Produksi Teh Putih, Harganya hingga Rp3 Juta Per Kilogram

BERKHASIAT: Petani teh putih ketika memamerkan produknya dalam sebuah acara di Purwakarta. ADAM SUMARTO/PASUNDAN EKSPRES

2 dari 10 Kebun Teh Organik di Jabar ada di Purwakarta

Teh Putih sedang mahsyur. Memiliki kandungan antioksidan tiga kali lebih tinggi daripada teh hijau, teh ini dipercaya bisa membuat awet muda. Belum lagi kandungan lainnya yang pastinya syarat manfaat.

ADAM SUMARTO, Pasundan Ekspres

TEH putih sebenarnya berasal dari satu tanaman yang sama dengan teh hijau, yakni Camelia sinesis. Meski berasal dari tanaman yang sama, teh putih diambil dari daun teh yang muda dengan metode proses yang berbeda. Sehingga, menghasilkan rasa dan aroma yang unik.

Atas khasiatnya tersebut, tak heran jika Teh Putih memiliki nilai jual yang cukup tinggi. Bahkan, Teh Putih jenis organik dihargai hingga Rp3 juta per kilogramnya.

Namun siapa yang menyangka jika salah satu penghasil Teh Putih Organik terbaik adalah Kabupaten Purwakarta. Ya, kabupaten yang dikenal dengan udaranya yang gerah bin panas ini ternyata memiliki perkebunan teh organik.

Tak hanya satu, melainkan dua perkebunan teh organik. Yang lebih istimewa lagi, dua kebun teh itu telah memiliki sertifikat organik. Di Jawa Barat sendiri baru ada 10 perkebunan teh organik yang telah bersertifikat.

Kedua kebun teh organik tersebut berada di Kecamatan Bojong yang dikelola Kelompok Tani Sindang Panon dan di Kecamatan Kiarapedes yang dikelola Kelompok Tani Pusaka Mekar.
Khusus yang di Bojong, Kelompok Tani Sindang Panon sudah mampu memproduksi Teh Putih Organik yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi itu.

Ketua Kelompok Tani Sindang Panon Apud Suardi mengatakan, ada 25 petani yang tergabung ke dalam kelompoknya. Untuk luasan lahan teh organiknya adalah 15 hektare.
“Di kebun teh yang kami kelola, hanya Camelia sinesis jenis Gambung saja yang bisa menghasilkan white tea atau teh putih. Dan dari satu hektare hanya menghasilkan 2 kilogram teh putih basah,” ucapnya kepada koran ini, beberapa waktu lalu.

Ada pun sisanya, kata Apud, berupa Teh Hijau dan Teh Gelang. “Teh putih yang kami produksi berbeda dengan teh putih yang ada di pasaran. Teh putih ini sudah terkenal khasiatnya, nah, teh putih kami merupakan teh putih organik, lebih berkhasiat lagi,” kata Apud.

Dijelaskannya, Kelompok Tani Sindang Panon merintis kebun teh organik sejak 2014. Diperlukan waktu minimal lima tahun agar kebun tersebut bisa mendapatkan sertifikat organik.
“Teh putih organik kami sudah diekspor ke Korea dan Belanda. Dan beberapa Tea House di Jakarta dan Bandung menjadi pelanggan tetap kami,” ucapnya.

Apud tak memungkiri jika saat ini pihaknya mengalami kendala terkait pemasaran. “Maka dari itu, pihaknya mengharapkan bantuan dari pemerintah daerah untuk ikut mempromosikan teh organiknya,” kata Apud.

Ditemui terpisah, Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Ir H Agus R Suherlan MM menyebutkan, pemerintah daerah telah melakukan pendampingan sejak awal pembibitan hingga pemasaran.
“Kami telah menerapkan good agriculture service. Mulai dari pembenihan, pemupukan hingga pascapanen seperti teknik pemetikan, pengolahan hasil panen, pengemasan dan pemasaran,” ucap Agus, Selasa (28/1).

Untuk pemasaran teh organik, termasuk di dalamnya teh hijau, teh gelang dan teh putih, kata Agus, bisa menerapkan sistem pemasaran Manggis.

“Misal kebunnya diregistrasi pun halnya dengan eksportirnya. Jadi nyambung, mata rantai pemasaran yang panjang bisa dipangkas. Jadi mudah pula komunikasinya,” kata Agus.

Selain itu, sambung Agus, harus diperhatikan pula kuantitas dan kontinuitasnya. “Dengan kata lain, produknya harus selalu ready dan mampu memenuhi permintaan pasar,” ujarnya.
Bupati juga, kata dia, sudah membuka peluang, salah satunya dengan menggandeng Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia atau PHRI Purwakarta.

“Diperhatikan pula kemasan atau package-nya. Ini bisa dikerjasamakan dengan Dinas Perdagangan,” kata Agus.(*/vry)