Dolar Naik, Petani Udang Untung Berlipat

UNTUNG BESAR: Petani Udang vaname H Lili Rusnali bersama teknisi budidaya Mas Komarudin, saat berada di tambak udangnya. Tambak udang Vaname menjadi komoditas primadona yang menguntungkan petani. DADAN RAMDANI/PASUNDAN EKSPRES

LEGONKULON-Kondisi naiknya dolar Amerika membuat untung petani udang vaname di wilayah Pantura Subang, tepatnya Desa Tegalurung Kecamatan Legonkulon, dengan omzet hingga milyaran rupiah.

Keberadaan tambak udang juga menjadi potensi lapangan kerja bagi masyarakat desa, dengan pendapatan Rp 2,5 juta per bulan. Pendapatan tersebut setara dengan UMK Subang.

Kades Tegalurung H. Lili Rusnali menyampaikan, saat ini jumlah petani udang sekitar 200 orang, dengan jumlah kolam/empang sekitar 600 kolam
.,Dikelola olah petani lokal Desa Tegalurung.
Menurutnya, tambak budidaya udang Vaname itu tidak merugikan petani lain atau petani padi, karena tidak ada limbah
yang mencemari lingkungan. Justru keradaan tambak udang itu banyak menyerap tenaga kerja lingkungan masyarakat Desa Tegalurung dan sekitarnya.

“Ini potensi primadona, ekonomi lokal desa, yang akan terus dikembangkan. Dengan pendapatan persiklus milyaran rupiah, membuat geliat ekonomi masyarakat desa cukup tinggi. Apalagi kondisi nilai dolar naik, petani udang untungnya berlipat,” kata H Lili yang juga menjabat Ketua Apdesi Kabupaten Subang.

Terpisah, Andi petani udang vaname mengaku, saat ini petani udang vaname sedang meraup keuntungan besar. Harga udang sedang mengalami kenaikan sekitar Rp75 ribu/kg.

“Kalau dolar lagi naik harga udang pasti bagus. Kalau orang bilang lagi untung, memang betul. Apalagi saat ini pasar sedang kekurangan udang, petani di sini ikut untung besar,” tuturnya.

Andi yaang mengelola 15 kolam/empang itu, mengaku, jika panen hasil tambaknya mencapai 25 hingga 30 ton. Jika dikalikan harga saat ini Rp75 ribu/kg, pendapatannya sekitar 1,8 milyar dalam satu siklus panen.

Dari 15 kolam yang ia kelola itu, butuh tenaga kerja 7 orang belum ditambah pekerja hariannya, bisa mencapai 15 orang persiklus.

Sementara itu kata Andi, biaya produksi hingga panen, kisaran angka Rp40 ribu hingga Rp45 ribu/kg. “Jadi kalau harganya Rp75 ribu, ada selisih keuntungan Rp 30 ribu hingga Rp35 ribu/kg,” imbuhnya.

Namun demikian lanjutnya, pendapatan petani udang vaneme itu, tergantung kondisi udang normal atau ada penyakit yang perlu obat-obatan. Penyakit udang vaname diantaranya WS dan berak putih. Oleh karenanya pengelolaan udang vaname harus sesuai SOP-nya, agar hama dan penyakit bisa dicegah, sehingga hasil dan perkembangan udang normal dan stabil.

“Saya pernah punya pekerja sekitar 15 orang, namun sekarang hanya 5 orang, masih kurang, namun kita efektifkan supaya proses budidaya udang berjalan hingga panen,” katanya.

Sementara itu, kapasitas benih udang sekitar 100 ekor/m2, artinya dalam satu area tambak dengan luas 1 ha membutuhkan benih sekitar 1 juta ekor. Ketersediaan benih udang cukup banyak dengan kualitas benih super atau F1. Saat ini selain rekanan perusahaan benih udang, sebagian petani udang di Pantura Jabar sudah bisa menyediakan benih sendiri.(dan/adv/man)