Bantu Petani, ASN Wajib Beli Produk Pertanian

PACKING: Petani menyiapkan sayuran untuk pengiriman pesanan ASN dilingkungan Pemkab Bandung Barat. EKO SETIONO/PASUNDAN EKSPRES

LEMBANG-Upaya menangani anjloknya harga komoditas sayuran, pemerintah telah melakukan terobosan, yakni dengan mengimbau para Aparatur Sipil Negara (ASN) Bandung Barat untuk membeli sayuran.

Koordinator Penyuluh Pertanian Lembang, Darwin, mengapresiasi program pemerintah tersebut. Pasalnya, telah membantu para petani yang kesulitan menjual sayuran sebagai komoditas pertanian.

Diketahui, harga anjlok disebabkan karena adanya beberapa sektor usaha yang lumpuh akibat adanya pandemi Covid 19. “Kegiatan ini, peranan pemerintah terasa. Meski belum bisa semua terbantu karena tergantung PO pesanan,” ujar Darwin kepada Pasundan EKspres, Rabu (23/9).

Darwin mengatakan, meskipun tidak semua jenis komoditas, namun program yang digulirkan pemerintah telah membantu para petani. Saat ini yang dibantu pembelianya adalah komoditas yang nilainya sangat anjlok. “Ini udah dua kali PO. Kalo yang pertama semua komoditas, namun saat ini sudah ada beberapa komoditas yang harganya mulai merangkak,” paparnya.

Bupati Bandung Barat Aa Umbara Sutisna mengatakan, dampak dari PSBB di DKI Jakarta menyebabkan pemasaran sayuran menjadi terhambat. Akibatnya barang melimpah sementara harga anjlok.

Oleh karena itu, Umbara mengatakan, pemerintah memberikan solusi agar para ASN di KBB diimbau untuk membeli sayuran hasil petani Bandung Barat. “Pertanian sangat terdampak tidak laku, Kita ASN membeli paket pertanian sudah 1.000 paket,” ujarnya.

Sebelumnya, sejumlah petani membagikan tomat gratis di Jalan Grand Hotel Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Mereka membagikan secara cuma-cuma hasil panennya karena harga yang anjlok.

Aksi itu dilakukan karena saat itu harga sayuran khususnya tomat sangat murah di bawah Rp500/kilogram akibat daya beli masyarakat rendah di tengah pandemi.

Anjloknya harga sayuran jenis ini sangat memukul petani seperti dirinya. Sebab harus mengeluarkan uang yang sangat besar. Menurut dia, panen di masa sekarang adalah paling buruk dirasakannya. “Biasanya kalau tiap panen harga pasti anjlok, tapi yang dirasakan sekarang lebih parah. Akibat korona, distribusi sayuran ke wilayah Jakarta jadi tersendat,” bebernya.

Pada masa panen kali ini dia mengaku harus menanggung kerugian hingga ratusan juta rupiah karena tomat tidak laku dijual. Sedangkan harga jual tak sebanding dengan biaya mulai dari membeli bibit, pupuk, perawatan hingga ongkos pekerja.

“Mungkin tidak hanya di Lembang, tapi petani di seluruh Indonesia sekarang sedang rugi besar, padahal hasil panen sedang bagus dan melimpah ruah. Jadi, daripada dibiarkan di kebun, lebih baik dibagikan kepada pengguna jalan,” jelasnya.(eko/sep)