Petani Susah Beli Pupuk, Realisasi Kartu Tani Tak Jelas

INDRAWAN SETIADI/PASUNDAN EKSPRES TUNDA TANDUR: Kelompok tani di Subang, menunda Tandur mereka memutuskan untuk berburu tikus lebih dulu hingga ke sarang-sarangnya, sebelum Tandur setelah musim panen.

SUBANG-Tahun ini benar-benar tahun yang sulit bagi setiap orang apapun profesinya. Tidak terkecuali petani. Selain serangan hama yang nyaris terjadi setiap tahun, harga padi yang dimainkan tengkulak, untuk tahun ini ditambah pula dengan adanya pandemi Covid-19, dan langkanya pupuk bersubsidi.

Belum lagi kejelasan realisasi program Kartu Tani yang dicanangkan pemerintah masih juga tidak jelas. Hingga kini, Kartu Tani tersebut belum diterima petani meski mereka sudah mendaftarkan diri melalui gabungan kelompok tani (gapoktan) setempat.

Tokoh petani di Kecamatan Pagaden Barat, Ang Wahid, mengaku, dirinya dan rekan-rekan sesama petani sudah sebulan lebih mendaftar lewat gapoktan agar dapat Kartu Tani. Syarat-syaratnya seperti fotokopi KTP, KK, luasan lahan sawah dan lainnya, juga sudah komplit diserahkan.

“Tapi sampai sekarang realisasi Kartu Tani enggak ada kejelasan, kartunya belum ada terus,” jelasnya.

Dia menyebut, keberadaan Kartu Tani sangat dibutuhkan para petani di masa musim tanam rendeng ini, terlebih menjelang datangnya masa pemupukan padi. Sebab, ujar dia, informasinya Kartu Tani adalah syarat untuk bisa membeli pupuk subsidi.

Sudarman (43), salah satu petani asal Wanareja Subang mengungkapkan pada Pasundan Ekspres, jika ragam cobaan yang dialami petani pada tahun ini jika tidak dibarengi dengan perasaan sabar dan tawakal, maka bisa berakibat gangguan mental. “Kurang-kurangnya bisa gila, kalau hama tiap tahun pasti ada hama, kita juga biasa. Sama korona mah duh, sulit. Dampaknya ke harga jual, merosot turun,” ungkapnya.

Petani Butuh Beli Pupuk Subsidi

Selain itu, pupuk bersubsidi juga menjadi langka, kendati sudah diatasi oleh kelompok. Menurutnya, jika tidak terus mendesak ke intansi terkait, mungkin akan tidak kebagian juga. “Kalau pupuk kan sama kelompok diupayakan. Terus koordinasi dengan dinas. Yang paling parah ya harga sih. Kita jadi tergantung pada tengkulak yang datang dari luar kota, karena memang harganya lumayan merosot, mereka lebih tinggi sedikit berani,” tegasnya.

Petani yang lain, Herman mengungkapkan hal yang sama dengan Sudarman. Meski Herman berlokasi di bagian Barat Subang tepatnya Kalijati, namun masalah serupa juga dialami oleh Herman. Dia malah untuk panen kemarin mengaku, tidak langsung menjual seluruh hasil panennya. Selain memang harganya merosot, hasil panennya sengaja disimpan untuk keperluan sehari-hari. “Kalau dijual mah sedang jelek harganya, simpen aja buat undangan. Kebetulan saat itu sedang banyak hajatan tetangga. Ada juga sih sebagaian yang dijual,” kata Herman.

Beruntungnya meski memang pandemi masih berlangsung, saat ini pemerintah sudah berani bergerak memutuskan untuk kembali membuka kegiatan ekonomi, melalui Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB), kendati memang berlangsung belum optimal. Namun setiap orang mempunyai harapan yang sama untuk segera bangkit kembali.(idr/vry)