Uniknya Kerajinan Bambu Karya Anak Muda Desa Ciasem Girang

KREATIF: Anggota Pokja Kerajinan Bambu Desa Ciasem Girang saat memamerkan produk kerajinannya. YOGI MIFTAHUL FAHMI/PASUNDAN EKSPES

Ada beragam cara yang bisa dilakukan untuk memaksimalkan potensi masyarakat di desa. Dari mulai sumber daya lamanya hingga potensi manusia didalamnya. Di Dusun Margamulya Timur RT40/RW03 Desa Ciasem Girang, ada sekitar 15 orang yang bergelut dengan beragam hasil buah tangan dari bahan bambu. Dari mulai cincin, gelang hingga perahu berukuran besar untuk hiasan atau koleksi, diproduksi 15 orang yang tergabung dalam Pokja tersebut.

LAPORAN: YOGI MIFTAHUL FAHMI, Ciasem

Ditemui dilokasi pembuatan kerajinan, ketua Pokja Kerajinan Bambu Rosidi mengatakan, awal mula adanya Pokja Kerajinan bambu ini berawal dari keseharian dirinya yang sering buat kerajinan-kerajinan dari bambu. Ia sendiri sering mengikuti beragam pameran untuk memamerkan karya-karyanya. “Awalnya memang sendiri, bikin-bikin sendiri. Suka ikut pameran juga,” bebernya.

Seiring berjalannya waktu, pembuatan kerajinan bambu mulai digeluti anak muda di Ciasem Girang. Ia mengatakan, pada awalnya dari sebuah kegiatan nongkrong-nongkrong tercetuslah usul untuk membuat karya.

“Awalnya kan anak-anak sini suka nongkrong udah lama. Dari kegiatan itu terpikirkan, bagaimana agar ada kegiatan yang produktif dan menghasilkan, karena saya sudah sering buat kerajinan akhirnya kita menggeluti ini,” kata Rosidi.

Rosidi melanjutkan, karena keterbatasan alat serta modal, sementara ini baru ada 15 orang yang ikut terlibat dalam proses pembuatan beragam kerajinan dari bahan bambu tersebut.
“Orang yang terlibat banyak, tapi yang dikomunitaskan itu ada 15 orang, kita maksimalkan dulu yang 15 ini. Setelah mahir, nanti rencananya akan disebar ke setiap dusun untuk membina masyarakat yang lainnya,” beber Rosidi yang akrab disapa Didi ini.

Didi menuturkan, saat ini ada beragam jenis kerajinan yang telah diproduksi seperti cincin, gelang, sepeda, mobil, lampion, vas bunga, tempat korek, orang-orangan dan beragam produk keinginan konsumen.

“Kita terima pesanan sesuai yang pesan. Konsumen minta apa ya kita buatkan. Harus bisa. Misalnya yang cincin atau gelang kita buat tengkorak, buat kepala naga, macam-macam. Seniman itu harus bisa,” bebernya.

Untuk harga juga, Didi menyebut produk dan kesulitan menjadi faktor penentu harga. Namun sejauh ini produk kerajinan bambu dari Pokja dibandrol dari harga paling rendah Rp 15.000 hingga Rp 1 juta.

“Kalau yang paling murah itu seperti tempat untuk korek gas. Tapi ada yang belum varnish, ada yang sudah. Itu juga menentukan harga. kalau yang paling mahal seperti buat perahu yang besar untuk hiasan di rumah,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Ciasem Girang Dede Jainudin mengatakan, ia sangat mengapresiasi potensi kreativitas dalam kerajinan bambu warganya. Meski sebelumnya pernah bersentuh, namun di bawah pemerintahanya kini ia melihat kerajinan bambu merupakan potensi yang bisa dikembangkan bersama dengan Pemerintah Desa.

“Mungkin sekarang baru bambu ya, nanti bisa ke kerajinan lainnya. Ita juga saat ini sedang bekerjasama dengan salah satu LSM untuk mengembangkan kerajinan ini,” kata Dede
Menurutnya, bambu sendiri merupakan bahan yang menjadi penghasil kerajinan khas Jawa Barat seperti Angklung serta Calung. Untuk itu, ia sendiri berkomitmen untuk memajukan kretivitas dan kerajinan seni Bambu ini di Ciasem Girang.
“Saat ini kita dibina oleh LSM, juga kita ikut dalam program Baju Baja dari Provinsi Jawa Barat. Insya Allah tahun depan desa sendiri yang akan membinanya,” bebernya.

Pokja Kerajinan Bambu Ciasem Girang sendiri saat ini termasuk dalam Program Baju Baja (Bambu Juara Bambu Jawa Barat). Melalui program ini, produk kerajinan bambu Ciasem Girang bisa difasilitasi untuk masuk ke perhotelan hingga menjangkau pasar yang lebih luas. Namun, Pokja masih belum menerima tawaran tersebut. Mengapa? Nantikan edisi selanjutnya bersama inovasi serta target jangka panjang, yang diusung bersama Pemerintah Desa Ciasem Girang. Bersambung(*/vry)