Kisah Darmono, Tim Penanggulangan Bencana Daerah, Pernah Alami Hal Tak Masuk Akal

MINIKMATI PEKERJAAN: Darmono menikmati pekerjaannya sebagai tim penanggulangan bencana. YUGO EROSPRI/PASUNDAN EKSRPES

Tugas lapangan terutama dalam penanggulangan bencana banyak yang tidak terduga. Hal itu dirasakan Darmono, kepala seksi Tanggap Darurat Bencana Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (DPKPB). Bagaimana kisahnya?

LAPORAN: YUGO EROSPRI, Subang

Punya hobi traveling membuat Darmono (46) menikmati pekerjaan lapangan. Ketika ditugaskan di Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (DPKPB) dirinya begitu menjiwai.

Dalam kesehariannya, tugas utama Darmono melakukan penanggulangan bencana. Mulai dari kebakaran, longsor, banjir dan lainnya. Pekerjaannya berisiko tinggi. Hal itu sering dikhawatirkan keluarganya. “Alhamdulilah keluarga mendukung tugas saya. Memang tupoksinya berada di lapangan yaitu penanggulangan bencana,” ujarnya.

Ia mengawali karirnya di Satpol PP pada tahun 1994. Kemudian di tahun 1998 pindah tugas staf. Kemudian pernah pula menjadi Sekpri Sekda Bambang Heryanto pada tahun 2005 kemudian pindah lagi ke Dinsos pada tahun 2016. Tidak lama di Dinsos dirinya pindah menjadi Kasi Tanggap Darurat Bencana. “Karir saya mulai dari bertugas di bawah meja hingga di sekarang di lapangan sudah saya lakukan hingga saat ini,” ujarnya.

Selama bertugas di lapangan ia mengaku kerap menemui hal-hal yang unik, bahkan tidak masuk akal. Ketika terjadi banjir di Blanakan pada tahun 2017 dirinya mendatangi rumah-rumah warga yang tergenang banjir untuk dilakukan evakuasi warga.

Ia sempat mendatangi rumah semi permanen yang sudah dianggap kosong. Namun dirinya mendengar rintihan seorang ibu. Ketika didatangai ternyata benar ada ibu hamil di dalamnya dan langsung sigap membawanya karena air mulai meninggi. “Saya harus kerja ekstra cepat karena air terus meninggi. Saya ambil tindakan untuk membopong ibu hamil tersebut,” katanya.

Kejadian di mengejutkan juga pernah terjadi ketika ada bencana di daerah Ciater. Ketika itu dirinya langsung pergi ke lokasi setelah memastikan bahan bakar motornya cukup untuk pulang pergi Ciater-Subang. Tapi ketika sudah meninjau ke lokasi bencana dan bermaksud pulang, bahan bakar motornya habis sampai kering. “Padahal kondisi motor sangat baik dan tidak mengalami kebocoran ketika dipakai. Aneh juga,” ungkap Darmono.

Tapi meski demikian, ia tetap mencintai pekerjaannya. Tugasnya yang 80 persen di lapangan memang selaras adanya dengan hobinya yang senang traveling ke lokasi-lokasi terpencil. Walau akhirnya pekerjaannya menyita waktu bersama keluarga.
“Memang dua anak saya awalnya keberatan dengan waktu yang sebentar diluangkan untuk keluarga. Namun seiring adanya berjalannya waktu mereka menjadi terbiasa,” katanya.

Ia berprinsip bekerja jangan pamrih. Walau tanggung jawab berat tetap ia jalani. “Gaji PNS juga kan dari rakyat, maka kita juga harus bekerja tanpa pamrih untuk rakyat,” tandasnya.(*/man)