PSK Janem Datang dari Berbagai Daerah, Termasuk Eks Cilodong Purwakarta

Kawasan prostitusi Janem, Pantura Subang

TOKOH masyarakat Kang Jangkung mengingat, penyebutan warung remang-remang di kawasan Pantura Subang yang kini disebut Janem, karena dulu warung tersebut tidak memakai listrik. Hanya memakai patromak. “Dulu itu gak ada musik apa cuma lampu aja, musik mah 2012  ke sini,” jelasnya.

Bahkan, warung yang ada saat inipun bisa dibilang merupakan generasi baru. Sebab warung lama ada yang sudah ditinggal pemiliknya, dijual serta dilakukan perehaban. “Warung yang dulu sudah gak ada, ganti generasi. Ada sih yang lama tapi gak aktif,” tambahnya.

Ia menjelaskan saat ini jumlah warung yang aktif jumlahnya mencapai hampir 70 warung. “Sekarang ada lah 70 ya yang aktif tapi itupun ada yang warung nasi atau model pecel gitu, jadi campur,” imbuhnya.

“Ada yang satu warung pelayannya dua, ada yang empat tapi tergantung warungnya sih, fasilitasnya gimana, pelayananya gimana, pinter-pinter layani tamu aja,” jelasnya.

Menurutnya, para pelayan ini sebagian beralaih profesi bahkan sekarang cenderung identik sebagai pekerja seks komersial (PSK). Mereka memberikan pelayanan plus-plus. Tidak selalu untuk para pengguna jalan, ada juga yang kemudian sengaja datang ke sana untuk mendapatkan kepuasaan sesaat.

Saat ini, jumlah PSK berdasarkan data yang dimiliki Yayasan Resik mencapai lebih dari 110 orang. “Data PSK yang tetap itu, tapi kan kadang ada freelance gitu, siang ada malamnya tidak ada atau sebaliknya, nah yang freelance ini yang datanya susah,” ucap Kang Jangkung.

Ia juga menyebutkan bahwa dari PSK yang ada di Janem ini tidak hanya berasal dari Subang atau warga lokal akan tetapi PSK di kota-kota lain seperti Bekasi, Purwakarta, Sumedang, Banten serta Indramayu juga ada di Janem. “Engga hanya dari Subang ada yang dari Kota lain juga, ya kalau usaha gini kan kadang pindah-pindah ya gimana ramenya, kalau di sini sepi pindah kemana” terangnya.

BACA JUGA:  150 Santri Ikuti Pelatihan Kyai Muda yang Digelar Majlis Dzikir dan Rijalul Ansor

Meski demikian, Kang jangkung menyebut saat ini kunjungan ke Janem terbilang menurun semenjak ada Jalan tol. Bahkan sebelum tol ada yang biasanya satu warung bisa diisi 7-8 orang pelayan, kini jumlahnya semakin menurun.

“Ramainya itu tahun 2010 kesini sampai 2014-2015-an, mulai banyak sopir istirahat di sini. Tapi sekarang udah ada jalan tol lari ke tol, seolah-olah sekarang ini pada sepi,” jelasnya.