Paguyuban Granuma Phatera Bakar Sampah jadi Paving Blok

KELOLA SAMPAH: Mesin Pengolah Sampah Komunal berbasis zero waste milik Paguyuban Granuma Phatera di Dusun Cikuda Desa Lengkong Cipeundeuy Subang. INDRAWAN SETIADI/PASUNDAN EKSPRES

Dulu Dicibir, Sekarang jadi Buah Bibir

Jika sampah saat ini menjadi persoalan. Mungkin tidak bagi warga Kampung Cikuda Desa Lengkong Kecamatan Cipeundeuy-Subang. Melalui Paguyuban Granuma Phatera, mereka berhasil membangun pengelolaan sampah komunal berbasis zero waste. sebagai solusi permasalahan lingkungan di lingkungannya. Di sana, sampah akan diproses dan dimanfaatkan.

Pembina Paguyuban Granuma Phatera, Tedi Sutendar mengatakan, pengelolan sampah secara komunalnya melalui media mesin yang diciptakan oleh Dicky Zainal Arifin, dengan sistem bakar.

“Bahan bakarnya dengan oli bekas. Jadi pengelolaan sampah ini sangat murah. Kemudian sampah yang sudah diproses bisa dimanfaatkan kembali. Diantaranya sebagai pupuk, abunya sebagai bahan baku pembuatan paving block, bahkan bisa sampai pembangkit listrik.” jelasnya.

Mengolah sampah secara mandiri yang dilakukan oleh Paguyuban Granuma Phatera ini, sudah berlangsung selama beberapa bulan sejak September tahun lalu. Hingga saat ini sudah ada sekitar 40 KK di Kampung Cikuda Desa Lengkong yang membuang sampahnya di sana.

Dari kemampuan tampung mesin sekitar 2.500 KK, salah satu pengolah sampah di sana Arifin mengungkapkan, saat ini mereka hanya konsen pada semua sampah rumah tangga. Tidak menutup kemungkinan, jika skalanya sudah besar mereka juga mampu menampung sampah industri.

“Kalau sekarang masih sampah rumah tangga. Misalkan kita ambil dari masyarakat sekitar yang sudah bermitra dengan kita, sekitar 40 KK. Kemudian disortir, mana yang bisa kita manfaatkan dan mana yang tidak, yang tidak langsung masuk ruang pembakaran,” jelasnya.

Menurutnya juga dijelaskan hanya 15 menit pertama awal pembakaran memang mengepulkan asap, namun 15 berikutnya sama sekali tidak ada asap. Setelah pembakarannya juga hanya menyisakan satu ember debu, yang bisa dijadaikan sebagai bahan dasar pembuatan Paving Blok.

“Ini hasil pembakaran hanya satu ember abu saja, dari sampah 40 KK itu. Dibuat paving blok juga hanya cukup untuk satu,” tambahnya.

Baik Tedi atau Arifin keduanya senada, bahwa mesin buatan Dicky adalah mesin yang hari ini sangat dibutuhkan oleh Kabupaten Subang. Mereka membayangkan, jika satu desa mempunyai mesin pengolahan sampah yang mereka miliki maka persoalan TPA Panembong dan penolakan TPA di Kalijati tidak akan terjadi.

“Kami juga oleh warga sekitar pada mulanya dicibir, yang mau bermitra paling hanya 10 KK, hingga sekarang sudah ada 40 KK. Tidak hanya pada warga sekitar, kami juga membuka peluang bagi desa tetangga, atau wilayah manapun yang mau bekerjasama dengan kita dalam hal pengolahan sampah ini,” tambahnya lagi.

Saat Pasundan Ekspre bertanya terkait keterlibatan Pemdes Setempat, dia menjawab bahwa sampai saat ini dirinya masih masndiri bersama paguyubannya. “Belum ada pembicaraan dengan Pemdes setempat, namun tidak menutup kemungkinan peluang tersebut akan akan terbuka bahkan bukan hanya untuk Pemdes Lengkong saja,” tandasnya.(idr/vry)