Sekda: TPA Seharusnya Dipindahkan sejak 1996

PENCEMARAN: TPA Panembong sudah overload bahkan mencemari sungai Cileuleuy di musim hujan saat ini. Pemda berencana pada 1 Februari akan memindahkan TPA ke Cipeundeuy, dan menandakan berkahirnya penggunaan TPA Panembong. DOK. PASUNDAN EKSPRES

SUBANG-Pemkab Subang memastikan pemindahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Panembong Subang dilakukan pada 1 Februari. Sebab berdasarkan aturan, seharusnya sudah dipindahkan sejak tahun 1996. Sudah tidak layak.

Hal itu pula yang diduga menjadi penyebab ambrolnya sampah di TPA hingga terbawa aliran sungai. Mencemari puluhan hectare sawah di Kelurahan Wanareja. Selain dipicu hujan deras hingga aliran Sungai Cileuleuy meluap dan membawa sampah.

“Kita lihat aturan sebagai dasarnya TPA dipindahkan. Seharusnya sudah pindah sejak tahun 1996. Baru sekarang dieksekusi. Pa Bupati bergerak cepat sudah berkoordinasi dengan berbagai pihak. Tentu masyarakat jangan khawatir, kami melakukan kajian dan memperhatikan aturan,” ujar Sekda Aminudin, kemarin.

BACA JUGA: Jalan Rusak, Truck Proyek Pelabuhan Patimban Terbalik

Menurutnya, pihaknya melakukan berbagai cara dengan melakukan pendekatan dan sosialisasi kepada masyarakat. Sehingga memahami tujuan lebih besar dari pemindahan TPA Panembong. Pemerintah memaklumi jika ada masyarakat yang menolak karena masalah bau sampah.

Menurut Amin, bau sampah tidak bisa dihindari. Tetapi dirinya berharap masyarakat memaklumi dan mengerti dilematis pemerintah. Sebab, jika TPA Panembong dibiarkan tetap akan membahayakan.

“Kami juga dilematis dan memperhatikan keberatan dari masyarkat. Tapi kami berharap masyarakat juga memahami. Kami tidak akan asal membuang sampah. Tapi akan mengolahnya dengan baik. Selain itu, kehadiran TPA sebenarnya akan memiliki manfaat ekonomis bagi masyarakat,” papar Aminudin.

Lebih jauh Amin menjelaskan, ada prosedur dan aturan dalam memindahkan TPA. Pemerintah akan menempuh keseluruhan prosedur tersebut. Sementara dari sisi anggaran, ia mengakui saat ini belum ke tahap pengolahan dengan pendekatan teknologi.

“Dari sisi anggaran baru operasional. Kedepannya akan kita olah sedemikian rupa dengan teknologi. Bisa menghasilkan banyak manfaat,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Lembaga Advokasi Masyarakat Subang (LAM-S), Drs Yaya Sudarya mengatakan, melihat kondisi TPA Panembong Subang yang terjadi longsoran sampah ke sungai Cileuleuy dan mengakibatkan bencana bagi pemilik sawah di Kelurahan Wanareja cukup prihatin.

Bahkan atas kejadian itu Bupati Subang dan diikuti oleh dinas serta aktivis pegiat lingkungan hidup membersihkan sampah tersebut.

Dia mengatakan, kondisi tersebut dampak dari salah urusnya pengelolaan TPA Panembong. Namun demikian, pihaknya mengapresiasi positif atas pernyataan bupati yang akan memindahkan TPA di wilayah Kabupaten Subang ke lahan baru.
“Pemindahan TPA ke Jalupang Kecamatan Kalijati, cukup berani dan memang kondisinya sudah overload. Perlu segera pemindahan TPA dari Panembong subang Kelurahan Parung ke Jalupang,” jelasnya.

Dia mengatakan, bupati cukup cepat tanggap melihat kondisi tersebut sehingga selain perbaikan di lokasi TPA Panembong juga ditetapkan dengan segera lokasi baru TPA.

“Catatan kami bahwa dalam proses pemindahan terlebih dahulu dilakukan kajian lingkungan dan penentuan teknologi yang diambil Pemkab Subang dalam hal ini DLH pada lokasi baru,” ujarnya.

Kajian tersebut, kata dia, dengan prespektif pengelolaan yang mana ada proses pengolahan sampah di lokasi yang baru tersebut. Sehingga lokasi tersebut bukankan tempat pembuangan, akan tetapi tempat pemrosesan sampah se Kabupaten Subang.

“Selain itu juga harus dilakukan gerakan pemilahan sampah dari rumah yang kemudian sudah terpilah baik sampah organik, sampah an organik dan sampah b3 (bila ada),” ujarnya.
Kata dia, juga sampah yang dihasilkan dari pabrik-pabrik yang ada di Kabupaten Subang harus juga memberikan kontribusi lebih setiap perusahaan sehingga beban pengelolaan sampah tidak hanya menjadi beban pemkab dan masyarakat.

Dia mengatakan, warga perlu diberikan sosialisasi secara utuh. Pilihan TPA baru diambil secara cepat dan berani karena lahan-lahan yang dimungkinkan menjadi alternatif terbaik dari mulai geografis dan akses jalan dan ketersediaan lahan. “Karena dulu pernah dicoba di wilayah Kecamatan Cibogo tapi dekat sekali dengan Sungai Cilamatan dan tak akan merubah kondisi seperti di Panembong,” ujarnya.

Kemudian, tempat di Cikuda Desa Lengkong Cipeundeuya, ketersediaan lahanya kurang. Banggala Mulya, medan jalanya dan luas lahannya dianggap kurang. Kemudian diambil yang di daerah Jalupang yang merupakan lahan perkebunan dan perhutani.
Dia merasa, penting sosialisasi pemahaman dalam pengelolaan sampah. Ketika Pemkab punya visioner dalam pengelolaan sampah dengan teknologi dan manajemen pengelolaan sampah daerah bisa jadi berkah bagi warga yang dekat dengan tpa bukan menjadi bencana.

“Pentingnya UPTD TPA yang memiliki rencana aksi yang bisa memahamkan bahwa sampah itu bukan barang yang menjijikan. Akan tetapi akan membawa nilai ekonomis lebih bagi mata pencaharian tambahan warga sekitar, asal pengelolaanya sesuai dengan aspek teknis dan manajeman modern,” pungkasnya.(man/ysp/vry)