Letkol Budi: Sebagai Ksatria, Saya Tanggung Jawab

SIDANG LANJUTAN: Mantan Dandim Subang, Letkol Inf Budi Mawardi Syam saat menjalani persidangan, Rabu (10/4) di Pengadilan Negeri Subang. DOK PASUNDAN EKSPRES

Operasi Miras yang Berujung Mantan Dandim Duduk di Pengadilan

Ada adagium yang mengatakan bahwa tidak ada bawahan yang salah, tapi pimpinanlah yang salah. Hal itu dialami oleh mantan Dandim 0605 Subang Letkol Inf Budi Mawardi Syam. Ia harus rela duduk di Pengadilan Militer yang digelar di Subang. Penyebabnya, anggota Kodim 0605 Subang dilaporkan atas tindakan kekerasan terhadap masyarakat sipil. Tapi, sebagai seorang komandan, Letkol Budi yang harus tanggung jawab. Bagaimana ujung pangkal kasus itu?

LUKMAN NURHAKIM, Subang

Pagi itu, Senin (8/4) ada pemandangan yang tidak biasa di Pengadilan Negeri Subang. Mendadak terlihat sejumlah kendaraan militer terparkir. Kendaraan yang masuk juga diperiksa cukup ketat. Tamu yang datang harus melapor dan mengenakan tanda pengenal.

BACA JUGA:  Kawanan Bajing Loncat Dibekuk Polisi, Rampok Box Kontainer Bermuatan Biskuit

Sejumlah anggota TNI Angkatan Darat (AD) tampak duduk-duduk di sekitar Gedung Pengadilan Negeri Subang. Hari itu, untuk pertamakalinya, Pengadilan Milter meminjam tempat untuk menggelar persidangan. “Iya ini pertama PN Subang dipinjam untuk sidang militer,” tutur Satpam PN Subang.

Sejumlah perwira Kodim Subang tampak berdatangan. Sebagian dari mereka akan memberikan kesaksian dalam persidangan. Sebab, yang menjalani persidangan yaitu mantan Dandim 0605 Subang Letkol Inf Budi Mawardi Syam. Sebagai komandan Kodim, ia harus bertanggung jawab atas pelaporan dari unsur masyarakat sipil terhadap anggotanya.

Letkol Inf Budi Mawardi Syam (kedua dari kiri) saat melakukan operasi miras tahun 2016 lalu di malam Idul Fitri.

Pelapor yaitu Septian, warga Subang yang diamankan dalam operasi miras Ramadhania. Ternyata sidang ini merupakan buntut pelaporan tahun 2016 lalu ke Pomdam TNI AD. Anggota Kodim 0605 Subang dilaporkan telah melakukan tindakan kekerasan terhadap Septian dalam operasi miras Ramadhaniya tahun 2016. Hal itu sontak menjadi perhatian, sebab dalam laporannya identitas Sopian merupakan jurnalis Peduli Rakyat.

BACA JUGA:  Marak Pencurian Aset, PT LMS Gencarkan Patroli

Sidang pun bergulir. Dipimpin Hakim Ketua Kolonel Chk Moch Afandi SH MH, persidangan berusaha mengungkap kembali keterangan dari para saksi yang sudah tercantum dalam berita acara pemeriksaan (BAP). Terutama atas tindakan kekerasan dan pelaporan bahwa Septian dimasukan ke dalam sel Kodim.

Dalam persidangan terungkap bahwa tidak ada anggota Kodim yang mengaku memasukan pelapor ke dalam sel Kodim. Selain itu, pelapor juga tidak bisa menunjukkan anggota yang memasukan dirinya ke sel. Menanggapi itu, Letkol Inf Budi Mawardi memberi keterangan bahwa tidak ada perintah memasukan masyarakat terjaring operasi ke dalam sel. Apalagi tindak kekerasan. Ia pun curiga, terlapor masuk sendiri ke dalam sel dengan niatan tertentu.

BACA JUGA:  2014 Dapat Suara 40%, 2019 Jokowi Optimis Mendulang 60% Suara di Karawang

“Tidak ada perintah dimasukan ke dalam sel atau tindak kekerasan. Mereka diberi pembinaan lalu dipulangkan lagi. Itu kemungkinan masuk sendiri (ke sel). Tidak pernah dikunci, malah biasa digunakan untuk musala,” ujar Letkol Inf Budi Mawardi.