Santri dan Warga Nahdliyin Turun ke Jalan Tuntut Fadli Zon Minta Maaf

LONG MARCH: Ribuan santri dan warga Nahdliyin melakukan aksi long march dalam aksi bela Mbah Moen atau KH. Maimun Zubair sesepuh PBNU, akibat puisi Doa yang Ditukar. USEP SAEFULOH/PASUNDAN EKSPRES

KARAWANG-Ribuan santri dan warga Nahdliyin turun ke jalan, menggelar aksi bela Mbah Moen atau KH. Maimun Zubair sesepuh PBNU. Selain itu aksi, PCNU Karawang bakal melaporkan Fadli Zon ke Polres Karawang terkait puisinya yang berjudul ‘Doa yang Ditukar’ jika politisi gerindra itu tidak meminta maaf.

Aksi long march yang digelar santri dan warga Nahdliyin itu sempat membuat kemacetan. Aksi yang dipicu oleh puisi yang diunggah oleh Fadli Zon dalam twitter, menuai protes dari berbagai daerah di Indonesia, tak terkecuali di Karawang.
Dalam aksi itu, Ketua PCNU Karawang, Ahmad Ruhyat Hasby, menyatakan rencananya untuk melaporkan Fadli Zon ke Mapolres di sini terkait puisi ‘Doa yang Ditukar’ jika politisi Gerindra tersebut tidak meminta maaf.

“Kita akan melaporkan Fadli Zon melalui Polres Karawang untuk diteruskan ke Mabes Polri,” ujar Ahmad saat melakukan orasi di depan kentor Pemkab Karawang, Jumat (15/2).

Lebih lanjut Ahmad Ruhyat atau biasa akrab disapa Kang Uyan ini menegaskan, bahwa Mbah Maimoen bukan hanya milik keluarga, tapi milik para santri NU. “Seluruh Nahdliyin Karawang tersinggung dan sakit hati atas puisi yang menghina kyai kami. Kami ini santri, muridnya Mbah Maimoen,” tandasnya.

Selama Fadli Zon tidak merespon tuntutannya untuk meminta maaf yang disiarkan melalui media massa nasional, Kang Uyan pastikan, warga Nahdliyin akan terus menggelar aksi unjuk rasa di seluruh Nusantara.

Dalam aksi pertamanya, kalangan santri NU bersama Banser dan kader-kader NU di daerah ini, bergerak dari Sekretariat PCNU di Jalan Dewi Sartika menuju Pemda Karawang di Jalan Ahmad Yani. Usai berorasi mereka bergerak menuju alun-alun depan Masjid Agung.

Dari informasi yang dihimpun, dikabarkan muncul pernyataan anak Mbah Moen, KH Majid Kamil MZ atau Gus Kamil, yang meminta para santri menghentikan polemik puisi ‘Doa yang Ditukar’ buatan Fadli Zon. Alasannya, jangan sampai mempengaruhi stabilitas keamanan di tahun politik menuju pelaksanaan Pemilu 2019.(use/vry)