Koperasi Jawara Diduga Tipu Ribuan Nasabah, Setor Rp 200.000 Bisa Pinjam Rp 5 Juta

TERIMA LAPORAN: Kabid Koperasi DKUPP Kabupaten Subang Suwitro menerima laporan tentang Koperasi Jawara. YUGO EROSPRI/PASUNDAN EKSPRES

SUBANG-Diduga tipu ribuan nasabahnya, DKUPP Subang akan mendatangi kantor Koperasi Jawara. Koperasi tersebut mendapatkan komplain, karena pencarian pinjaman tidak kunjung cair dari waktu yang ditentukan.

Kepala Bidang Koperasi DKUPP Kabupaten Subang Suwitro mengatakan, pihaknya mendapatkan laporan dari masyarakat Blanakan, sekitar 1.300 warga dari Dusun Karangmulya dan Dusun Mekarsari Desa Blanakan Kecamatan Blanakan, tertipu oleh Koperasi Jawara. Pihaknya akan melakukan pemanggilan terhadap para pengurus Koperasi Jawara tersebut melalui surat, namun sampai saat ini tidak ada yang datang. “Kita terima aduan dan kita langsung buat surat pemanggilan kepada pengurus, namun tidak ada yang datang,” ujarnya.

Menurut Suwitro, dari keterangan yang dilaporkan warga, sejak bulan Januari 2019 didatangi Koperasi Jawara. Masyarakat diiming-imingi bisa mencairkan pinjaman hingga Rp 5 juta, asalkan dengan syarat menyetorkan uang sekitar Rp 200 ribu untuk simpanan wajib dan simpanan pokok agar menjadi anggota Koperasi Jawara. Setelah sekitar 1.300 orang mendaftar menjadi anggota koperasi, janji pinjaman yang bisa dicairkan tidak pernah ada, bahkan melewati batas yang ditentukan.

“Jika mau masuk menjadi anggota harus bayar simpanan wajib Rp 100 ribu dan simpanan pokok Rp 100 ribu. Jika sudah masuk menjadi anggota, maka bisa mengajukan pinjaman sebesar Rp 5 jutaan. Nah sekitar 1.300 warga tersebut mendaftarkan diri pada bulan Januari 2019, namun janji pengurus Koperasi Jawara bulan Feburari bisa cair pinjaman tidak kunjung cair. Itu laporan dari warga ke pihak DKUPP,” terangnya.

Dijelaskan Suwitro, pihaknya sudah mendatanggi kantor Koperasi Jawara yang berlokasi di Kampung Cilameri RT 02 RW 01 Desa Cisaga Kecamatan Cibogo. Namun kantor tersebut, sudah tidak ada papan nama Koperasi Jawara. Menurut warga sekitar, kantor tersebut sudah pindah dan tidak ada pemberitahuan ke pihak DKUPP Subang. “Kita sambagi kantornya, namun kata warga koperasi tersebut sudah pindah. Kami kaget tidak ada pemberitahuannya,” jelasnya.

Suwitro menyayangkan, pengurus koperasi memanfaatkan momen Program Jawara yang diinisiasi Bupati dan Wakil Bupati Subang. Padahal koperasi tersebut namanya adalah koperasi produsen jajaran warga amanah adil dan sejahtera, sehingga disingkat Jawara. Warga yang awam, pastinya menyangka koperasi tersebut merupakan Program Jawara Subang, padahal bukan. Koperasi tersebut, berdiri sendiri dengan akta pendirian Nomor 17 tanggal 30 Oktober Tahun 2018. “Nama koperasi tersebut sesunguhnya adalah Koperasi Produsen Jajaran Warga Amanah, namun karena momen Jawara Subang maka pengurusnya menyingkat menjadi Koperasi Jawara, agar banyak warga Subang yang mau menjadi anggotanya,” terangnya.

Tersiar adanya kabar Koperasi Jawara, Suwitro mengungkapkan, pada bulan Januari 2019 Kepala Desa Blanakan menanyakan kepada DKUPP Subang mengenai legalitas dan juga bagaimana mekansime Koperasi Jawara. Pasalnya saat itu, warga Desa Blanakan berduyun-duyun masuk menjadi anggotanya . Padahal mekansime pemberian dana hibah ataupun pinjaman baik dana bergulir maupun konvensional, persayaratannya sekurang-kurangnya badan hukum sudah 2 tahun dan telah melaksanakan RAT. Jika dilihat dari koperasi tersebut, baru berdiri pada tahun 2018 sehingga belum memasuki syarat karena baru berdiri.

“Saya juga ditanyakan oleh Kades Blanakan pada bulan Januari 2019 tentang koperasi tersebut, karena warganya banyak yang masuk menjadi anggota, dengan menyetorkan sejumlah uang untuk menjadi anggota,” ungkapnya.

Suwitro mengimbau kepada masyarakat, untuk lebih berhati-hati dalam menerima tawaran dari lembaga ataupun koperasi. Alangkah baiknya, dikonfirmasikan dahulu ke pihak desa, kecamatan ataupun dinas teknis. Adapun yang harus diperhatikan masyarakat, cari tahu legalitasnya, status badan hukum, pendirian, lama berdiri perijinan. Kantornya milik sendiri atau mengontrak, pinjaman yang dijanjikan masuk akal tidak. “Kami imbau kepada masyarakat agar berhati-hati jika ada tawaran pinjaman ataupun masuk menjadi anggota koperasi,” imbuhnya.

Sementara itu, warga Blanakan Wahyudi (34) meminta kembali uang yang sudah disetorkan ke Koperasi Jawara sebesar Rp 200.000. Janjinya Koperasi Jawara bisa memberikan pinjaman dana sebesar Rp 5 juta, setelah 3 bulan masuk anggota. “Saya minta balik uang saya, kalo dihitung Rp200 ribu kali ribuan orang sudah berapa? Pinjaman gak kunjung ada,” tandasnya.(ygo/vry)