Banyak Petani Gulung Tikar, Harga Cabai Terjun Bebas Hingga Rp5.000 Per Kg

RUGI: Cabai merah hasil panen para petani di Kecamatan Sindangkerta, hanya dihargai Rp5.000-Rp10.000/kg. EKO SETIONO/PASUNDAN EKSPRES

BANDUNG BARAT-Petani Cabai di Komunitas Petani Cabai Nusantara menjerit. Pasalnya, harga cabai turun menukik, sehingga petani cabai hampir terpuruk.
Diketahui, pada tahun lalu, harga cabai dari petani mencapai Rp20.000- Rp26.000/kg dan untuk harga konsumen sekitar Rp30.000/kg.

Namun pada tahun ini, harga dari dari petani menurun drastis hingga mencapai Rp5.000/kg – Rp10.000/kg, atau menurun 50 hingga 75 persen. Bahkan harga cabai rawit di tawar cuma di angka 2000/kg – 4000/kg.

Hal ini di ungkapkan oleh Jhon Mukmin Kusnendar, Penggerak Pertanian di Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang juga merupakan Ketua Sinarhati – Komunitas Titahbumi yang berlokasi di Kampung Cipetir RT02 RW05 Desa Pasirpogor, Kecamatan Sindangkerta yang di hubungi pada Selasa (09/06).

Mukmin mengungkapkan, di Komunitas Petani Cabai Nusantara, semua para petani mengeluh dengan menurunnya harga cabai kali ini. “Memang harga sangat variatif dari petani, tapi pada umumnya dengan harga Rp5.000 – Rp10.000/kg, petani menjadi terpuruk”, jelas Jhon panggilan akrabnya.

Menurutnya, hal ini sangat berpengaruh besar bagi petani karena Harga Pokok Penjualan (HPP) perpohon cabai merah besar Rp6.000/pohon dengan asumsi 1 pohon tanaman cabai menghasilkan 1 kg. Sehingga dengan nilai jual Rp5.000/kg bagaimana bisa kembali modal? Jika modal terbatas sangat terasa saat harga terjun bebas tidak bisa melanjutkan lagi bertani karena tidak bisa mengembalikan modal.

“Jangankan untung, untuk balik modal aaja sulit dicapai sehingga banyak para petani cabai bangkrut saat ini terutama di wilayah selatan KBB. Serba salah memang, kalau di jual gak ada untung, kalau gak dijual juga sayang. Yang bisa dilakukan saat ini tetap bertahan menjaga cabai dengan harapan harga membaik di pasaran”, tutur Jhon kembali.

BACA JUGA:  Bulog Launching Program untuk Stabilkan Harga

Ditambahkannya, kemungkinan penyebab kejadian ini adalah adanya kesamaan kalender penanaman sehingga banjir produksi. Namun hal ini tidak berpengaruh besar karena ada komunikasi dalam hal kalender penanaman dari beberapa daerah melalui informasi Komunitas.

Kemungkinan selanjutnya adalah kondisi pandemi Covid-19 yang membatasi ruang gerak penjualan petani. Memang ada beberapa produk yang memang harga menjadi bagus dalam kondisi pandemi, tapi sebagian lainnya lebih banyak sulit untuk menjual.

“Harapan kami (petani cabai) ada campur tangan Pemerintah dalam kesetabilan harga dan kontrol pasar, atau ada solusi untuk para petani yang modalnya pas-pasan supaya tetap bisa eksis bertani dengan adanya modal yang dimiliki”, pungkasnya.(eko/sep)