Sepucuk Surat dari Sepeda

Oleh: Yanto S Utomo
CEO Radar Cirebon Group

BEBERAPA hari lalu, ada kabar duka. Kawan kami, sepeda angin, yang dikendarai majikannya dilindas truk. Remuk. Berantakan. Sang pamajikan –si pengontel– pun turut jadi korban. Meninggal di tempat. Tragis.

Kejadian sore hari. Di jalan superpadat Cirebon-Sumber. Tepatnya di Desa Cempaka, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Sepeda menjadi korban keganasan jalan raya, seperti itu sudah sering terjadi. Kami, memang selalu menjadi korban amukan truk, bus, pikap, angkot, elf, sedan, minibus, dan entah kendaraan roda empat yang lain.

Bahkan, kami paling sering dilabrak sepeda motor. Yang masih sama-sama roda roda dua. Kami pun selalu kalah. Yang mengenaskan jika ada kecelakaan, selalu kami yang disalahkan. Dari ungkapan kurang hati-hati, tidak disiplin, terlalu ke tengah, hingga dianggap ugal-ugalan. Begitu sedih hati kami. Ngenes.

Lihatlah profil kami. Tengoklah bentuk kami. Cermatilah kekuatan kami. Apakah kendaraan yang begitu ganas di jalanan? Apakah kami terlalu berbadan besar? Apakah kami bisa berkecepatan tinggi?

Kami hanyalah sepeda. Bisa jadi sepeda angin. Sepeda ontel. Bisa road bike (RB). Kami bisa jadi dari golongan Mountain Bike (MTB). Juga kami bernama sepeda lipat (seli). Atau kami kelompok yang namanya vixie. Dan masih banyak sebutan untuk kami.

Jumlah kami sangatlah sedikit. Dibanding kendaraan yang lain kami tak seberapa. Profil kami hanya rangkaian batangan yang dilengkapi roda ditambah setir. Bentuk kami paling mungil di jalan raya. Kekuatan kami hanya mengandalkan dengkul, napas, dan pantat pamajikan. Kecepatan kami hanya sekayuh dua kayuh. Tak merata. Tergantung siapa yang ada di atas sadel.

Lalu apakah kami memakan jalan dan ugal-ugalan? Tuduhan-tuduhan itu tak masuk akal. Semahal dan sebagus apapun, kami sangat tergantung kekuatan penggowesnya. Kami polos. Tidak memakai alat bantu. Tidak menggunakan bahan bakar minyak (BBM).Tak juga sengatan listrik. Karena itu tidak bisa digas. Tak mungkin melampui kecepatan mobil dan motor. Yang memakai alat bantu BBM atau listrik. Yang kecepatannya berkali-kali lipat kami.

Karena bentuk kami yang hanya segitu, di jalan raya kami hanya butuh jalur tak lebih 1 meter. Syukur diberi lebih. Sungguh leluasa. Bahkan di jalan sering mengalah. Jika sangat padat, kami pun rela turun ke jalan tanah. Yang kadang jelek. Kadang becek berlumpur. Kadang berbatu. Ban kami jadi taruhan. Pantat dan pinggang bos kami rela menjadi korban.

Walau demikian kami tidak akan marah dengan tuduhan-tuduhan itu. Kami pun menerima. Yang penting jangan dihabisi kami di jalanan. Kami pun tak perlu dilindungi. Apalagi dimanjakan. Kami tahu diri sebagi minoritas. Sebenarnya kami hanya meminta untuk sedikit bagian jatah jalan. Share of the road. Rasanya kami juga memiliki jatah jalan. Walau tidak tahu seberapa luas jatah yang diberikan kepada kami.

Di negeri antah berantah yang sudah berbudaya lalu lintas, biasanya ada jatah jalan untuk kami. Dibuatkan jalur khusus. Ada garis pembantas dengan pengguna kendaraan yang lain. Mungkin di negeri berbudaya itu sangat sadar. Sepeda itu banyak manfaatnya dibanding masalahnya. Setidaknya kalau ditinjau dari sisi kesehatan, lingkungan dan ekonomi.

Dari sisi kesehatan, sudah tak terbantahkan. Banyak orang yang telah mengambil manfaat dari menggunakan jasa kami. Dari beberapa pengakuan, bersepeda bisa menstabilkan diabetes. Mencegah risiko darah tinggi. Mencegah risiko jantung. Menurunkan risiko depresi. Bisa mengingkatkan kemampuan seks. Mengatasi insomnia atau sulit tidur. Bahkan bisa menurunkan risiko kanker. Masih banyak lagi manfaat kesehatan lainnya. Intinya bersepeda itu sehat dan bahagia.

Bersepeda juga ramah lingkungan. Karena tidak menggunakan BBM otomatis akan membuat lebih baik kualitas udara. Mengurangi polusi. Manfaatnya pun juga bisa dirasakan. Bandingkan dengan olahraga jalanan yang lainnya. Lebih ramah mana? Untuk urusan ini memang kami bisa disamakan dengan pelari dan pejalan kaki.

Secara ekonomi juga jelas. Tugas kami bukan hanya untuk olah raga. Kadang-kadang juga untuk kerja. Tak perlu mengeluarkan uang bila menaiki kami. Cukup genjot. Gratis.

Bandingkan dengan sepeda motor dan mobil. Untuk motor berapa kilo meter harus mengisi BBM. Sepada motor masih lebih irit. Kalau mobil, ada yang 5 km menghabiskan 1 liter BBM. Berapa kocek yang harus dikeluarkan. Sekali gas bisa seribu perak.

Nah, inilah fakta-faktanya. Kami memang lebih bermanfaat dan menguntungkan. Karena itu melalui sepucuk surat kami ini, mudah-mudahan ada yang mau membacanya. Entah siapa gerangan mereka. Kami tak muluk-muluk. Kami hanya meminta berbagi jalan secukupnya. Rasanya kami layak mendapatkan bagian itu. (*)