Seri belajar Filsafat Pancasila 2

Salam untuk semua saudara sebangsa setanah air.

Syukur Alhamdulillah saya haturkan kehadirat Allah Tuhan Yang Maha Kuasa, karena pertolonganNya lah saya bisa kembali menyapa dan menuliskan kembali pikiran sederhana terkait Pancasila.Tulisan minggu kemarin, hari ini dan semoga seterusnya dimaksudkan sebagai upaya untuk kembali mensosialisasikan, mengenalkan, membumikan dan sekaligus mengingatkan kembali akan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila.

Jadi, tulisan ini hanya menjadi triger untuk pembaca kembali mengingat Ideologi Bangsa Indonesia yang harus kita jaga, rawat dan dikonkritkan dalam kehidupa sehari-hari. Sekaligus mengajak pembaca untuk memperkaya pemaknaan Pancasila secara konkret dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.

Tulisan minggu kemarin bercerita tentang nilai-nilai fundamental dari Pancasila dan nilai fundamental tersebut menjadikan Pancasila memiliki watak keabadian. Nah kali ini saya ingin mendiskusikan watak keabadian dari Ideologi Pancasila. Seperti kita tahu bersama di dunia ini ada banyak ideologi yang terus berkembang dan memiliki pengikut-nya masing-masing.

Seperti ideologi Marxisme-Sosialisme, Capitalisme, Liberalisme, dan ideologi lainnya.Termasuk agama menjadi salah satu bagian dari ideologi. Lalu apa yang dimaksud bahwa sebuah ideologi memiliki watak keabadian?

Watak keabadian Pancasila adalah kemampuan nilai-nilai Pancasila (Pancasila memiliki nilai-nilai universal dan general yang bisa diimplementasikan dalam kehidupan, Bonum Honestum. Nilai-nilai Pancasila yang bersifat futuristik yaitu mampu digunakan dan diinterpretasikan secara kontekstual atau Bonum Utile dan Bonum Delectable yaitu nilai Pancasila sesuai untuk semua zaman) untuk bertahan, menjawab dan diimplementasikan semua nilai-nilai yang ada di dalamnya dalam kehidupan sehari-hari. Sekaligus nilai-nilai tersebut mampu menjawab tantangan ketika berhadapan dengan arus budaya global dan ideologi trans nasional.

Ada lima syarat untuk menjadikan Pancasila memiliki watak keabadian :

1) Pancasila sebagai ideologi harus melahirkan teori sosial, politik dan ekonomi baru yang berbasis Pancasila. Ini watak keabadian yang pertama Pancasila, yaitu menurunkan turunan teoritik Pancasila dalam semua aspek kehidupan sosial, politik dan ekonomi.

2) Adanya pengembangan konsensus terhadap nilai-nilai Pancasila merupakan syarat ke dua watak keabadian Pancasila.

3) Dalam konteks menjaga watak keabadian Pancasila sebagai ideologi yang ketiga adalah membangun framing baru Pancasila sebagai ideologi. Framing baru yang dimaksud adalah setara dengan teorisasi Pancasila dalam bidang sosial, ekonomi dan politik.

4) Watak keabadian (yang keempat) Pancasila juga harus ditunjang dengan filsafat Pancasila. Dimana filsafat Pancasila adalah argumentasi intelektual dan sosial serta politis terhadap pentingnya pelaksanaan Pancasila secara murni dan konsekuen oleh seluruh elemen bangsa ini.

5) Keabadian Pancasila juga akan langgeng (yang kelima) manakala Bangsa Indonesia mampu merumuskan pelaksanaan Nilai-Nilai Pancasila secara murni dan konsekuen.

Tantangannya adalah bagaimana membuktikan kredibilitas ideologi Pancasila dan bisa menjadi global etic? Untuk menjadi global etic, Pancasila harus mampu menunjukkan kredibilitasnya terlebih dahulu dalam peri kehidupan Bangsa Indonesia. Pancasila harus mampu menunjukkan kemajuan Bangsa Indonesia berada dalam lindungan Ketuhanan Yang Maha Esa yang memiliki nilai kemanusiaan yang berkeadilan dan berkeadaban,

Menyatu dalam persatuan bangsa yang berkeadaban dan dalam kultur musyawarah mufakat dibingkai untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya.

Kredibilitas Pancasila adalah mewujudkan Indonesia yang bukan Arab, yang bukan Barat. Mewujudkan Indonesia yang juga buka Kapitalis, bukan Liberalis, bukan Komunis atau Sosialis apalagi Teroris. Kredibilitas Pancasila adalah mewujudkan Indonesia seutuhnya. Indonesia adalah kerakyatan, Indonesia adalah kebersamaan, gotong royong.

Indonesia adalah Ketuhanan Yang Maha Esa yang di dalamnya berhak semua agama dan kepercayaan hidup dan berkembang. Tidak dimonopoli interpretasi kebenaran atas kepentingan kelompok atau atas nama agama. Yang ingin kita wujudkan adalah Ketuhanan yang berprikemanusiaan yang beradab. Ketuhanan yang menjunjung tinggi persatuan Indonesia. Ketuhanan yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksaan dalam permusyaratan perwakilan. Ketuhanan yang bisa mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Mewujudkan Indonesia dengan Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab yang memberikan rasa keadilan dan keadaban kepada seluruh orang yang hidup di atasnya (kemanusiaan-humanisme). Kemanusiaan yang berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. Kemanusiaan yang mengukuhkan persatuan Indonesia. Kemanusiaan yang didasari hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Kemanusiaan yang ditujukan untuk mewujudkan cita-cita keadilan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Mewujudkan Indonesia dengan Persatuan Indonesia yang merasa sebangsa setanah air. Bukan hanya se-umat, se-agama, se-suku atau se-daerah. Persatuan yang didasari Ketuhanan Yang Maha Esa. Persatuan untuk mewujudkan kemanusiaan yang berkeadilan dan berkeadaban. Persatuan yang didasari oleh kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan Persatuan yang menjiwai perwujudan keadilan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Mewujudkan Indonesia dengan Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Yang menjunjung tinggi demokrasi dan hak-hak individu atau kelompok dengan tetap bertanggungjawab serta mengedepankan permusyawaratan yang, berketuhanan, berkeadaban, persatuan, berperikemanusiaan dan berkeadilan.

Mewujudkan Indonesia dengan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Janji mensejahterakan rakyat Indonesia yang didasari Ketuhanan Yang Maha Esa. Janji mewujudkan keadilan sosial yang didasari oleh kemanusiaan dan keadaban. Janji keadilan sosial yang memperkuat persatuan Indonesia.

Janji keadilan sosial yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyaratan perwakilan.Wallahualam bishawab. Mari kita diskusikan.

Afwan Kang Marbawi.