Wasiat Ki Hajar Dewantoro Bagian 3

Oleh: Kang Marbawi

Raden Mas Jemblung, adalah “pareban” atau nama julukan yang diberikan oleh Kanjeng Pangeran Harjo Soerjaningrat kepada putra ke limanya, Raden Mas Soerwardi Soerjaningrat. Pareban tersebut diberikan karena ketika lahir, Soewardi sangat kecil dan perutnya buncit.

Pareban untuk Soewardi tidak hanya “Jemblung”. Soewardi juga mendapatkan pareban dari guru ayahnya KH Soleman dengan pareban “Trunogati”. Lengkaplah pareban Raden Mas Jemblung Trunogati, julukan Raden Mas Soewardi Soerjaningrat ketika kecil. Bahkan ketika kecil, Soewardi tak tahu nama aslinya.

Raden Mas Jemblung Trunogati tumbuh menjadi pemuda yang pandai dan memiliki kahalusan budi serta jiwa merdeka untuk melawan penjajah Belanda darah perlawanan penjajah Belanda. Sepanjang kiprahnya, cita-cita kemerdekaan menjadi darah,nafas dan jiwa R.M. Jemblung Trunogati. Hingga pada tahun 1922 M R.M. Jemblung Trunogati mendirikan Taman Siswa. Sekaligus mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantoro. Soal sejarah nama Ki Hadjar Dewantoro, semoga bisa diceritakan nanti.

Taman siswa didirikan untuk memerdekaan Bangsa Indonesia dari penjajahan Belanada melalui jalur Pendidikan. Jelas jiwa kemerdekaan dan memerdekaan menjadi nafas dan ruh utama dari Taman Siswa. Inilah Revolusi Pendidikan Formal pertama di Indonesia sebagai bagian dari anti tesa terhadap sistem pendidikan penjajah yang mengutamakan intelektualistis, individualistis, dan materialistis.

Oleh karena itu Revolusi Pendidikan Ki Hadjar dituangkan dalam Protokol 1922 yang berisi azas-azas Pendidikan Taman Siswa. Dengan semboyan “Lawan Sastra Ngesti Mulya” R.M. Jemblung Trunogati memerdekakan pendidikan. semboyan “Lawan Sastra Ngesti Mulya” berarti “Dengan Kecerdasan Jiwa Menuju Kesejahteraan”.

Landasan memerdekaan ini terdapat dalam Protokol 1922 pasal II:
“Yang dimaksud dengan kemerdekaan adalah pada bagaimana cara anak berpikir.   Bukan dengan cara disuruh, atau mengakui buah pikira orang lain, namun agar anak-anak mencari sendiri dengan buah pikirannya. Demikian juga cara anak mengembangkan buah kesadaran atau sikap batinnya, memeliharan keinsyafannya, dan cara merasakan hendaknya juga tidak disuruh atau dipaksa namun agar diberi ruang yang secukupnya bagi mereka untuk melakukannya sendiri, membangun kesadaranya sendiri. Maka, agar anak-anak sungguh merdeka lahir dan batin, caranya adalah merdekakanlah batinnya, pikirannya, dan tenaganya dengan cara lah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah jasmani”.

Lebih lanjut, Ki Hajar menjelaskan terkait konsep kemerdekaan dalam pendidikan adalah pada bagaimana cara anak berpikir. Bukan dengan cara disuruh, atau mengakui buah pikiran orang lain, namun agar anak-anak mencari sendiri dengan buah pikirannya. Demikian juga cara anak mengembangkan buah kesadaran atau sikap batinnya, memeliharan keinsyafannya, dan cara merasakan hendaknya juga tidak disuruh atau dipaksa. Namun agar diberi ruang secukupnya bagi mereka untuk melakukannya sendiri, membangun kesadaranya sendiri. Maka, agar anak-anak sungguh merdeka lahir dan batin, caranya adalah memerdekakan batin, pikiran, dan tenaga dengan cara olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah jasmani. Kemerdekaan berarti hidup tidak tergantung kepada orang lain.

Bantuan tidak boleh mengurangi kemerdekaan lahir dan batin. Kebabasan atau kemerdekaan dalam pendidikan juga terlihat dari konsep Pamong sebagai pemimpin yang berdiri di belakang dengan semboyan Tut Wuri Handayani yaitu tetap mempengaruhi namun memberi kesempatan kepada anak didik untuk berjalan sendiri. Maka, disini terkandung dasar kemerdekaan tiap-tiap orang untuk mengatur dirinya sendiri. Namun, ini bukan berarti kebebasan yang leluasa, tetapi kebabasan yang terbatas dan harus mengikuti tertib damainya hidup bersama.

Dasar pedagogik membebaskan Ki Hajar Dewantoro ini juga menjadi landasan bagi pedagogik kritis Pancasila. Pedagogik kritis Pancasila adalah bagaimana nalar pikir dan nalar nilai dari Pancasila menjadi landasan yang membebaskan dalam praksis pendidikan. Nalar pikir dan nalar nilai dari Pancasila juga sekaligus menjadi nalar kritis terhadap proses pendidikan dan proses pelaksanaan kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila yang menjadi sumber hukum dari segala hukum yang ada di negeri ini, dengan nalar pikir dan nalar nilai yang terkandung di dalamnya menjadi pemandu untuk menentukan keadaban publik dan keadaban individu sekaligus menentukan daya kritis terhadap semua praksis keadaban individu, keadaban publik dan keadaban produk kebijakan tersebut.

Ini artinya, praksis pendidikan seharusnya mampu melahirkan keadaban individu peserta didik yang akan menjadi sumbangan pada keadaban publik. Nalar nilai dan nalar kritis yang menjadi ruh dari Pancasila melahirkan peserta didik yang tahu apa yang harus diperbuatnya. Yaitu perbuatan yang melahirkan kebaikan dan keadaban publik dan keadaban bangsa. Perbuatan yang mampu menjawab tantangan globalisasi tanpa kehilangan jati diri atau identitas dirinya sebagai Bangsa Indonesia dengan tetap memiliki pijakan nalar ketuhanan. Dan semua itu dimulai dari pedagogik membebaskan atau memerdekakan R.M. Jemblung Trunogati.

Sudahkan, praksis pendidikan kita mampu memerdekakan anak didik kita? Sudahkan praksis pendidikan kita melahirkan keadaban individu anak didik kita? Tanyakan kepada penerus KH. Soleman. Salam Kang Marbawi