Harga Padi Anjlok, Hasil Panen Menurun

HARGA RENDAH: Petani Pantura saat memanen padi, Minggu (7/4). Harga padi musim panen tahun ini anjlok di banding musim panen sebelumnya. Petani ada yang harus menjualnya dengan harga Rp320.000/Kwintal. Padahal sebelumnya bisa mencapai di atas Rp500.000/kwintal. YOGI MIFTAHUL FAHMI/PASUNDAN EKSPRES

Paling Rendah Rp320.000/Kwintal

CIASEM-Musim politik tidak membuat petani gembira. Sebab harga padi di panen raya kali ini menurun drastis di banding musim panen sebelumnya.

Di beberapa daerah di Subang, seperti di Pagaden, harga padi per kwintal ada yang turun hingga Rp320.000/kwintal. Sementara di Pantura masih bisa dijual Rp450.000/kwintal.

Faktor cuaca dan permainan tengkulak ditengarai jadi salah satu hal yang membuat harga padi saat ini terbilang turun dibanding musim panen sebelumnya.

Seperti diungkapkan Warnadi, petani di Ciasem, sejauh ini harga padi menyentuh angka Rp450.00 per kwintalnya. Menurutnya harga ini sedikit turun dibanding musim panen sebelumnya yang menyentuh angka Rp500.000-Rp 550.000 per kwintal.

“Agak turun ya sekarang, memang panen musim rendeng ini kadang terpengaruh oleh cuaca, karena kadang hujan kadang turun ya, tapi kalau terus menerus panas bisa naik,” kata Warnadi.

Hal senada juga diutarakan Manaf Hadi Permana. Pengusaha padi asal Patokbeusi menuturkan panen musim rendeng ini berimbas pada penurunan produksi karena beberapa hal. Di antaranya faktor cuaca serta hama penggerek batang.

“Untuk sekarang produksinya juga agak kurang karena penggerek batang. Hal ini terlihat dari produksi musim lalu yang mencapai 7 ton namun saat ini berkisar di antara 4,5-5 ton,” bebernya.

Ia menyebut faktor cuaca juga sangat berpengaruh dalam hasil produksi maupun harga panen. “Sangat berpengaruh, dimusim panas itu produksi bagus, harga juga bagus, tapi musim rending ini produksi turun harga juga agak turun,” bebernya.

Di tempat berbeda, POPT BPP Compreng Omsah menambahkan, panen musim ini dengan cuaca yang tidak menentu membuat perkembangan paditak luput dari serangan hama. OPT yang dominan adalah, penggerek batang padi, sundep-beluk, wereng, cekek malai, dan kresek/hawar daun bakter
“Musim tanam rendeng ini cuaca tidak menentu. Sehingga perkembangan OPT sangat cepat, dan tanaman lebih mudah terinfeksi penyakit,” kata Omsah.

Sementara itu, pengusaha Padi asal Pusakajay H. Ahmad Zaelani, menuturkan dengan harga padi yang beredar saat ini sebetulnya masih terbilang normal. Apalagi katanya, harga dari Dolog justru berada dibawah pasaran.

“Sebenarnya terbilang normal, tapi memang turun kalau dibanding musim lalu. Tapi untuk sekarang hitunganya normal, dolog itu harganya di bawah,” tuturnya.(ygi/man)