Kominfo-Arsip dan Perpustakaan Dicap “Dinas Buangan”

SUBANG-Seperti sudah menjadi rahasia umum di kalangan birokrat Pemda Subang, Dinas Komunikasi dan Informasi (Kominfo) seperti dicap “dinas buangan”. Tak hanya itu, Dinas Arsip dan Perpustakaan juga demikian kesannya.

Padahal Dinas Kominfo memiliki peran yang amat penting. Dalam Perbup No 54 Tahun 2016, pasal 10 dijelaskan bahwa Dinas Komifo memiliki tugas mengelola informasi publik. Kemudian di pasal 11, Dinas Kominfo juga punya tugas bagaimana harus mengelola opini publik.

Tapi, Plt Bupati Subang Ating Rusnatim menyadari bahwa Dinas Kominfo punya tugas yang vital dalam pemerintahan. Yaitu menyampaikan informasi yang diperlukan oleh masyarakat tentang pemerintahan. “Jika kita lihat, Dinas Komifo di luar Subang sudah banyak inovatif. “Di Kabupaten Subang sendiri kurang di kabupaten lain sudah banyak inovasi,” ujarnya.

Ating berharap, Dinas Kominfo mampu menunjukan inovasi bisa membangun. Ia pun berharap dinas tersebut bisa membuat kegiatan untuk bisa menangkal hoax. “Di era saat ini banyak kabar dan berita hoax yang bermunculan sehingga harus diminimalisir dan itu merupakan salah satu tugas Diskominfo,” kata Ating.

Ketua Fraksi PKS Raska juga mendorong Diskominfo Subang bisa melakukan adanya kinerja maksimal sehingga keberadaannya bisa dirasakan oleh masyarakat. Pihaknya juga mempertanyakan kegiatan apa yang sudah dikerjakan. “Kita berharap kinerjanya lebih maksimal. Apa yang sudah dilaksanakan,” ujarnya.

Sementara itu salah satu PNS di Pemkab Subang yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan, Diskominfo selama bertahun-tahun mempunyai image sebagai dinas buangan. Menurutnya, banyak PNS yang bekerja di Diskominfo mempunyai masalah ataupun kinerjanya tidak baik. “Imej Dinas Kominfo disebut dinas buangan. Banyak PNS bermasalah dan kerjanya males-malesan dibuang ke sana. “Kalau gak percaya tanya aja PNS yang lain di Subang,” ujarnya, Kamis (22/11).

BACA JUGA:  Komitmen Nol Rupiah vs Oknum Rotasi Mutasi

Tgak hanya Dinas Kominfo, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah pun bernasib sama. Kantor dinas ini selalu sepi, minim kegiatan. Keramaian hanya terlihat di Perpustakaan Daerah yang dikelolanya. Itu pun dipenuhi para pelajar yang berkunjung ke perpustakaan.

“Ya kesannya saya dibuang. Saya di mana saja siap. Kita tetap berusaha melakukan inovasi. Di daerah lain sudah berkembang. Mencari yang mahir tentang kepustakaan juga tidak mudah. Belum lagi anggaran kita yang selalu dicoret,” keluh Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan, Ade Mulyawadi beberapa waktu lalu.

Padahal ia mengakui, kondisi perpustakaan Subang belum maksimal. Pihaknya tidak punya cukup anggaran untuk membuka digitalisasi perpustakaan seperti daerah lain.

Dalam penelitian yang dilakukan Khaerudin (UPI Bandung) terhadap siswa SD, SMP, dan SMA di Kabupaten Bandung, Subang dan Purwakarta tahun 2016 minat baca para pelajar dan pemuda masih rendah. Mereka juga menilai, perpustakaan daerah masih belum berkualitas.(ygo/man)