Seri Belajar Filsafat Pancasila 12

Memaknai Sila Pertama
“KETUHANAN YANG MAHA ESA”
Bagian Kelima

Oleh: Kang Marbawi

Salam untuk semua saudara sebangsa setanah air, dari berbagai suku, agama, bahasa, etnis, budaya, kepercayaan dan warna kulit apapun. Kita adalah saudara sebangsa dan setanah air. Semoga kita semua selalu sehat dan bahagia.

Minggu yang lalu kita telah mendiskusikan tentang sila Ketuhanan Yang Maha Esa adalah bertumpu kepada nilai-nilai kemanusiaan. Keimanan kita harus tercermin dalam penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Serta mendiskusikan bahwa sila pertama menjadi landasan teologis dari sila ke tiga. Mendiskusikan sila pertama tidak akan selesai dalam waktu cepat. Sebab sila pertama menjadi dasar dari semua sila dan aktivitas warga negara.

Pertanyaannya adalah apakah sila pertama melandasi sikap sosial dan keagamaan kita dalam menghadapi Pandemi Covid-19? Termasuk apakah agama (baca sila pertama) menjadi landasan dalam aktivitas ekonomi, sosial, politik, lingkungan, pendidikan dan budaya?
Mari kita diskusikan pertanyaan yang pertama. Sila pertama ini, dalam keseharian tercermin dalam sikap keagamaan yang moderat (seimbang, tengah-tengah) dan menguatkan nilai-nilai Kemanusiaan. Menghadapi Pandemi Covid-19, yang telah merenggut jutaan nyawa, sila pertama menuntun kita untuk memiliki KEPEKAAN terhadap persoalan dampak kemanusiaan, sosial, ekonomi yang paling dirasakan masyarakat.

Kepekaan tersebut akan muncul dalam berbagai bentuk. Yang paling sederhana adalah mematuhi protokol kesehatan untuk menjaga penularan Covid-19. Seperti pakai masker, sering cuci tangan, jaga jarak, membatasi aktivitas di luar rumah dan aktivitas sosial yang melibatkan banyak orang atau melakukan aksi-aksi sosial sekecil apapun. Bahwa penerimaan kita atas dasar agama terkait Pandemi Covid-19 adalah bagian dari “ujian” dari Tuhan, menjadi penting ditegaskan. Namun demikian, sikap tetap berusaha untuk melawan Covid-19 yang dilandasi ajaran agama juga menjadi penting. Sehingga sikap dan kepekaan kita terhadap dampak Covud-19 memiliki landasan spiritual.

Pandemi Covid-19 berdampak besar terhadap kehidupan sosial, politik, ekonomi, pendidikan, budaya bahkan dogma agama. Aktivitas dan relasi warga masyarakat pun terdampak dan berubah. Sebagian memberi dampak positif dan sebagian memberi dampak negatif. Bergantung kepada tingkat penerimaan diri, kondisi sosial ekonomi dan agama warga masyarakat dalam menghadapi Pandemi Covid-19. Sila Pertama menekankan kepada bagaimana sikap kita dalam menghadapi Covid-19 ini dengan sikap untuk menjaga secara bersama-sama dampak negatif dari Covid-19.

Meminimalisir korban, baik dari sisi korban jiwa, sosial, ekonomi dan budaya. Inilah yang menjadi landasan sikap kita dalam menghadapi Pandemi Covid-19 yang tak tahu kapan berahirnya.

Titik tolak sikap kita terkait Pandemi Covid-19 adalah menjaga nilai kemanusiaan. Sebagaimana tersebut dalam maqoshid al-syariah, atau tujuan-tujuan syariah yaitu memelihara agama(hifz-diin), memelihara jiwa (hifz al-nafs), memelihara akal (hifz al-aql), memelihara keturunan (hifz al-nasl), memelihara harta (hifz al-maal). Pandemi Covid-19 yang telah merenggut banyak korban, juga berdampak kepada kehidupan sosial-ekonomi masyarakat. Nah implementasi Nilai Sila Ketuhanan Yang Maha Esa tersebut didasarkan pada bagaimana kita bisa ikut menjaga nilai kemanusiaan.Yaitu dengan menjaga diri kita, keluarga dan orang-orang disekitar kita agar terhindar dari Covid-19. Termasuk dengan membantu masyarakat yang kesulitan ekonomi. Tentu sesuai dengan kemampuan yang ada pada diri kita.

Sila pertama yang tercermin dalam keimana agama kita masing-masing menuntun kita untuk bersikap “tawakal”.Yaitu sikap berusaha semaksimal mungkin untuk berusaha menjaga diri, keluarga dan orang-orang disekitar kita dari Covid-19, namun tetap memasrahkan dengan dikuatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Apa yang kita bahas ini adalah pada tataran kita sebagai warga masyarakat. Sementara dalam ranah pemerintah, tentu pemerintah telah menjalankan berbagai macam program penanggulangan Covid-19. Menjadi kewajiban bersama dan menjaga disiplin bersama dalam menghadapi Covid-19. Dibutuhkan kebersamaan dan kesadaran dari seluruh warga masyarakat dalam menghadapi Covid-19. Bahasan di atas tentu tidak mendalam. Namun semoga perspektif sederhana tersebut memberikan sedikit titik terang bagi kita untuk menyikapi Covid-19.

Nah untuk membahas pertanyaan ke dua, apakah agama (baca Sila Pertama) menjadi landasan dalam aktivitas ekonomi, sosial, politik, lingkungan, pendidikan dan budaya? kita akan bahas minggu depan. Semoga Allah beri hidayah dan ridho-Nya. Demikian, semoga bermanfaat. Mari kita diskusikan dan semoga bermanfaat. Wallahualam bishawab.. Afwan Salam Kang Marbawi.