

Konsep ketuhanan yang menyejarah tersebut diikat dalam istilah “Maha Esa”. Kata “maha” ini menunjukkan konsep tuhan yang tak bisa diselesaikan oleh akal pikiran belaka. Iman memberikan bimbingan kepada konsepsi ketuhanan yang menyejarah tersebut. Sementara kata “Esa” bukan menunjukkan bilangan numerik. Namun kemanunggalan antara manusia dengan tuhan, antara tuhan dengan alam raya, dan antara sesama manusia.

Manusia akan kehilangan kesejatian dirinya ketika melepaskan diri dari kemanunggalan dengan tuhan. Kemanunggalan manusia dengan tuhan (keyakinan) tersebut akan terlihat dalam perilaku etik manusia. Ketika manusia meyakini ketuhanan yang dianutnya, maka semua perilaku sosialnya akan dihubungkan dengan perangkat keyakinan kepada tuhannya.

Sebagai contoh, ketika manusia memaksimalkan potensi alam raya dengan serakah, maka bencana akan hadir sebagai balasan. Ini menunjukkan konsepsi pengelolaan alam raya tidak lepas dari konsepsi kemanunggalan manusia dengan tuhan dan manusia dengan alam raya. Kerusakan alam raya akibat keserakahan menunjukkan terputusnya kesejatian diri manusia dari konsepsi ketuhanan yang diimaninya. Dibuktikan dengan firman Allah dalam kitab suci: “telah nampak kerusakan dimuka bumi akibat keserakahan ulah tangan manusia”. Alam raya tidak lepas dari Tuhan. Jika lepas maka alam akan dieksploitasi karena menggap alam tidak terhubung dengan Tuhan. Inilah pentingnya konsep hifz bi’ah -menjaga alam raya/lingkungan dari segala kerusakan, sebagai kemanunggalan antara manusia dengan Tuhan dan manusia dengan alam.

Kemanunggalan manusia dengan Tuhan juga ditunjukkan dengan memulyakan manusia, memulyakan lingkungan, berperilaku etik -tidak koruptif, tidak sewenang-wenang, tidak menindas-, sebagai cerminan dari keyakinannya kepada tuhan. Kemanunggalan manusia dengan tuhannya akan tercermin dalam tindakan sosial yang humanis. Itulah manunggal manusia dengan tuhannya yang Maha Esa-Tunggal.

Tindakan sosial dan konsepsi keimanan tidak pernah terpisah. Maka semua tindakan sosial manusia harus memperhatikan enam hal pokok dalam kehidupan manusia. Abu Ishaq Ibrahim bin Musa bin Muhmmad Al-Lakhmi Asy-Syathibi menyebutkannya -hal pokok dalam kehidupan, Maqosid al-Syariah, atau tujuan utama syariah. Yaitu melindungi agama-hifdz diin, jiwa-hifdz nafs, akal-hifdz aql, keturunan-hifdz nasl, dan harta-hifdz mal.

Perlu ditambahkan juga bahwa tujuan syariah adalah melindungi lingkungan -hifdz biah, dari keserakahan manusia. Kemanunggalan manusia akan terlihat dari komitmennya untuk melaksanakan maqosid al-syariah. Maqosid al-Syariah yang dilahirkan oleh Asy-Syatibi tahun 730 Hijriah ini merupakan deklarasi Hak Asasi Manusia awal yang patut diteladani. Ketuhanan Yang Maha Esa berprinsip kepada kemanunggalan manusia dalam menjaga maqosid al-syariah. “Manusia yang tak manunggal dengan tuhannya, maka jiwanya mati”. Begitu kata Nikolai Gogol dalam novelnya , Jiwa-Jiwa Yang Mati. Mari kita renungkan!

Salam Kang Marbawi