Nasib Kerupuk Miskin Purwadadi yang Mulai Ditinggal Generasi Penerus

LESU: Siti Khodijah pembuat kerupuk sangrai khas Purwadadi yang semakin tergerus. INDRAWAN/PASUNDAN EKSPRES

Sempat Capai Omzet Rp10 Juta, Kini Tak Sampai Setengahnya

Mampu bersaing dengan makanan ringan pabrikan, kerupuk sangrai khas Purwadadi Subang atau lebih dikenal dengan istilah kerupuk miskin, kini kehilangan pengrajin penerus. Generasi ke tiga hingga ke empat dari pengrajin kerupuk sangrai, saat ini lebih memilih bekerja sebagai buruh pabrik ketimbang meneruskan usaha para pendahulunya itu.

LAPORAN: INDRAWAN, Purwadadi

Siti Khodijah, dialah generasi ke dua dari pengrajin kerupuk sangrai di Purwadadi, meski sudah tidak muda lagi dan kesehatannya yang sedikit menurun. Siti Khodijah tetap bertahan memproduksi kerupuk sangrainya dengan tiga orang pegawainya. Dia mengaku sudah tidak mampu lagi kirim kerupuk sangrai hingga jauh ke luar Pulau Jawa, dan mengandalkan kerupuk-kerupuk buatannya datang diambil oleh pelanggan khususnya.

“Kalau permintaan masih banyak, ke Anyer, ke Pangandaran, Tasik, bahkan luar Pulau Jawa sekalipun, cuma sudah tidak melayani. Pertama tidak ada yang nganternya juga, kedua ongkosnya lumayan sekarang. Jadi saat ini mengandalkan yang ambil saja, anak-anak juga sudah gak mau nerusin,” jelasnya pada Pasundan Ekspres.

Lagipula menurut Khodijah, geliat usahanya sudah tidak seperti dulu. Dalam sebulan dulu dia mendapatkan omset sekitar Rp 10 juta, sekarang tidak mencapai setengahnya. Ditambah lagi buruh kerja yang mahal.