Seri Belajar Filsafat Pancasila 13

Memaknai Sila Pertama
“KETUHANAN YANG MAHA ESA”
Bagian Keenam

Oleh: Kang Marbawi

Salam sejahtera buat kita semua, saudara sebangsa dan setanah air. Kecintaan dan kepedulian kepada Indonesia dan segenap masyarakat dan alamnya, menyatukan kita untuk tetap bersama. Minggu lalu telah kita diskusikan bagaimana Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, menjadi pemantik untuk menghadapi Musibah Pandemi Covid-19. Minggu ini kita akan mendiskusikan apakah agama (baca sila pertama) menjadi landasan dalam aktivitas ekonomi, sosial, politik, lingkungan, pendidikan dan budaya?

Jawabannya, seharusnya sila pertama melandasi dalam semua aktivitas ekonomi, sosial, ekonomi, politik, lingkungan, pendidikan dan budaya serta tentu aspek lainnya. Diksi “seharusnya” dalam kalimat pertama menunjukkan bahwa idealitasnya, aktivitas semua kehidupan masyarakat dilandasi oleh nilai-nilai sila pertama, yaitu nilai spiritualitas yang humanis atau nilai agama yang mengedepankan nilai kemanusiaan.

Salah satu contoh aktivitas ekonomi yang dilandasi nilai sila pertama yaitu nilai spiritualitas yang humanis, pengelolaan ekonomi baik yang dilakukan oleh individu maupun korporasi memiliki tujuan tidak saja bersifat mencari keuntunga.Namun sekaligus memberikan dampak kebermanfaat bagi diri, keluarga, lingkungan, dan tentu bangsa dalam sekala manfaat makro. Manfaat yang dimaksud adalah aspek keuntungan tersebut tidak saja dinikmati oleh individu atau perusahaan. Namun bagaimana keuntungan tersebut memberikan dampak sosial-ekonomi yang besar terhadap kehidupannya. Konkritnya adalah, pelaku ekonomi -baik individu maupun korporasi, bersedia “mensedekahkan” sebagian dari keuntungannya untuk orang disekitar atau lingkungan masyarakat. Dalam Islam ada banyak aspek kebermanfaatan dalam bentuk: sodaqah, infaq, hingga zakat.

Dimana bentuk-bentuk multiple dampak kebermanfaatan tersebut dilandasi oleh nilai-nilai agama. Ini yang pertama, dari sisi landasan pelaku ekonomi sadar untuk mengembangkan kebermanfaatan dari keuntungan yang diperolehnya.

Yang kedua, adalah bagaimana pelaku ekonomi -baik individu maupun korporasi, menjalankan usaha atau pekerjaan atau bisnisnya. Dalam menjalankan usaha atau pekerjaan atau bisnisnya yang dilandasi nilai sila pertama -baca agama, akan tercermin dari, ketaatan pelaku ekonomi menjalankan usaha, pekerjaan atau bisnisnya dengan mengikuti aturan yang berlaku. Singkat kata, usahaanya, pekerjaaannya, atau bisnisnya dijalankan dengan jujur, tidak korupsi, tidak merugikan orang lain, tidak menyusahkan atau menindas orang lain, tidak merusak ekosistem lingkungan, tidak serakah, tidak curang, tidak mementingkan diri sendiri atau keuntungan sendiri.

Yang ketiga, usahanya dilakukan dengan mengembangkan nilai-nilai psiritual. Bahwa usahanya dilakukan dengan berlandaskan sebagai bagian untuk menjawab perintah Tuhan. Seperti Protestant Ethic, yaitu sebuah perilaku ekonomi yang dijalankan sebagai bagian untuk menjalankan perintah Tuhan sebagai manusia yang terpilih. Atau Islamic Ethic,yaitu perilaku ekonomi yang dilandasi agar tugas kekhalifahan seseorang muslim menjadi sempurna dengan menunjukkan kemandirian ekonomi dan kemampuannya memberikan manfaat yang besar kepada orang lain dan lingkungan atau Ikhoirun annass, yanfa uhum linnas, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain dan lingkungannya. Ada banyak ajaran agama terkait bagaimana seharusnya ekonomi dijalankan dengan baik dan benar. Dalam Islam, ada fiqih muamalah yang berkaitan dengan berbagai aturan dan etika dalam menjalankan ekonomi.

Yang keempat, bagaimana pelaku ekonomi menikmati hasil usahanya, pekerjaannya, dan bisnisnya dengan cara yang sederhana. Ini artinya, dalam menikmati hasil usahanya pelaku ekonomi diharapkan tetap mengedepankan aspek kepatutan dan kesederhanaan. Tidak memamerkan harta kekayaannya dengan eksplosif dan mencolok. Pelaku ekonomi mendasari memanfaatkan hasil usahanya dengan tetap berlandaskan kepada nilai-nilai spiritual atau nilai agama yang melarang pamer kekayaan. Sebut saja dalam Quran Surat At-Takatsur yang menyebutkan larangan untuk memamerkan kekayaan secara berlebihan. Inilah behavioral Economic yang dilandasi nilai Sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Demikian, semoga bermanfaat. Mari kita diskusikan dan semoga bermanfaat. Wallahualam bishawab.. Afwan Salam Kang Marbawi.