Seri Belajar Filsafat Pancasila 15

Memaknai Sila Pertama
“KETUHANAN YANG MAHA ESA”
Independen Agama dalam Universale Sila Pertama
Bagian Kedelapan

Oleh: Kang Marbawi

Salam sejahtera untuk kita semua, saudara sebangsa setanah air. Mencintai warganya yang bersuku-suku, bahasa, agama, dan budayanya. Indonesia adalah tanah air kita yang harus kita jaga, kita rawat kita majukan, rakyatnya kita sejahterakan. Minggu lalu kita telah mendiskusikan sila pertama sebagai landasan bagi pengelolaan sumber daya alam, energi dan kekayaan Indonesia untuk kemakmuran rakyatnya. Kali ini kita akan mendiskusikan bagaimana sila pertama yang bersifat universale namun memiliki indepedensi dalam hal keyakinan atau aqidah dari masing-masing agama atau kepercayaannya.

Sifat universale ketuhanan tersebut dimaksudkan bahwa semua agama memiliki system kepercayaan kepada Tuhan. Bahwa system keyakinan tersebut dimanifestasikan dalam berbagai system ritual peribadatan dan aqidah/teologi sesuai dengan agamanya, yang tidak bisa diintervensi oleh negara. Inilah letak independensi dari agama dalam Sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Independensi agama dalam system keyakinan/teologi dan ritual ibadah ini lah yang harus dihormati oleh setiap orang dan negara.

Penghormatan tersebut meliputi berbagai tindakan untuk menghargai penganut agama dan kepercayaan dan memberikan kebebasan kepada siapapun untuk melaksanakan keyakinan serta ritual ibadahnya. Termasuk kebebasan untuk mendirikan tempat ibadah. Tentunya sesuai dengan aturan yang berlaku. Memaknai toleransi antar umat beragama didasarkan kepada penghormatan terhadap independensi agama dan sifat universale dari Ketuhanan Yang Maha Esa.

Toleransi adalah sikap aktif untuk bersama membangun kesaling pengertian dan dialog intensif atas dasar penghormatan asasi dalam menjalankan keyakinan dan ibadah antar umat beragama. Toleransi didasari juga atas sikap yang yakin atas keyakinannya (teguh aqidah) namun memberikan ruang untuk menghargai dan menghormati keyakinan orang lain. Sikap tersebut memiliki argumentasi yang sahih dalam kitab suci agama masing-masing.

Lalu kenapa masih ada saja aksi-aksi intoleran terhadap keyakinan beragama orang lain?
Sikap intoleran lahir dari (bisa jadi) pemahaman terhadap teks kitab suci yang sempit. Bisa jadi juga karena sempitnya ruang perjumpaan antar umat. Atau bisa jadi juga karena klaim kebenaran (truth claim) yang sepihak, tanpa menyisakan ruang dialog. Sehingga memandang kelompok yang tidak sesuai atau tidak sama dengan keyakinannya dianggap salah, menyimpang, bahkan sampai kepada sikap untuk memusuhi.

Sikap intoleran menjadi penghambat dalam pemenuhan hak berkeyakinan dan beribadah warga negara. Undang Undang Dasar 1945 yang telah diamandemen menjamin kebebasan berkeyakinan dan beribadah warga negara. Intoleransi bisa terjadi kepada siapapun. Intoleransi bukan hanya persoalan mayoritas atau minoritas. Walau faktanya intoleransi lebih banyak dilakukan oleh kelompok mayoritas.
Pada prakteknya, intoleransi bisa termanifestasi dalam berbagai bentuk. Namun intinya, sikap intoleransi adalah cara pandang negatif terhadap orang atau kelompok lain dan diwujudkan dalam tindakan. Intoleransi juga tumbuh dari hegemoni atas klaim kebenaran. Sehingga menutup ruang untuk berdiskusi dengan entitas yang mungkin bisa jadi memiliki sumber kebenaran dalam versi lain. Tindakan intoleransi yang dimaksud bisa berupa, pengucilan, perundungan, pelecehan keyakinandan pada akhirnya mewujud dalam tindak kekerasan dan pengrusakan. Intoleransi tentu menjadi penghambat dalam kehidupan masyarakat. Tentu kita menginginkan kehidupan keagamaan dan masyarakat yang damai.

Independensi agama dalam sila pertama, mengharuskan semua warga negara menghargai independensi keyakinan, ritual ibadah, tempat ibadah. Sekaligus independensi agama tersebut tidak boleh megganggung independensi agama yang dianut orang lain. Disinilah letak universalitas sila Ketuhanan Yang Maha Esa, yang memayungi independensi semua keyakinan, ritual ibadah, tempat ibadah. Sekaligus menjadi benteng dari ekspansi keras dari independensis agama itu sendiri. Demikian, mari kita renungkan.Wallahu alambi al shawab. Salam Kang Marbawi.