Mengerikan, Ini Kondisi Terakhir Gunung Anak Krakatau

JAKARTA – Tumpahan material vulkanis terus meluas. Ini dampak tremor Gunung Anak Krakatau (GAK) yang masih bergetar. Analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukan longsoran sampai 64,2 hektare dan terus mengalami tumpahan ke Selat Sunda.
Indikasi lain dari umpahan meterial vulkanis ini, mengakibatkan adanya potongan besar badan GAK yang hilang. Fakta-fakta tersebut ini terlihat dari data yang ditunjukan citra satelit, sebelumnya dan sesudah 11 Desember 2018.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) belum dapat memberikan gambaran secara detail terkait fenomena alam tersebut. Pasalnya tim yang ditugaskan pada area GAK hingga kemarin belum bisa mendekat. Faktor cuaca dan gelombang besar menjadi pertimbangan.
“Pemantauan terkendala. Tim harus mendekat untuk mengetahui potensi longsor di tubuh GAK, sebelum dilakukan kajian,” singkat Kepala Subbidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Barat PVMBG Kristianto, kemarin.
Sementara itu, Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono membenarkan jika, GAK terus mengalami longsor. Kondisi ini begitu terlitat baik sebelum maupun sesudah tsunami. “Area longsor kentara,” terangnya.
Material yang longsor itu, kata dia, menimbulkan getaran yang tercatat seismograf BMKG di Banten dan Lampung. Dari hasil analisis BMKG, material longsoran itu setara dengan kekuatan gempa 3,4 skala Richter (SR).
Selain pemantauan tsunami di tengah Selat Sunda yang terus dilakukan secara intens. Pemasangan peralatan pemantau seperti stasiun pasang surut di pulau sekitar GAK maupun pemantauan visual dengan penginderaan jauh diperlukan. “Ini kan banyak faktor yang bisa mengakibatkan collapse selain tumpahan material sampai faktor kemiringan lereng,” katanya.
Sementara itu, Kapusdatin dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan, tim SAR gabungan terus bergerak mencari korban. Beberapa daerah yang sebelumnya sulit dijangkau karena akses tertutup material hanyutan tsunami, sebagian sudah dapat dijangkau petugas. “Hal ini menyebabkan korban baru terus ditemukan oleh petugas tim SAR gabungan,” kata Sutopo, kemarin.
Dia mengatakan, jumlah korban dan daerah terdampak paling parah adalah pesisir Kabupaten Pandenglang. Daerah ini merupakan kawasan wisata dengan fasilitas hotel dan vila yang berderet di sepanjang pantai (lihat grafis).
Ditambah lagi, tsunami terjadi saat libur panjang sehingga banyak wisatawan menginap di hotel dan vila. Tidak adanya peringatan dini tsunami juga menyebabkan jatuh korban cukup banyak. Sebab, masyarakat tidak memiliki kesempatan untuk menghindar.
Sutopo mengatakan, jumlah pengungsi yang semula 11.453 orang, saat ini berkurang menjadi 5.361 orang. Berkurangnya pengungsi karena mereka kembali ke rumahnya. Kemarin mereka mengungsi karena isu tsunami susulan, jelasnya.
Sementara itu, Polri masih berupaya menembus daerah yang terisolir. Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menjelaskan, ada sejumlah kampung di sekitar Ujung Kulon yang terputus akses masuknya. “Jalannya rusak akibat tsunami,” tuturnya.
Hingga kemarin, sebanyak 303 personel Brimob masih berupaya menembus daerah yang belum tersentuh bantuan apapun itu. Dia mengatakan, targetnya secepatnya daerah itu bisa dibantu.
Yang juga penting dilakukan adalah menyelidiki kerusakan alat pendeteksi tsunami. Polda Banten bersama BMKG akan menelusuri peralatan mana yang mengalami kerusakan. “Kita lihat posisinya alat dimana, perairan mana,” paparnya.
Setelah itu, akan didalami kemungkinan kerusakan alat tersebut, apakah akibat alam atau manusia. “Ini yang perlu diketahui,” terangnya.
Ditambahkan, Polri juga berupaya menjaga keamanan perayaan Natal di setiap gereja di Pandeglang. “Kami tetap siapkan pasukan untuk di setiap gereja, walau lokasinya baru saja terkena tsunami,” ungkapnya.
Khusus di daerah di Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, sudah berhasil dijangkau petugas. Sebelumnya, akses terputus karena kerusakan jalan dan jembatan. Petugas dan alat berat sudah beroperasi di Sumur. Tercatat lebih dari 36 orang meninggal dunia dan 476 orang luka di Sumur. “Evakuasi akan dilanjutkan besok pagi,” terangnya
Hingga kemarin, listrik di sebagian daerah masih padam. Sebanyak 125 gardu belum berfungsi. Semula ada 150 unit gardu yang padam. Perbaikan yang dilakukan kemarin tidak optimal karena ada isu tsunami susulan. Sebanyak 187 personel dan alat berat dikerahkan untuk memulihkan jaringan PLN.
Di sisi lain, Polda Banten bersama BMKG akan menelusuri peralatan mana yang mengalami kerusakan. Setelah itu, akan didalami kemungkinan kerusakan alat tersebut, apakah akibat alam atau manusia. Polri juga terus berupaya menjaga keamanan perayaan.(tim/fin/ful)