Anggaran Pemilu Capai Rp60 Miliar, KPU Bayar Petugas Sortir Lipat hanya Rp75

SORLIP: Petugas sortir dan lipat yang berjuang menyukseskan pemilu. YUSUP SUPARMAN/PASUNDAN EKSPRES

SUBANG-Sungguh tega. Upah yang diberikan kepada petugas sortir dan lipat hanya Rp75 per lembar. Akibatnya tidak kurang dari 200 orang mundur dari pekerjaan tersebut. Jika dibandingkan dengan sortir untuk Pilkada dibiayai sebesar Rp125 per lembar. Sekarang untuk pesta rakyat, pemilu nasional pilpres dan pemilu hanya dibiaya Rp75 per lembar.

MIRIS: Konsumsi untuk petugas sortir dan lipat surat suara

Satu kelompok yang berisi sekitar 10 orang dalam satu hari bisa menyelesaikan 3.000 lembar, sehingga jika dihitung per orang dalam satu hari mendapatkan Rp25.000 – Rp30.000 saja. Mereka bekerja selama delapan jam. Dari jam 08.00-16.00 WIB. Selain itu, mereka mendapatkan makan siang seadanya.

Mantan tenaga pelipat surat suara Widia (34) mengungkapkan, dirinya mengundurkan diri dikarenakan hasilnya tidak sepadan, dengan kerja yang dilakukan. Fasilitas minim dan ruangan yang sempit hingga panas, menjadikan dirinya merasa tidak nyaman. Ditambah lagi dengan adanya konsumsi yang disiapkan panitia pelaksana KPUD untuk makan siang yang hanya alakadarnya. “Keluar saya, karena tidak nyaman ditambah dengan konsumsi yang memprihatinkan,” ungkapnya.

Menuruntya, pembagian konsumsi makan siang yang diberikan KPUD sangat minim, bahkan hanya nasi, telor, tempe saja. Widia mengaku sering kali tidak memakan nasi tersebut, ketika masih menjadi tenaga penyortir dan pelipat surat suara. “Saya memilih membeli sendiri makanan yang dijajakan pedagang di sekitar gedung Sanggar Kreativitas Budaya (SKB) Subang. Jadi banyak guyonan, konsumsi zaman penjajahan,” ujarnya.

Tenaga pelipat surat suara lainnya, Yayan (30) mengatakan, konsumsi yang disediakan KPUD bisa disebut melecehkan, karena sangat memprihatinkan. Yayan meminta KPUD Subang untuk membuka transparansi anggaran untuk tenaga pelipat suara hingga konsumsinya. “Ya saya pengennya ada keterbukaan transparansi anggaran itu,” katanya.

Menanggapi hal tersebut, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Subang malah menyebut, makan yang diberikan KPU sebagai bentuk kemanusiaan. Tadinya KPU tidak menganggarkan. “Tadinya tidak ada anggaran untuk makan, hanya air saja. Untuk kemanusiaan, kita anggarkan seadanya,” ungkap Ketua KPU Subang, Suryaman kepada Pasundan Ekspres, Rabu (13/3).

Dia menyebut, tidak semua KPU daerah berbuat baik memberikan makan kepada petugas sortir dan lipat kertas suara. “Coba cek KPU daerah lain dikasih makan tidak?” katanya.
Soal anggaran untuk kegiatan sortir dan lipat mulai dari biaya petugas, keamanan, konsumsi dan lain sebagainya dia enggan menjelaskan. Menurut Suryaman, soal anggaran ada di Sekjen KPU, Furwani. “Soal anggaran itu sekjen yang tahu, tanyakan saja,” ujarnya.

Anggaran untuk KPU Subang untuk kegiatan pemilu sebesar Rp60 miliar. Soal rincian anggaran peruntukannya untuk apa, komisioner tidak mengetahui persis. Suryaman, wewenangnya ada di Sekjen untuk menjelaskan soal anggaran. “Untuk KPU Subang sekitar Rp60 miliar, itu kegiatan pemilu dan gaji pegawai,” ujarnya.

Mengenai anggaran tersebut, ia mengeluh. Soalnya anggaran sangat minim. “Meskipun itu dari pusat ya anggarannya terbatas,” ujarnya.

Terpisah, Ketua Bawaslu Subang, Parrahutan Harahap enggan mengomentari soal upah pertugas sortir dan lipat yang sebesar Rp75. Ia menyebut, bukan wewenang Bawaslu masuk ke dalam ‘dapur’ KPU mengenai anggaran. “Untuk sorlip (sortir dan lipat) khususnya di dalam pengupahan, Bawaslu tidak memiliki kewenangan apa-apa untuk berkomentar,” ujarnya.

Sementara itu, Sekertaris KPUD Subang Purwani pernah mengatakan untuk anggaran yang terbatas. KPUD hanya bisa memberikan honor untuk per lembar surat suara yang dilipat sebanyak Rp75. Itu pun pihaknya masih was-was karena dikhawatirkan anggaran belum cair. “Ini bisa menghambat pembayaran honor tenaga pelipat surat suara,” katanya.(ysp/ygo/vry)