TS3 BP20

Oleh: Dahlan Iskan

Siapakah pemain sepak bola terbaik tanah air? Sepanjang sejarahnya?

BP20 pasti salah satunya.

Hebat mana dengan Iswadi Idris di masa jayanya? Atau Ricky Yacob? Atau Dede Sulaiman? Atau bahkan Syamsul Arifin (Niac Mitra/Persebaya)?

Cobalah bikin nomor urutnya. Kita ranking. Siapa yang teratas.

Mungkin urutannya begini:

Ricky Yacob, Bambang Pamungkas, Dede Sulaiman, Abdul Kadir.

Mungkin Anda punya urutannya sendiri –sesuai tipe permainan mereka.

BP20 misalnya, rasanya tidak bisa disandingkan dengan Ricky Yacob –bukan satu tipe. Dua-duanya boleh saja menjadi juara kembar –untuk tipe masing-masing.

Tapi Bambang Pamungkas-lah yang akan terus dikenang sebagai pemain sepak bola yang paling cerdas –termasuk dalam memilih istri: Tribuana Tungga Dewi.

BP20 seorang pembaca buku. Ia juga penulis –bahkan novel biografinya sudah terbit. Lima tahun lalu. Judulnya: Ketika Jari-jemari Menari.

Ia juga berusaha menulis puisi. Dan mencoba berfilsafat.

Bambang juga rajin mengisi blog pribadi dengan tulisannya: bambangpamungkas20.com. Tema-tema tulisannya beragam –tapi berusaha mengambil filsafat hidup dari tema yang ditulisnya.

Misalnya ketika BP20 menulis tentang Pepeng. Yang ia niatkan untuk menandai meninggalnya pengasuh kuis Jari-Jari di TV yang terkenal itu.

BP20 berusaha mengambil pelajaran hidup dari Pepeng. Yang tetap optimistis di atas ranjang perawatan. Sampai akhir masa hidupnya.

Pepeng juga tetap punya rubrik di TV di tengah penderitaan sakitnya yang memuncak.

Maka BP20 mengutip ucapan Pepeng yang terkenal: Pantang mati sebelum ajal tiba.

Bambang juga seorang penceramah. Untuk acara-acara motivasi bagi anak muda. Di situ BP20 juga sering mengutip kata kunci. Misalnya: Pemenang dan pecundang itu sama. Sama-sama manusia dan sama-sama ingin bercerita tentang diri mereka.

BACA JUGA:  Misteri Tetap

Bedanya: Anda pasti sudah pernah mendengarnya.

Atau Anda baca sendiri blognya.

Membaca dan menulis adalah kelebihan BP20 dibanding pemain hebat-hebat lainnya.

Ups, Iswadi Idris juga pandai menulis.

Saya pernah minta tolong Iswadi untuk ke Meksiko. Selama satu bulan.

Saya bekali ia kartu pers. Menjadi wartawan. Untuk menonton Piala Dunia di Meksiko.

Ia berbagi tugas dengan Zainal Muttaqien yang juga saya kirim ke Meksiko. Zam menulis sebagai wartawan. Iswadi sebagai analis.

Tidak disangka, kelak, ketika sudah menjadi Dirut saya, Zam dapat menantu orang Meksiko. Dari kota tempatnya meliput dulu: Guadalajara.

Putri Zam dan Carlos, anak Gualadajara itu, sama-sama ingin belajar bahasa Mandarin. Mereka sama-sama kuliah di Shanghai. Pacaran. Kawin. Percakapan mereka dalam bahasa Mandarin menghasilkan anak tiga.

Tiap hari Iswadi menulis panjang. Tentang perkiraan pertandingan hari itu. Atau hasil analisisnya untuk pertandingan tadi malam.

Zainal menulis tentang peristiwa dan hasil wawancara.

Waktu itu internet belum seperti sekarang. Kami juga belum mampu membeli laptop –yang harganya 10 kali lipat sekarang.

Iswadi harus menulis naskah dengan tangan. Lalu dikirim lewat faksimile.

Kenapa tidak pakai mesin ketik di media center?

“Antrenya panjang. Ide keburu hilang,” jawabnya saat itu.

Ada alasan lain: tulisannya itu ditunggu deadline. Koran tidak berani terbit tanpa tulisan Iswadi. Penggemarnya terlalu banyak.

Tapi Iswadi menulis itu setelah pensiun dari sepak bola.

BP20 sudah rajin menulis ketika masih top sebagai pemain.

BP juga cerdas dalam mengemas brand dirinya. BP20 adalah brand yang kuat. Dan secara konsisten ia promosikan lewat apa saja. Angka 20 Anda sudah tahu –nomor kostumnya. Seperti CR7 untuk bintang Real Madrid yang kini di Juventus –dan kelihatannya akan mengakhiri karirnya di situ.

BACA JUGA:  Perkawinan Krisis Konstitusi

BP20 mengakhiri karirnya di klub yang membesarkannya: Persija. Pertandingan lawan Persebaya 17 Desember kemarin adalah penampilan terakhirnya.

Itu pun BP20 hanya tampil 15 menit terakhir –tanpa membuat gol.